KOMPAS.com - Otoritas Iran melalui perwakilannya di badan maritim PBB (IMO) Ali Mousavi memberikan pernyataan resmi mengenai status selat Hormuz.
Mousavi menegaskan bahwa celah perairan sempit itu tetap terbuka bagi pelayaran internasional. Akan tetapi, kapal-kapal yang dianggap Teheran musuh dilarang melintas.
"Selat Hormuz terbuka untuk siapa saja, kecuali ‘musuh’,” kata Mousavi, dikutip dari agensi berita Iran Mehr yang dilansir Kompas.com, Minggu (22/3/2026).
Baca juga: AS-Iran Saling Ancam, Krisis Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia
Meski demikian, kapal-kapal yang tak ada sangkut pautnya dengan musuh, tetap melapor lebih dulu dengan otoritas di sana untuk memperoleh izin melintas.
"Keamanan kapal dan seluruh awaknya memerlukan koordinasi dengan pihak berwenang Iran," beber Mousavi.
Dirinya menambahkan, Iran siap bekerja sama dengan IMO negara lainnya untuk memberikan izin melintas di Selat Hormuz.
Diplomasi dan negosiasi merupakan prioritas utama Teheran.
Tentunya, Pemerintah Indonesia harus segera merespons keputusan Iran di IMO ini.
Baca juga: Harga Bitcoin Turun ke 69.200 Dollar AS, Ultimatum Trump ke Iran Picu Volatilitas
Dibukanya Selat Hormuz secara terbatas memberikan angin segar kepada negara-negara di dunia.
Sebelumnya, Pemerintah Indonesia sudah bernegosiasi dengan otoritas Iran terkait dua kapal Pertamina yang masih tertahan di Teluk Arab, yakni PIS Gamsunoro dan VLCC Pertamina Pride.
"Ada dua kapal, dua kargo. Itu masih dalam negosiasi, insya Allah sebentar lagi selesai. Sebentar lagi selesai. Doain, ya," jelas Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, dilansir dari Antara, Selasa (10/3/2026).
Baca juga: AS Buka Keran Minyak Iran Sebulan, Pasokan Belum Tentu Mengalir
Sementara itu, akun resmi Instagram @pertaminainternationalshipping belum memberikan update informasi mengenai status kedua kapalnya yang belum bisa melewati Selat Hormuz.
"Hingga 12 Maret 2026, kapal Pertamina Pride dan Gamsunoro masih berada di Teluk Arab dan belum dapat melewati Selar Hormuz. Keduanya dalam kondisi aman dan terus dalam pemantauan intensif," jelasnya.
VLCC Pertamina Pride bertugas untuk pemenuhan energi nasional, sedangkan Gamsunoro melayani pihak ketiga (non-Pertamina).
Baca juga: Harga Energi Melonjak, AS Izinkan Penjualan Minyak Iran di Laut
Para Menteri Luar Negeri negara G7 yang terdiri dari Kanada, Perancis, Italia, Jepang, Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat (AS) memutuskan untuk ikut mengamankan pelayaran di Selat Hormuz.
G7 siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan di sana guna memperlancar arus lalu lalang kapal.
"Kami menegaskan kembali pentingnya pengamanan jalur maritim, dan keselamatan navigasi, termasuk di Selat Hormuz dan semua jalur air penting terkait, serta keselamatan dan keamanan rantai pasokan dan stabilitas pasar energi," jelas pernyataan resmi gov.uk, Sabtu (21/3/2026).
G7 berulang kali mengutuk serangan sembrono rezim Iran terhadap warga dan infrastruktur sipil milik Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania, dan Irak, sesuai dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2817.
Baca juga: AS Longgarkan Sanksi Minyak Iran Selama 30 Hari demi Stabilkan Harga
Artikel ini pernah tayang di Kompas.com dengan judul "Iran "Buka" Selat Hormuz, Kapal Afiliasi Musuh Tetap Dilarang Melintas" dan "Pemerintah Negosiasi Agar Dua Kapal Pertamina Lolos dari Teluk Arab, Bahlil: Doain, ya"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang