JAKARTA, KOMPAS.com - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah akibat eskalasi konflik antara Israel, Amerika Serikat (AS), dan Iran masih membayangi pergerakan harga emas dunia. Meski sempat bertahan di level tinggi, harga emas diproyeksikan berpotensi terkoreksi pada pekan depan.
Mengutip Bloomberg, harga emas dunia pada perdagangan Jumat (27/3/2026) di New York sempat menguat ke level 4.949,09 dollar AS per troy ounce pada pukul 16.59 waktu setempat. Posisi ini mencerminkan kenaikan sekitar 2,70 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Kendati demikian, secara bulanan harga emas tercatat masih mengalami tekanan. Sepanjang Maret 2026, harga emas telah turun 15 persen.
Tekanan harga sempat membawa emas merosot hingga sekitar 19 persen dari level penutupan tertinggi pada Januari hingga akhir perdagangan Kamis (26/3/2026). Penurunan ini mendekati ambang 20 persen yang secara teknikal sering dikaitkan sebagai awal fase pasar bearish.
Namun, pada Jumat (27/3/2026), minat beli kembali muncul. Investor masuk ke pasar dan mendorong harga emas naik sekitar 3 persen.
Baca juga: Harga Emas Dunia Rebound ke 4.500 Dollar AS, Dipicu Aksi Borong
Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan pada awal pekan depan harga emas berpotensi mengalami koreksi ke level 4.363 dollar AS per troy ounce. Jika skenario ini terjadi, harga logam mulia di pasar domestik bisa turun ke sekitar Rp 2,815 juta per gram.
“Terus kalau harga emas dunia terkoreksi dalam, hari Senin kemungkinan besar di 4.363 dollar AS per troy ounce. Terus logam mulianya berapa? Di Rp 2,815 kalau turun,” ujar Ibrahim kepada wartawan Minggu, (29/3/2026).
Dalam tekanan yang lebih dalam, penurunan harga emas dunia dalam sepekan berpotensi berlanjut hingga 4.138 dollar AS per troy ounce. Kondisi tersebut dinilai dapat menyeret harga logam mulia di pasar Tanah Air.
“Kemudian dalam satu minggu turun kemungkinan besar itu di 4.138 dollar AS, ingat ya 4.138.000 dollar per troy ounce,” paparnya.
Baca juga: Harga Emas Dunia Menguat Hampir 2 Persen di Tengah Ketidakpastian Konflik Timur Tengah
Namun demikian, peluang penguatan masih terbuka. Jika harga emas bergerak naik, level resistance pertama diperkirakan berada di 4.666 dollar AS per troy ounce. Pada skenario ini, harga emas di Indonesia akan menguat ke Rp 2,855 juta per gram.
Sementara itu, resistance kedua berada di level 4.912 dollar AS per troy ounce. Meski demikian, kenaikan menuju level psikologis 5.000 dollar AS per troy ounce diperkirakan belum akan tercapai dalam pekan depan.
Untuk pasar domestik, harga emas diproyeksikan bergerak ke Rp 2,92 juta per gram pada skenario penguatan lanjutan. Adapun level Rp 3 juta per gram dinilai masih sulit ditembus dalam waktu dekat, dan baru berpotensi tercapai pada pekan berikutnya, sekitar 6-7 April 2026.
“Logam mulianya itu di Rp 2,92 juta per gram. Jadi di minggu depan logam mulianya pun juga untuk menyentuh level Rp 3 juta kemungkinan besar tidak akan terjadi. Akan terjadi itu adalah di minggu berikutnya, yaitu di tanggal 6-7,” pungkas Ibrahim.
Di tengah volatilitas jangka pendek tersebut, prospek jangka panjang emas masih dinilai positif. Ibrahim menegaskan, faktor utama yang menggerakkan harga emas tetap berasal dari dinamika geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah, serta pergerakan nilai tukar dan harga energi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang