Penulis
KOMPAS.com - Harga emas dunia anjlok tajam sepanjang pekan ini dan berpotensi mencatat kinerja mingguan terburuk dalam enam tahun terakhir. Lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga, sekaligus menekan daya tarik logam mulia.
Dikutip dari Bloomberg, Jumat (20/3/2026), harga emas berada di kisaran 4.685 dollar AS per ons, turun hampir 7 persen sepanjang pekan ini, sekaligus menjadi penurunan terdalam sejak Maret 2020.
Kenaikan harga minyak mentah, gas alam, dan bahan bakar yang dipicu konflik memicu kekhawatiran inflasi, sehingga peluang bank sentral untuk memangkas suku bunga semakin kecil. Kondisi ini cenderung merugikan emas karena tidak memberikan imbal hasil bunga.
Baca juga: Rincian Harga Emas Antam di Pegadaian 20 Maret 2026, Buyback Turun
Secara historis, emas kerap dipandang sebagai aset lindung nilai (safe haven). Namun sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan ke Iran bulan lalu, harga emas justru terus melemah setiap pekan.
Penurunan harga emas terjadi seiring kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasuries) dan penguatan dollar AS.
Investor juga menjual emas untuk menutup kerugian di aset lain, sementara arus dana keluar dari exchange-traded fund (ETF) berbasis emas terus berlanjut hingga menghapus seluruh akumulasi sejak awal tahun.
Robert Gottlieb, mantan trader logam mulia di JPMorgan Chase & Co. yang kini menjadi komentator pasar independen, mengingatkan tingginya volatilitas saat ini.
“Jangan buru-buru membeli saat harga turun. Volatilitas masih terlalu tinggi,” ujarnya.
Baca juga: Harga Emas Dunia Anjlok Lebih dari 4 Persen, Tertekan Ekspektasi Suku Bunga Tinggi
Ia menilai tekanan jual masih berpotensi berlanjut hingga pergerakan harga emas mulai stabil.
Di sisi kebijakan moneter, bank sentral AS mempertahankan suku bunga pada pertemuan pertengahan pekan, sesuai ekspektasi pasar.
Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan pelonggaran kebijakan baru akan dilakukan jika terdapat kemajuan nyata dalam menurunkan inflasi.
Pergerakan harga emas saat ini mengingatkan pada pola tahun 2022, ketika invasi Rusia ke Ukraina memicu lonjakan harga energi global. Saat itu, harga emas mencatat penurunan selama tujuh bulan berturut-turut hingga Oktober, rekor penurunan terpanjang.
Baca juga: Harga Emas Pegadaian 20 Maret 2026: Cek Rincian UBS dan Galeri 24
Data Bloomberg menunjukkan ETF berbasis emas mencatat arus keluar selama tiga pekan berturut-turut, dengan penurunan kepemilikan lebih dari 60 ton dalam periode tersebut.
Meski demikian, secara tahunan harga emas masih menguat sekitar 8 persen.
Sebelumnya, harga emas dunia sempat menyentuh rekor mendekati 5.600 dollar AS per ons pada akhir Januari.