LAMPUNG, KOMPAS.com — Bagi warga Pantai Karang Jaya di Kelurahan Karang Maritim, Kota Bandar Lampung, hidup di rumah panggung yang berdiri di atas laut bukan hal istimewa.
Cara itu mereka lakukan untuk menghindari banjir rob yang kerap datang ke wilayah tersebut.
Seorang warga, Umar Wazid (36), tampak duduk di teras rumahnya yang menghadap langsung ke laut, Kamis (12/3/2026).
Nelayan yang kini juga aktif membuat konten di TikTok itu sedang mempersiapkan peralatan untuk menangkap cacing laut yang banyak ditemukan di pantai dekat tempat tinggalnya.
“Ya memang warga sini kebanyakan tinggal kayak saya, Bang, di rumah panggung gini. Ini saya sudah sekitar 30 tahunan dari zamannya orangtua saya,” kata Umar.
Baca juga: Banjir Melanda Sawang Aceh Utara, Jalan dan Jembatan Baru Dibangun Kembali Hancur
Rumah Umar berdiri di atas laut dengan jarak sekitar 100 meter dari daratan. Rumah panggung yang ditempatinya sejak kecil itu berada di ujung deretan permukiman warga setempat.
Bangunan tersebut ditopang tiang-tiang kayu yang menancap ke dasar pantai dengan ketinggian sekitar 150–200 sentimeter.
Menurut Umar, sejak ia kecil rumah-rumah di kawasan tersebut memang sudah dibangun di atas laut dengan tiang-tiang penyangga yang menancap ke dasar perairan.
Kondisi permukiman itu bahkan kerap mengingatkannya pada gambaran kota terapung seperti yang ditampilkan dalam film Waterworld yang dibintangi Kevin Costner.
Umar menuturkan, wilayah pesisir itu sering dilanda banjir rob sehingga masyarakat sejak dahulu beradaptasi dengan membangun rumah panggung.
“Kalau lagi (banjir) rob, yang di daratan bisa terendam, Bang. Jadi ya memang orang zaman dulu bikin rumah begini supaya enggak kebanjiran,” ujar Umar.
Sejauh ini, saat banjir rob melanda wilayah tersebut, rumah Umar tetap aman. Ketinggian air laut yang biasanya mencapai sekitar 1 meter masih dapat dihindari karena posisi rumah yang lebih tinggi.
Warga lain, Idhan (34), mengatakan rumah-rumah di kawasan itu memang sengaja dibangun menjorok ke arah laut agar terhindar dari banjir rob.
“Kalau banjir rob biasa masih bisa kita di rumah. Tapi kalau sudah banjirnya terlalu tinggi yang terpaksa ngungsi,” kata Idhan.
Ia menambahkan, warga menyadari pentingnya kondisi tiang penyangga rumah. Karena itu, mereka secara bergotong royong mengganti tiang tersebut secara berkala agar tidak lapuk akibat terendam air laut.
Menurut Idhan, kayu yang digunakan untuk tiang penyangga umumnya adalah kayu gelam karena dikenal kuat dan harganya relatif terjangkau.
“Kuat dan terjangkau harganya. Biasanya warga sini ganti tiang setiap dua tahun,” kata dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang