Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com - Harga emas dunia mengalami tekanan tajam dalam beberapa hari terakhir seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi global.
Penurunan ini terjadi di tengah perubahan ekspektasi kebijakan moneter global, penguatan dollar AS, serta kenaikan imbal hasil obligasi yang mengurangi daya tarik logam mulia sebagai aset lindung nilai.
Dikutip dari Reuters, Senin (23/3/2026), harga emas dunia di pasar spot pada awal pekan ini turun lebih dari 2 persen dan menyentuh level terendah dalam hampir empat bulan.
Baca juga: Harga Energi Melonjak: Peluang Emas Tambang Indonesia
Ilustrasi emas. Perang di Timur Tengah mengganggu penerbangan dari Dubai, membuat pedagang menawarkan diskon emas hingga 30 dollar AS per ons.Dalam perdagangan terakhir, emas diperdagangkan di kisaran 4.366,94 dollar AS per ons, sekaligus memperpanjang tren pelemahan yang telah berlangsung selama sembilan sesi berturut-turut.
Secara kumulatif, harga emas dunia tercatat merosot lebih dari 10 persen dalam sepekan terakhir.
Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April 2026 bahkan turun lebih dalam hingga sekitar 4,5 persen, menandakan tekanan jual yang kuat di pasar derivatif komoditas.
Pelemahan harga emas dunia terjadi bersamaan dengan eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel.
Baca juga: Update Harga Emas Antam Hari Ini 23 Maret 2026, Turun Rp 50.000
Ketegangan geopolitik tersebut memicu lonjakan harga minyak global, yang pada gilirannya meningkatkan kekhawatiran inflasi di berbagai negara.
Harga acuan minyak mentah Brent, misalnya, dilaporkan bergerak di atas level 110 dollar AS per barrel seiring kekhawatiran gangguan pasokan energi di kawasan Teluk.
Kenaikan harga energi yang signifikan ini membuat pelaku pasar mulai mengubah ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter bank sentral utama.
Ilustrasi emas batangan, harga emas hari ini. Jika sebelumnya investor memperkirakan penurunan suku bunga, kini sebagian pelaku pasar justru mulai memperhitungkan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter lanjutan.
Baca juga: Harga Emas Dunia Anjlok 11 Persen Sepekan, Kehilangan Daya Tarik?
Perubahan ekspektasi tersebut menjadi faktor penting yang menekan harga emas.
Logam mulia secara historis dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, tetapi kenaikan suku bunga dapat menurunkan daya tariknya karena emas tidak memberikan imbal hasil.
Di sisi lain, konflik yang berkepanjangan juga memicu lonjakan biaya energi global.
Dikutip dari The Economic Times, harga minyak dunia melonjak hingga 50 persen sejak awal konflik, memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan inflasi dapat berlangsung lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
Baca juga: Rincian Harga Emas Antam di Pegadaian 23 Maret 2026