JAKARTA, KOMPAS.com - Konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran berpotensi meningkatkan harga energi, termasuk batu bara.
Sekretaris Jenderal Indonesian Mining Association Tony Wenas menjelaskan, secara umum dampak dari konflik geopolitik tersebut tidak hanya berpengaruh pada batu bara, tetapi pada hasil tambang secara keseluruhan.
Peningkatan harga energi termasuk yang berasal dari hasil tambang ini juga didorong oleh peningkatan permintaan.
Baca juga: BUMI Targetkan Tambang Tembaga dan Emas Wolfram Beroperasi Tahun Ini
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI) Tony Wenas saat ditemui usai acara CEO Connect di Menara Kompas, Jakarta, Selasa (21/10/2022). "Jadi timing-nya tepat sebenarnya. Sekarang supaya dapat memberikan devisa, pemasukkan bagi negara itu kemudian diberikan keleluasaan untuk meningkatkan produksi atau melakukan ekspor juga," kata dia ketika ditemui akhir pekan lalu di Jakarta.
Pria yang menjabat sebagai Presiden Direktur PT Freeport Indonesia tersebut juga mengungkapkan, kebijakan tersebut dapat memberikan keuntungan bagi negara dan juga perusahaan sekaligus.
"Kan ini negara juga untung, perusahaan juga untung. Ya harganya naik ini karena demand-nya naik," imbuh dia.
Ia menjelaskan, kenaikan permintaan dari hasil tambang ini terjadi secara menyeluruh di pasar internasional.
Baca juga: Tambang Emas Pani Mulai Produksi, Merdeka Gold Resources (EMAS) Bidik Laba 2026
Oleh karena itu, Indonesia diharapkan dapat mengambil peluang di waktu yang tepat.
"Ini kan international market, jadi memang demand-nya naik, maka harganya naik. Jadi memang satu timing yang tepat sebenarnya bagi Indonesia," terang dia.
Secara umum, Tony bilang, situasi yang terjadi di Timur Tengah memberikan rentetan dampak ke berbagai sektor, terutama ketersediaan energi.
Dampak dari perang Iran tersebut juga akan dirasakan oleh perusahaan di Tanah Air.
Baca juga: Kebun Kakao di Afrika Jadi Tambang, Wamentan Sebut Harga Kakao Global Naik
Namun demikian, Tony bilang, tiap perusahaan memiliki strategi untuk menanggulangi risiko tersebut.
"Kalau dari dampak ke perusahaan pasti akan berdampak, tapi kita akan coba memitigasinya," tutup dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang