Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com — Perusahaan minyak negara Arab Saudi, Saudi Aramco, dilaporkan memangkas alokasi pasokan minyak mentah ke pembeli di Asia untuk pengapalan April 2026.
Dikutip dari Reuters, Senin (23/3/2026), kebijakan ini diambil di tengah gangguan jalur perdagangan energi global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang memengaruhi arus pengiriman melalui Selat Hormuz.
Sumber perdagangan yang mengetahui kebijakan tersebut mengatakan Aramco memberi tahu sedikitnya dua pembeli di Asia bahwa mereka hanya dapat mengangkat minyak mentah jenis Arab Light dari terminal Laut Merah di Yanbu untuk kontrak April 2026.
Baca juga: Harga Minyak Bergejolak, Ketegangan AS-Iran Masih Bayangi Pasar Energi Global
Ilustrasi perusahaan minyak Arab Saudi, Saudi Aramco.Kebijakan ini berpotensi memperketat pasokan bagi kilang di kawasan tersebut serta membatasi kapasitas produksi produk olahan.
Langkah ini menandai bulan kedua berturut-turut perusahaan menekan pengiriman ke Asia, sekaligus mencerminkan dampak langsung gangguan jalur ekspor utama di Teluk akibat meningkatnya risiko keamanan pelayaran.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pengiriman energi paling vital di dunia, dan gangguan di kawasan ini telah memicu perubahan strategi logistik sejumlah eksportir minyak utama.
Mengutip MarketWatch, Arab Saudi, sebagai eksportir minyak terbesar dunia, meningkatkan penggunaan jaringan pipa timur-barat untuk mengalihkan pengiriman dari Teluk ke pelabuhan Laut Merah di Yanbu.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Melonjak Jelang Tenggat Ultimatum Trump ke Iran
Pengalihan jalur ini memungkinkan ekspor tetap berlangsung meski lalu lintas tanker di Selat Hormuz terganggu.
Namun, kapasitas jalur alternatif tetap terbatas dan rentan terhadap serangan, sebagaimana ditunjukkan oleh insiden drone di sekitar fasilitas Yanbu.
Ilustrasi Selat Hormuz.Dalam beberapa pekan terakhir, puluhan kapal tanker disebut menunggu muatan di pelabuhan tersebut.
Ekspor melalui Yanbu melonjak mendekati 3 juta barrel per hari (bph), jauh lebih tinggi dibandingkan sekitar 750.000 bph sebelumnya.
Baca juga: Harga Emas Dunia Anjlok ke Level Terendah 4 Bulan saat Harga Minyak Naik
Lonjakan aktivitas ini menunjukkan upaya Arab Saudi mempertahankan aliran ekspor di tengah tekanan geopolitik.
Meski demikian, keterbatasan infrastruktur dan risiko keamanan menimbulkan ketidakpastian terhadap kelangsungan pasokan global.
Data pelacakan pengapalan menunjukkan ekspor minyak mentah Arab Saudi turun signifikan pada Maret 2026.
Menurut firma analitik Kpler, pengiriman merosot dari sekitar 7,108 juta bph pada Februari menjadi 4,355 juta bph pada Maret 2026.
Baca juga: Ultimatum Trump ke Iran Buat Harga Minyak Makin Mendidih, Bertahan hingga 2027?