JAKARTA, KOMPAS.com - Harga minyak mentah dunia masih bertahan di atas 100 dollar AS per barel meski sempat melemah pada Jumat (waktu setempat), di tengah terganggunya infrastruktur energi di Timur Tengah dan belum pulihnya jalur vital Selat Hormuz.
Bank investasi Goldman Sachs bahkan memperkirakan tren harga minyak tinggi ini bisa berlangsung hingga 2027.
Harga minyak Brent, acuan global, kini berada di level 112.25 dollar AS per barrel pada perdagangan Senin (23/3/2026) pukul 9.20 WIB. Sementara harga minyak mentah AS berada di level 98,79 dollar AS per barrel.
Analis Goldman Sachs menyebut, rangkaian guncangan pasokan akibat memanasnya konflik di Timur Tengah menunjukkan adanya risiko harga minyak tetap tinggi dalam jangka panjang.
"Harga minyak mungkin tetap di atas 100 dollar AS untuk waktu yang lebih lama, terutama dalam skenario gangguan yang berkepanjangan dan kehilangan pasokan yang signifikan," tulis analis Goldman Sachs dalam catatannya.
Baca juga: AS-Iran Saling Ancam, Krisis Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia
Pergerakan harga minyak mentah saat ini turut dipengaruhi upaya pemerintah Amerika Serikat (AS) di bawah Donald Trump untuk meningkatkan produksi dalam negeri, sehingga menciptakan sedikit perbedaan antara harga minyak AS dan Brent.
AS sendiri merupakan produsen minyak terbesar dunia, yang membuatnya relatif lebih tahan terhadap gangguan pasokan global, meski tidak sepenuhnya kebal, menurut catatan analis Deutsche Bank.
Konflik geopolitik tentunya paling memicu volatilitas harga. Pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menyebut tidak akan kembali menyerang fasilitas energi utama Iran sempat menahan kenaikan harga pada Jumat, akhir perdagangan pekan lalu.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Diperkirakan “Menggila” Awal Pekan Ini
Sebelumnya, serangan Israel ke ladang gas South Pars milik Iran memicu serangan balasan ke fasilitas gas alam cair Ras Laffan di Qatar, yang merupakan terbesar di dunia, sehingga mendorong lonjakan harga minyak pada awal pekan lalu.
Memasuki pekan keempat sejak konflik dimulai 28 Februari 2026, situasi belum menunjukkan tanda mereda. Negara-negara di Timur Tengah dilaporkan terus mencegat serangan drone dan rudal.
Selat Hormuz, jalur sempit antara Iran dan Oman yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, praktis tertutup setidaknya selama 19 hari terakhir.
Sumber keamanan Iran menegaskan jalur tersebut tidak akan kembali normal dalam waktu dekat.
"Selat ini tidak akan kembali ke kondisi sebelum perang,” ujar sumber tersebut kepada CNN.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Melemah Usai AS Pertimbangkan Lepas Minyak Iran