Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cerita Warga Pesisir Lampung Tinggal di Rumah Panggung di Atas Laut demi Hindari Banjir Rob

Kompas.com, 12 Maret 2026, 11:46 WIB
Tri Purna Jaya,
Reni Susanti

Tim Redaksi

LAMPUNG, KOMPAS.com — Bagi warga Pantai Karang Jaya di Kelurahan Karang Maritim, Kota Bandar Lampung, hidup di rumah panggung yang berdiri di atas laut bukan hal istimewa.

Cara itu mereka lakukan untuk menghindari banjir rob yang kerap datang ke wilayah tersebut.

Seorang warga, Umar Wazid (36), tampak duduk di teras rumahnya yang menghadap langsung ke laut, Kamis (12/3/2026).

Nelayan yang kini juga aktif membuat konten di TikTok itu sedang mempersiapkan peralatan untuk menangkap cacing laut yang banyak ditemukan di pantai dekat tempat tinggalnya.

“Ya memang warga sini kebanyakan tinggal kayak saya, Bang, di rumah panggung gini. Ini saya sudah sekitar 30 tahunan dari zamannya orangtua saya,” kata Umar.

Baca juga: Banjir Melanda Sawang Aceh Utara, Jalan dan Jembatan Baru Dibangun Kembali Hancur

Rumah Umar berdiri di atas laut dengan jarak sekitar 100 meter dari daratan. Rumah panggung yang ditempatinya sejak kecil itu berada di ujung deretan permukiman warga setempat.

Bangunan tersebut ditopang tiang-tiang kayu yang menancap ke dasar pantai dengan ketinggian sekitar 150–200 sentimeter.

Adaptasi Warga Menghadapi Banjir Rob

Menurut Umar, sejak ia kecil rumah-rumah di kawasan tersebut memang sudah dibangun di atas laut dengan tiang-tiang penyangga yang menancap ke dasar perairan.

Kondisi permukiman itu bahkan kerap mengingatkannya pada gambaran kota terapung seperti yang ditampilkan dalam film Waterworld yang dibintangi Kevin Costner.

Umar menuturkan, wilayah pesisir itu sering dilanda banjir rob sehingga masyarakat sejak dahulu beradaptasi dengan membangun rumah panggung.

“Kalau lagi (banjir) rob, yang di daratan bisa terendam, Bang. Jadi ya memang orang zaman dulu bikin rumah begini supaya enggak kebanjiran,” ujar Umar.

Sejauh ini, saat banjir rob melanda wilayah tersebut, rumah Umar tetap aman. Ketinggian air laut yang biasanya mencapai sekitar 1 meter masih dapat dihindari karena posisi rumah yang lebih tinggi.

Tiang Rumah Diganti Setiap Dua Tahun

Warga lain, Idhan (34), mengatakan rumah-rumah di kawasan itu memang sengaja dibangun menjorok ke arah laut agar terhindar dari banjir rob.

“Kalau banjir rob biasa masih bisa kita di rumah. Tapi kalau sudah banjirnya terlalu tinggi yang terpaksa ngungsi,” kata Idhan.

Ia menambahkan, warga menyadari pentingnya kondisi tiang penyangga rumah. Karena itu, mereka secara bergotong royong mengganti tiang tersebut secara berkala agar tidak lapuk akibat terendam air laut.

Menurut Idhan, kayu yang digunakan untuk tiang penyangga umumnya adalah kayu gelam karena dikenal kuat dan harganya relatif terjangkau.

“Kuat dan terjangkau harganya. Biasanya warga sini ganti tiang setiap dua tahun,” kata dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Remaja ODGJ di Jember Dipasung Keluarga, Sempat Mengamuk dan Cekik Ibunya
Remaja ODGJ di Jember Dipasung Keluarga, Sempat Mengamuk dan Cekik Ibunya
Regional
Geger Penemuan Kerangka Manusia di Lereng Gunung Muria Pati, Identitas Masih Misterius
Geger Penemuan Kerangka Manusia di Lereng Gunung Muria Pati, Identitas Masih Misterius
Regional
Fakta Pria di Kebumen Diduga Cabuli Belasan Anak di Bawah Umur
Fakta Pria di Kebumen Diduga Cabuli Belasan Anak di Bawah Umur
Regional
Aset BUMD Jateng Tembus Rp 118 Triliun, Ahmad Luthfi: Tidak Untung, Tidak Usah Jadi BUMD!
Aset BUMD Jateng Tembus Rp 118 Triliun, Ahmad Luthfi: Tidak Untung, Tidak Usah Jadi BUMD!
Regional
Gugur di Lebanon, Sosok Sertu Ichwan di Mata Eks Atasan: Prajurit Loyal dan Disiplin
Gugur di Lebanon, Sosok Sertu Ichwan di Mata Eks Atasan: Prajurit Loyal dan Disiplin
Regional
Pemprov Maluku Segera Terapkan WFH, Gubernur: Konsekuensi Kondisi Global
Pemprov Maluku Segera Terapkan WFH, Gubernur: Konsekuensi Kondisi Global
Regional
Eks Dirut BUMD Serang Dituntut 6 Tahun Penjara, Jaksa Ungkap Transaksi 'Kickback' di Parkiran Mal
Eks Dirut BUMD Serang Dituntut 6 Tahun Penjara, Jaksa Ungkap Transaksi 'Kickback' di Parkiran Mal
Regional
Maaf-maafan, Bupati dan Wabup Lebak Berdamai Usai Ribut Saat Halalbihalal
Maaf-maafan, Bupati dan Wabup Lebak Berdamai Usai Ribut Saat Halalbihalal
Regional
ASN Jateng Mau WFH? Siap-siap Lokasi Rumah Dipantau Ketat lewat 'Tagging'
ASN Jateng Mau WFH? Siap-siap Lokasi Rumah Dipantau Ketat lewat "Tagging"
Regional
Kericuhan Pecah di Mimika, Hujan Panah Warnai Proses Kremasi Korban Pembunuhan
Kericuhan Pecah di Mimika, Hujan Panah Warnai Proses Kremasi Korban Pembunuhan
Regional
Sanksi WFH ASN Kaltim: Tak Absen TPP Dipotong 1 Persen per Hari, Tak Lapor 2 Persen
Sanksi WFH ASN Kaltim: Tak Absen TPP Dipotong 1 Persen per Hari, Tak Lapor 2 Persen
Regional
Masih Ada Parkir Liar di Indomaret Banyumas? Laporkan ke Nomor Ini
Masih Ada Parkir Liar di Indomaret Banyumas? Laporkan ke Nomor Ini
Regional
Natalius Pigai, Penguatan HAM, dan Masa Depan Indonesia...
Natalius Pigai, Penguatan HAM, dan Masa Depan Indonesia...
Regional
Soal WFH Tiap Jumat, Bupati Ende: Kita Sudah Mulai Sejak Awal Tahun
Soal WFH Tiap Jumat, Bupati Ende: Kita Sudah Mulai Sejak Awal Tahun
Regional
Sekolah Ini Bikin Orang Tua Tak Bisa Dibohongi Absensi Anak lewat Aplikasi 'Si Apik'
Sekolah Ini Bikin Orang Tua Tak Bisa Dibohongi Absensi Anak lewat Aplikasi "Si Apik"
Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Cerita Warga Pesisir Lampung Tinggal di Rumah Panggung di Atas Laut demi Hindari Banjir Rob
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat