Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com — Harga emas dan perak dunia mengalami tekanan tajam dalam beberapa waktu terakhir seiring lonjakan harga minyak dunia dan meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.
Kondisi ini mendorong perubahan ekspektasi investor terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral utama dunia.
Dikutip dari Reuters, Jumat (20/3/2026), harga emas dunia tercatat turun lebih dari 4 persen dalam satu sesi perdagangan dan menyentuh level sekitar 4.612 dollar AS per ons, level terendah dalam lebih dari satu bulan.
Baca juga: Go Show Emas Antam Lebaran 2026, Catat Tanggal dan Lokasinya
Ilustrasi emas. Perang di Timur Tengah mengganggu penerbangan dari Dubai, membuat pedagang menawarkan diskon emas hingga 30 dollar AS per ons.Penurunan ini terjadi ketika konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga energi yang berujung pada meningkatnya risiko inflasi global.
Tekanan serupa juga dialami logam mulia lainnya. Harga perak melemah lebih dari 5 persen ke kisaran 71 dollar AS per ons.
Selain itu, logam industri seperti platinum dan palladium turut mengalami penurunan di tengah volatilitas pasar komoditas global.
Kenaikan harga minyak menjadi faktor utama yang memengaruhi sentimen investor terhadap emas dan perak. Konflik yang melibatkan Iran dinilai memicu gangguan pasokan energi global sehingga mendorong reli harga minyak mentah.
Baca juga: Harga Emas Hari Ini 20 Maret 2026: Antam, Galeri 24 Pegadaian, dan UBS
Kondisi ini berimplikasi langsung terhadap ekspektasi inflasi dan kebijakan moneter. Ketika harga energi naik, tekanan inflasi meningkat sehingga bank sentral cenderung mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Hal tersebut mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga.
Ilustrasi emas batangan, harga emas hari ini. Dalam laporan Reuters disebutkan, kekhawatiran bahwa inflasi akibat konflik Timur Tengah dapat membuat suku bunga tetap tinggi menjadi faktor yang lebih dominan dibandingkan fungsi emas sebagai aset safe haven.
Lonjakan harga minyak juga mendorong penguatan dolar AS. Karena emas dihargai dalam dolar, penguatan mata uang tersebut membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi investor di luar Amerika Serikat, sehingga menekan permintaan.
Baca juga: Update Harga Emas Hari Ini di Pegadaian, Galeri 24 dan UBS Turun Lagi
Sejumlah analis menilai kombinasi kenaikan imbal hasil obligasi dan penguatan dolar menciptakan tekanan berlapis terhadap logam mulia.
Selain faktor makroekonomi, penurunan harga emas dan perak juga dipicu aksi ambil untung (profit taking) setelah reli signifikan dalam beberapa bulan sebelumnya.
Analis mencatat harga emas sempat melonjak tajam sepanjang 2025 dan awal 2026 sehingga mendorong sebagian investor merealisasikan keuntungan ketika kondisi pasar berubah.
Setelah kenaikan yang sangat cepat, aksi ambil untung dapat memicu penurunan yang berlangsung berantai di pasar komoditas.
Baca juga: Harga Emas Dunia Turun 7 Persen dalam Sepekan, Ini Penyebabnya