SEMARANG, KOMPAS.com - Aroma bumbu rempah yang tajam menyeruak dari sebuah lapak sederhana di Alun-alun Pasar Johar, tepat di depan Masjid Besar Kauman Semarang, Jawa Tengah, Jumat (27/2/2026). Di tengah deretan pedagang takjil, wajan besar berisi telur bebek berlumur sambal petis tampak mengepul menarik perhatian warga yang tengah ngabuburit.
"Iya, kuliner khas Ramadhan, keluarnya satu tahun sekali, pas Ramadhan saja," ujar pedagang Petis Bumbon, Tissa (33), saat ditemui di lokasi.
Tissa mengatakan, perbedaan Petis Bumbon dengan sambal goreng biasa terletak pada penggunaan petis dan racikan bumbu yang lebih kompleks, serta penggunaan telur bebek.
Baca juga: Peninggian Jalan Pantura Kaligawe Semarang Dikebut, Ditarget Bisa Dilalui H-10 Lebaran
Menurut warga Kecamatan Semarang Tengah ini, proses memasak pun harus benar-benar matang agar rasa cabai tidak langu dan bumbu meresap sempurna.
"Bedanya sama sambal goreng, dia pakai petis dan bumbu pawonnya lebih kompleks. Telurnya bisa lebih gempi dan rasanya lebih mantap," katanya.
Selama Ramadhan, Tissa mampu mengolah sekitar 100 butir telur per hari. Pada akhir pekan, jumlah tersebut bisa bertambah karena tingginya permintaan dari masyarakat yang ingin berbuka puasa dengan menu autentik Semarang ini.
Proses memasak menu ini membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga jam untuk memastikan bumbu benar-benar meresap ke dalam telur bebek. Tissa menyebut ketelatenan adalah kunci agar rasa petis tidak mendominasi namun tetap terasa gurih.
"Sehari bisa kurang lebih 100 telur. Kalau Jumat, Sabtu, Minggu bisa lebih. Masaknya sekitar dua sampai tiga jam supaya benar-benar tanek," jelasnya.
Usaha yang dijalani Tissa ternyata telah berjalan lebih dari 30 tahun dan diwariskan secara turun-temurun.
Sejak kecil, ia sudah melihat ibunya berjualan Petis Bumbon untuk melanjutkan tradisi keluarga dari generasi sebelumnya di kawasan Masjid Kauman.
Harga yang ditawarkan untuk kuliner musiman ini relatif terjangkau. Satu butir telur Petis Bumbon dijual Rp 12.000, sedangkan jika disajikan lengkap dengan potongan lontong dibanderol Rp 20.000 per porsi.
Salah satu pembeli, Widi Wicaksono, warga Mranggen, Kabupaten Demak, mengaku sengaja datang bersama suami dan anak-anaknya ke pusat Kota Semarang hanya untuk menikmati Petis Bumbon.
Baginya, menu ini adalah hidangan wajib yang tidak boleh dilewatkan setiap tahun.
"Kuliner wajib kalau puasa, enak dan cuma setahun sekali. Cari-cari di internet, keluarnya menu ini yang khas," ucap Widi.
Selain berburu takjil, ia juga memanfaatkan momen ngabuburit untuk mengenalkan sejarah Kota Semarang kepada anak-anaknya, khususnya di kawasan legendaris Masjid Kauman.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang