Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harga Emas Dunia Anjlok 11 Persen Sepekan, Kehilangan Daya Tarik?

Kompas.com, 23 Maret 2026, 07:22 WIB
Suparjo Ramalan ,
Aprillia Ika

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Harga emas dunia mengalami tekanan tajam di tengah memanasnya konflik di Iran yang mengganggu arus minyak global dan memicu lonjakan harga energi.

Alih-alih menjadi aset lindung nilai, emas justru tertekan seiring perubahan ekspektasi suku bunga dan penguatan dollar AS.

Dikutip dari CNN, Minggu (22/3/2026), sepanjang pekan kemarin harga emas anjlok hingga 11 persen, menjadi penurunan mingguan terbesar sejak 1983. Secara kumulatif sejak konflik dimulai, harga logam mulia tersebut telah turun lebih dari 14 persen.

Gejolak tersebut juga mendorong penguatan dollar AS, serta membuat investor meninjau kembali portofolio mereka. Pelaku pasar kini memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, akan menahan suku bunga sepanjang tahun ini.

Kondisi ini meningkatkan daya tarik instrumen yang memberikan imbal hasil seperti obligasi, sekaligus menekan minat terhadap emas yang tidak menghasilkan pendapatan.

Baca juga: Harga Emas Dunia Anjlok, Bagaimana Harga Logam Mulia Domestik Pekan Ini?

The Fed sendiri telah menahan suku bunga dalam dua pertemuan terakhir. Berdasarkan proyeksi CME FedWatch, pasar tidak lagi memperkirakan adanya penurunan suku bunga tambahan tahun ini.

Sebelumnya, harga emas sempat melonjak pada musim gugur ketika The Fed memangkas suku bunga tiga kali berturut-turut. Kini, ekspektasi suku bunga yang tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan mendorong imbal hasil obligasi naik, sehingga meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) memegang emas.

“Dalam pelemahan harga emas baru-baru ini, kenaikan imbal hasil memiliki peran besar,” ujar Hardika Singh, ekonom strategis di Fundstrat.

Baca juga: Harga Emas Dunia Tersungkur di Tengah Konflik Iran, Ini Penyebabnya

Tidak hanya di AS, bank sentral di berbagai negara juga menyesuaikan kebijakan suku bunga sebagai respons terhadap konflik Iran dan lonjakan harga energi.

Kekhawatiran inflasi membuat sebagian bank sentral menahan suku bunga, bahkan ada yang menaikkannya seperti Bank Sentral Australia.

Selain suku bunga, pergerakan dollar AS juga menjadi faktor penting yang menekan harga emas. Sepanjang bulan ini, dollar AS menguat hampir 2 persen sejak konflik Iran dimulai, mengakhiri tren penurunan dalam beberapa bulan sebelumnya.

Penguatan ini membuat emas, yang dihargakan dalam dollar AS, menjadi lebih mahal bagi investor global, sehingga menurunkan daya tariknya. Biasanya, emas diuntungkan saat dollar AS melemah karena lebih terjangkau bagi investor internasional. Namun kondisi saat ini justru sebaliknya.

Baca juga: Harga Emas Dunia Turun 7 Persen dalam Sepekan, Ini Penyebabnya

Halaman:


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau