Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mudik Lebaran 2026, Warga Sumbar Diimbau Waspada Risiko Travel Pelat Hitam

Kompas.com, 11 Maret 2026, 19:14 WIB
Rahmat Panji ,
Eris Eka Jaya

Tim Redaksi

PADANG, KOMPAS.com – Menjelang puncak arus mudik Lebaran 2026, masyarakat Sumatera Barat diingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap maraknya praktik travel gelap atau kendaraan pelat hitam.

Lonjakan mobilitas warga yang ingin segera sampai ke kampung halaman sering kali dimanfaatkan oleh pemilik kendaraan pribadi untuk menawarkan jasa angkutan dengan iming-iming tarif terjangkau dan durasi perjalanan yang lebih cepat.

Meski tawaran ini terasa menggiurkan di tengah rasa lelah dan rindu terhadap keluarga, penggunaan transportasi ilegal tersebut menyimpan risiko besar yang dapat membahayakan keselamatan penumpang.

Kepala Balai Pengelolaan Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Sumatera Barat, Deddy Gusman, menekankan agar pemudik di Ranah Minang lebih selektif dalam memilih moda transportasi.

Baca juga: Mudik Sumbar 2026: Waspada Jalan Tanah Jalur Malalak, Rawan Longsor dan Gelap

Menurutnya, travel pelat hitam tidak memiliki izin resmi penyelenggaraan angkutan umum sehingga aspek keselamatannya sama sekali tidak terjamin.

"Kendaraan-kendaraan ini umumnya tidak melalui uji kelayakan atau ramp check secara berkala, yang berarti kondisi teknis mesin maupun sistem pengereman tidak terpantau oleh otoritas berwenang," ujarnya.

Lebih jauh lagi, penumpang travel ilegal berisiko tinggi tidak mendapatkan perlindungan asuransi apabila terjadi kecelakaan di jalan raya.

Sebagai langkah antisipasi, BPTD bersama pihak kepolisian dan Dinas Perhubungan di daerah terus memperketat pengawasan serta melakukan penertiban terhadap travel ilegal di berbagai titik strategis.

Baca juga: Puncak Arus Mudik Sumbar Diprediksi 14-15 Maret, 779 Armada Bus Disiagakan

Masyarakat sangat dianjurkan untuk menggunakan angkutan umum resmi yang berangkat dari terminal-terminal legal demi jaminan keamanan dan kenyamanan.

"Penggunaan moda transportasi resmi memastikan bahwa kendaraan yang ditumpangi telah memenuhi standar pelayanan minimal dan dikemudikan oleh awak kendaraan yang terdata secara sah," ujarnya.

Belajar dari pengalaman mudik tahun sebelumnya, otoritas transportasi di Sumatera Barat juga telah melakukan berbagai perbaikan pada penyelenggaraan angkutan Lebaran 2026.

Langkah ini mencakup penguatan koordinasi lintas instansi melalui posko terpadu serta peningkatan intensitas ramp check di terminal maupun pool bus.

Selain itu, pemantauan lalu lintas kini berbasis data dan kamera monitoring, termasuk pemetaan lebih dari 100 titik rawan kemacetan dan bencana di sepanjang jalur transportasi.

Untuk mengurai kepadatan, jalur alternatif telah dioptimalisasi dengan dukungan personel lapangan yang dilengkapi sarana komunikasi modern seperti HT dan drone untuk pemantauan udara secara real-time.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Remaja ODGJ di Jember Dipasung Keluarga, Sempat Mengamuk dan Cekik Ibunya
Remaja ODGJ di Jember Dipasung Keluarga, Sempat Mengamuk dan Cekik Ibunya
Regional
Geger Penemuan Kerangka Manusia di Lereng Gunung Muria Pati, Identitas Masih Misterius
Geger Penemuan Kerangka Manusia di Lereng Gunung Muria Pati, Identitas Masih Misterius
Regional
Fakta Pria di Kebumen Diduga Cabuli Belasan Anak di Bawah Umur
Fakta Pria di Kebumen Diduga Cabuli Belasan Anak di Bawah Umur
Regional
Aset BUMD Jateng Tembus Rp 118 Triliun, Ahmad Luthfi: Tidak Untung, Tidak Usah Jadi BUMD!
Aset BUMD Jateng Tembus Rp 118 Triliun, Ahmad Luthfi: Tidak Untung, Tidak Usah Jadi BUMD!
Regional
Gugur di Lebanon, Sosok Sertu Ichwan di Mata Eks Atasan: Prajurit Loyal dan Disiplin
Gugur di Lebanon, Sosok Sertu Ichwan di Mata Eks Atasan: Prajurit Loyal dan Disiplin
Regional
Pemprov Maluku Segera Terapkan WFH, Gubernur: Konsekuensi Kondisi Global
Pemprov Maluku Segera Terapkan WFH, Gubernur: Konsekuensi Kondisi Global
Regional
Eks Dirut BUMD Serang Dituntut 6 Tahun Penjara, Jaksa Ungkap Transaksi 'Kickback' di Parkiran Mal
Eks Dirut BUMD Serang Dituntut 6 Tahun Penjara, Jaksa Ungkap Transaksi 'Kickback' di Parkiran Mal
Regional
Maaf-maafan, Bupati dan Wabup Lebak Berdamai Usai Ribut Saat Halalbihalal
Maaf-maafan, Bupati dan Wabup Lebak Berdamai Usai Ribut Saat Halalbihalal
Regional
ASN Jateng Mau WFH? Siap-siap Lokasi Rumah Dipantau Ketat lewat 'Tagging'
ASN Jateng Mau WFH? Siap-siap Lokasi Rumah Dipantau Ketat lewat "Tagging"
Regional
Kericuhan Pecah di Mimika, Hujan Panah Warnai Proses Kremasi Korban Pembunuhan
Kericuhan Pecah di Mimika, Hujan Panah Warnai Proses Kremasi Korban Pembunuhan
Regional
Sanksi WFH ASN Kaltim: Tak Absen TPP Dipotong 1 Persen per Hari, Tak Lapor 2 Persen
Sanksi WFH ASN Kaltim: Tak Absen TPP Dipotong 1 Persen per Hari, Tak Lapor 2 Persen
Regional
Masih Ada Parkir Liar di Indomaret Banyumas? Laporkan ke Nomor Ini
Masih Ada Parkir Liar di Indomaret Banyumas? Laporkan ke Nomor Ini
Regional
Natalius Pigai, Penguatan HAM, dan Masa Depan Indonesia...
Natalius Pigai, Penguatan HAM, dan Masa Depan Indonesia...
Regional
Soal WFH Tiap Jumat, Bupati Ende: Kita Sudah Mulai Sejak Awal Tahun
Soal WFH Tiap Jumat, Bupati Ende: Kita Sudah Mulai Sejak Awal Tahun
Regional
Sekolah Ini Bikin Orang Tua Tak Bisa Dibohongi Absensi Anak lewat Aplikasi 'Si Apik'
Sekolah Ini Bikin Orang Tua Tak Bisa Dibohongi Absensi Anak lewat Aplikasi "Si Apik"
Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Mudik Lebaran 2026, Warga Sumbar Diimbau Waspada Risiko Travel Pelat Hitam
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat