PEKANBARU, KOMPAS.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Riau, belum berhasil dipadamkan hingga Rabu (11/3/2026). Selain merusak ekosistem gambut, api juga mengancam habitat satwa dilindungi, termasuk harimau sumatera (*Panthera tigris sumatrae*).
Kawasan yang terbakar diketahui merupakan wilayah jelajah harimau, sehingga petugas gabungan yang berjibaku di lapangan harus meningkatkan kewaspadaan ekstra saat melakukan pemadaman.
Hingga saat ini, pihak Kepolisian Resor (Polres) Pelalawan di bawah pimpinan AKBP John Louis Letedara masih berupaya mengungkap penyebab pasti munculnya api di kawasan tersebut.
Baca juga: Tim Manggala Agni Bertaruh Nyawa, Padamkan Karhutla di Sarang Harimau Sumatera di Riau
Kasatreskrim Polres Pelalawan, AKP I Gede Yoga Eka Pranata, menyatakan bahwa fokus utama petugas saat ini adalah melakukan pendinginan di lokasi titik api sembari mengumpulkan bukti-bukti penyelidikan.
"Masih penyelidikan. Saat ini juga dilakukan pendinginan titik api di lokasi," kata Yoga kepada Kompas.com melalui sambungan telepon, Rabu.
Kebakaran yang telah memasuki hari kedua ini melahap semak belukar dan hutan tanah gambut.
Petugas gabungan yang terdiri dari Manggala Agni Rengat, TNI, Polri, masyarakat, dan tim pemadam perusahaan masih terus berupaya mengendalikan si jago merah.
Hingga berita ini diturunkan, kondisi api dilaporkan belum sepenuhnya dapat dikendalikan. Berdasarkan perkiraan sementara, luas lahan gambut yang hangus terbakar telah mencapai 2 hektar.
Selain kerugian ekologis, karhutla ini dipastikan merusak habitat alami dan memutus jalur jelajah satwa endemik di wilayah tersebut.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang