Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mudik Lebaran 2026: Pengendara Motor Paling Rentan Kecelakaan di Jalur Pegunungan Sumbar

Kompas.com, 16 Maret 2026, 13:36 WIB
Dharma Harisa,
Novita Rahmawati

Tim Redaksi

PADANG, KOMPAS.com — Pengendara sepeda motor menjadi kelompok yang paling rentan mengalami kecelakaan saat melintasi jalur mudik di wilayah Sumatera Barat.

Terutama di kawasan pegunungan dengan kondisi jalan berkelok dan cuaca yang kerap berubah.

Direktur Lalu Lintas Polda Sumatera Barat Kombes Pol Muhammad Reza Chairul Akbar Sidiq mengatakan, sepeda motor memiliki tingkat risiko lebih tinggi dibanding kendaraan lain karena lebih mudah tergelincir saat kondisi jalan licin.

“Pengendara roda dua paling rentan, terutama saat hujan. Jalan yang licin dan berkabut di kawasan pegunungan bisa menyebabkan kendaraan mudah slip,” ujar Reza, Senin (16/3/2026).

Baca juga: Mudik Lebaran 2026, Uji Coba One Way Jalur Padang–Padang Panjang Mulai Diberlakukan

Selain kondisi jalan, muatan berlebih yang kerap dibawa pemudik motor juga dinilai meningkatkan potensi kecelakaan selama perjalanan.

Menurut Reza, jalur-jalur pegunungan di Sumbar memang memiliki karakteristik medan yang cukup ekstrem, seperti tikungan tajam, tanjakan dan turunan panjang, serta jarak pandang yang terbatas.

Beberapa kawasan yang dikenal memiliki kondisi tersebut antara lain jalur Sitinjau Lauik, Lembah Anai, hingga jalur Malalak yang menghubungkan Padang Panjang dan Agam.

Baca juga: Dishub Padang Jamin Ongkos Angkutan Umum Tetap Selama Libur Lebaran

Selain risiko kecelakaan, jalur mudik di Sumbar juga dihadapkan pada potensi gangguan alam seperti longsor dan pohon tumbang.

Reza menjelaskan, kawasan pegunungan seperti Malalak, Sitinjau Lauik, dan Lembah Anai memiliki potensi longsor cukup tinggi, terutama saat curah hujan meningkat.

Sementara itu, di jalur lintas Sumatera wilayah Sijunjung terdapat risiko pohon tumbang yang dapat mengganggu kelancaran arus lalu lintas.

Baca juga: Jalur Kelok 44 dan Singkarak Jadi Alternatif Utama Padang-Bukittinggi Selain Lembah Anai

“Karena itu kami menyiapkan alat berat di beberapa titik rawan untuk mempercepat penanganan jika terjadi longsor,” kata dia.

Berdasarkan evaluasi kecelakaan pada periode Lebaran sebelumnya, faktor kesalahan manusia atau human error masih menjadi penyebab dominan kecelakaan di jalur mudik Sumbar.

Bentuk pelanggaran yang sering terjadi antara lain memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi, memaksakan diri berkendara saat lelah, serta mendahului kendaraan lain di tikungan atau jalur terbatas.

Baca juga: Selain Sitinjau Lauik, Ini 6 Jalur Mudik Rawan Kecelakaan di Sumbar

Selain itu, kecelakaan juga sering terjadi akibat pengemudi kehilangan kendali, terutama di jalan menurun atau saat mencoba menyalip kendaraan di jalur sempit.

Reza menambahkan, kepolisian juga mencatat adanya waktu-waktu tertentu yang memiliki tingkat risiko kecelakaan lebih tinggi selama periode mudik.

“Jam rawan biasanya terjadi pada pukul 02.00 sampai 06.00 WIB karena itu merupakan titik kelelahan tertinggi pengemudi. Selain itu pada pukul 16.00 hingga 19.00 WIB saat arus kendaraan mulai padat,” ujarnya.

Baca juga: Mulai Hari Ini, Truk Sumbu 3 Dilarang Melintas di Jalur Mudik Sumbar hingga 29 Maret 2026

Untuk mengurangi risiko kecelakaan, polisi mengimbau pemudik agar memastikan kondisi kendaraan dalam keadaan prima sebelum melakukan perjalanan serta tidak memaksakan diri berkendara saat tubuh sudah lelah.

Pengendara sepeda motor juga diminta tidak membawa muatan berlebih serta tetap menjaga kecepatan, terutama saat melintasi jalur pegunungan yang memiliki tikungan tajam dan turunan panjang.

“Jika merasa lelah, sebaiknya berhenti dan beristirahat di pos pelayanan yang telah disediakan di sepanjang jalur mudik,” kata Reza.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Remaja ODGJ di Jember Dipasung Keluarga, Sempat Mengamuk dan Cekik Ibunya
Remaja ODGJ di Jember Dipasung Keluarga, Sempat Mengamuk dan Cekik Ibunya
Regional
Geger Penemuan Kerangka Manusia di Lereng Gunung Muria Pati, Identitas Masih Misterius
Geger Penemuan Kerangka Manusia di Lereng Gunung Muria Pati, Identitas Masih Misterius
Regional
Fakta Pria di Kebumen Diduga Cabuli Belasan Anak di Bawah Umur
Fakta Pria di Kebumen Diduga Cabuli Belasan Anak di Bawah Umur
Regional
Aset BUMD Jateng Tembus Rp 118 Triliun, Ahmad Luthfi: Tidak Untung, Tidak Usah Jadi BUMD!
Aset BUMD Jateng Tembus Rp 118 Triliun, Ahmad Luthfi: Tidak Untung, Tidak Usah Jadi BUMD!
Regional
Gugur di Lebanon, Sosok Sertu Ichwan di Mata Eks Atasan: Prajurit Loyal dan Disiplin
Gugur di Lebanon, Sosok Sertu Ichwan di Mata Eks Atasan: Prajurit Loyal dan Disiplin
Regional
Pemprov Maluku Segera Terapkan WFH, Gubernur: Konsekuensi Kondisi Global
Pemprov Maluku Segera Terapkan WFH, Gubernur: Konsekuensi Kondisi Global
Regional
Eks Dirut BUMD Serang Dituntut 6 Tahun Penjara, Jaksa Ungkap Transaksi 'Kickback' di Parkiran Mal
Eks Dirut BUMD Serang Dituntut 6 Tahun Penjara, Jaksa Ungkap Transaksi 'Kickback' di Parkiran Mal
Regional
Maaf-maafan, Bupati dan Wabup Lebak Berdamai Usai Ribut Saat Halalbihalal
Maaf-maafan, Bupati dan Wabup Lebak Berdamai Usai Ribut Saat Halalbihalal
Regional
ASN Jateng Mau WFH? Siap-siap Lokasi Rumah Dipantau Ketat lewat 'Tagging'
ASN Jateng Mau WFH? Siap-siap Lokasi Rumah Dipantau Ketat lewat "Tagging"
Regional
Kericuhan Pecah di Mimika, Hujan Panah Warnai Proses Kremasi Korban Pembunuhan
Kericuhan Pecah di Mimika, Hujan Panah Warnai Proses Kremasi Korban Pembunuhan
Regional
Sanksi WFH ASN Kaltim: Tak Absen TPP Dipotong 1 Persen per Hari, Tak Lapor 2 Persen
Sanksi WFH ASN Kaltim: Tak Absen TPP Dipotong 1 Persen per Hari, Tak Lapor 2 Persen
Regional
Masih Ada Parkir Liar di Indomaret Banyumas? Laporkan ke Nomor Ini
Masih Ada Parkir Liar di Indomaret Banyumas? Laporkan ke Nomor Ini
Regional
Natalius Pigai, Penguatan HAM, dan Masa Depan Indonesia...
Natalius Pigai, Penguatan HAM, dan Masa Depan Indonesia...
Regional
Soal WFH Tiap Jumat, Bupati Ende: Kita Sudah Mulai Sejak Awal Tahun
Soal WFH Tiap Jumat, Bupati Ende: Kita Sudah Mulai Sejak Awal Tahun
Regional
Sekolah Ini Bikin Orang Tua Tak Bisa Dibohongi Absensi Anak lewat Aplikasi 'Si Apik'
Sekolah Ini Bikin Orang Tua Tak Bisa Dibohongi Absensi Anak lewat Aplikasi "Si Apik"
Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Mudik Lebaran 2026: Pengendara Motor Paling Rentan Kecelakaan di Jalur Pegunungan Sumbar
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat