JAKARTA, KOMPAS.com - Gejolak energi global mendorong dorongan efisiensi di sektor rumah tangga. Peralihan ke kompor listrik dinilai menjadi salah satu langkah untuk menekan konsumsi energi berbasis impor.
Chief Executive Officer Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menilai penggunaan kompor listrik efektif mengurangi konsumsi LPG. Dampak ini terlihat terutama pada rumah tangga.
“Jika rumah tangga mulai menggunakan kompor induksi, penghematan LPG bisa mencapai lebih dari 130 ton per tahun,” ujar Fabby dalam keterangan resmi, Jumat (27/3/2026).
Baca juga: Strategi Kurangi Impor Energi: Kendaraan dan Kompor Listrik
Rumah tangga dengan daya beli lebih tinggi disebut memperoleh manfaat ekonomi lebih besar. Biaya penggunaan kompor listrik dinilai lebih rendah dibandingkan LPG nonsubsidi. Ketergantungan pada impor energi juga berkurang.
Fabby menilai dorongan elektrifikasi semakin penting. Kondisi ini terkait sensitivitas fiskal Indonesia terhadap gejolak geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah.
Pengalaman pengguna menunjukkan perubahan biaya operasional. Andi Arif, pengguna kompor induksi, mencatat kenaikan tagihan listrik sekitar Rp 30.000 per bulan.
“Dari sisi operasional, Andi mencatat kenaikan tagihan listriknya hanya sekitar Rp 30.000 per bulan,” ujar dia.
Baca juga: Kompor Gas Vs Kompor Listrik, Mana yang Lebih Hemat?
Andi menilai investasi awal kompor listrik lebih efisien. Fluktuasi harga gas tidak lagi menjadi beban. Pengguna juga tidak perlu membeli tabung gas baru.
Perhitungan biaya bulanan dinilai kompetitif. Pengeluaran listrik lebih stabil dibandingkan biaya isi ulang gas yang terus meningkat.
Dampak serupa dirasakan pelaku usaha kecil. Siti Sarah (45), pelaku UMKM katering rumahan, menyebut biaya produksi menjadi lebih hemat.
"Sejak pakai kompor listrik, pengeluaran untuk energi masak jadi lebih stabil dan murah, sisa uangnya bisa buat tambahan modal bahan baku. Masaknya juga lebih cepat dan bersih, saya jadi lebih produktif terima banyak pesanan tiap hari," ujar Siti.