SAMARINDA, KOMPAS.com - Wali Kota Samarinda Andi Harun memastikan pasokan bahan bakar minyak (BBM) di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, masih dalam kondisi aman meski konflik di Timur Tengah antara Iran dan Israel memicu kekhawatiran terhadap stabilitas energi global.
Ia meminta masyarakat tidak panik membeli BBM karena hingga saat ini distribusi masih terkendali.
“Semua bahan pokok kita relatif aman, termasuk BBM. Dari pemantauan yang kami lakukan bersama pemerintah dan Satgas Pangan, hanya ada satu komoditas yang ditemukan anomali, sementara yang lain masih terkendali,” kata Andi Harun pada Selasa (10/3/2026).
Baca juga: Warga yang Mudik Bisa Titipkan Kendaraan di Mapolresta Samarinda Gratis
Ia menjelaskan, berdasarkan laporan dari Pertamina, pasokan BBM dipastikan masih aman setidaknya hingga periode Lebaran Idul Fitri 2026.
“Dari laporan Pertamina tadi, termasuk dari Patra Niaga, setidaknya sampai Lebaran Idul Fitri 2026 pasokan kita masih aman,” ujarnya.
Meski demikian, Andi Harun tidak menampik konflik di Timur Tengah dapat memberikan dampak terhadap sektor energi global.
Menurut dia, situasi geopolitik tersebut bisa memengaruhi harga minyak dunia karena jalur distribusi energi global berada di kawasan yang saat ini menjadi titik ketegangan.
Baca juga: Menyamar Jadi Teknisi, Dua Pria Curi 9 Baterai Tower di Samarinda
Ia mencontohkan Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur penting distribusi minyak dunia kini berada dalam pengawasan ketat akibat konflik yang melibatkan Iran.
“Memang ada pengaruh situasi perang Israel-Amerika dengan Iran. Di sana ada Selat Hormuz yang dijaga ketat. Tapi sumber minyak Indonesia tidak hanya dari Timur Tengah. Kita juga bisa membeli dari beberapa negara lain,” jelasnya.
Andi Harun mengatakan pemerintah pusat juga telah menyiapkan skenario darurat untuk mengantisipasi gangguan pasokan energi jika konflik berkepanjangan.
Ia menyebutkan pemerintah telah menyiapkan ketahanan energi hingga 90 hari apabila terjadi kondisi darurat.
“Di berbagai media disebutkan kemampuan cadangan kita hanya sampai 20 hari. Tapi orang sering berhenti di situ. Yang diumumkan pemerintah secara resmi adalah disiapkan skenario darurat hingga 90 hari,” katanya.
Ia juga menyoroti potensi dampak konflik global terhadap kondisi keuangan negara.
Menurutnya, pemerintah pusat telah mengumumkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) saat ini mengalami tekanan akibat dinamika global, termasuk kenaikan harga energi.
“Pemerintah sudah menyampaikan secara resmi bahwa APBN kita saat ini mengalami defisit sekitar Rp 135,7 triliun. Itu setara sekitar 0,33 sampai 0,53 persen dari PDB,” ujar Andi Harun.
Baca juga: Pastikan Stok BBM Aman Jelang Mudik 2026, Komisaris Utama Pertamina Tinjau SPBU KM 57