PADANG, KOMPAS.com — Pengendara sepeda motor menjadi kelompok yang paling rentan mengalami kecelakaan saat melintasi jalur mudik di wilayah Sumatera Barat.
Terutama di kawasan pegunungan dengan kondisi jalan berkelok dan cuaca yang kerap berubah.
Direktur Lalu Lintas Polda Sumatera Barat Kombes Pol Muhammad Reza Chairul Akbar Sidiq mengatakan, sepeda motor memiliki tingkat risiko lebih tinggi dibanding kendaraan lain karena lebih mudah tergelincir saat kondisi jalan licin.
“Pengendara roda dua paling rentan, terutama saat hujan. Jalan yang licin dan berkabut di kawasan pegunungan bisa menyebabkan kendaraan mudah slip,” ujar Reza, Senin (16/3/2026).
Baca juga: Mudik Lebaran 2026, Uji Coba One Way Jalur Padang–Padang Panjang Mulai Diberlakukan
Selain kondisi jalan, muatan berlebih yang kerap dibawa pemudik motor juga dinilai meningkatkan potensi kecelakaan selama perjalanan.
Menurut Reza, jalur-jalur pegunungan di Sumbar memang memiliki karakteristik medan yang cukup ekstrem, seperti tikungan tajam, tanjakan dan turunan panjang, serta jarak pandang yang terbatas.
Beberapa kawasan yang dikenal memiliki kondisi tersebut antara lain jalur Sitinjau Lauik, Lembah Anai, hingga jalur Malalak yang menghubungkan Padang Panjang dan Agam.
Baca juga: Dishub Padang Jamin Ongkos Angkutan Umum Tetap Selama Libur Lebaran
Selain risiko kecelakaan, jalur mudik di Sumbar juga dihadapkan pada potensi gangguan alam seperti longsor dan pohon tumbang.
Reza menjelaskan, kawasan pegunungan seperti Malalak, Sitinjau Lauik, dan Lembah Anai memiliki potensi longsor cukup tinggi, terutama saat curah hujan meningkat.
Sementara itu, di jalur lintas Sumatera wilayah Sijunjung terdapat risiko pohon tumbang yang dapat mengganggu kelancaran arus lalu lintas.
Baca juga: Jalur Kelok 44 dan Singkarak Jadi Alternatif Utama Padang-Bukittinggi Selain Lembah Anai
“Karena itu kami menyiapkan alat berat di beberapa titik rawan untuk mempercepat penanganan jika terjadi longsor,” kata dia.
Berdasarkan evaluasi kecelakaan pada periode Lebaran sebelumnya, faktor kesalahan manusia atau human error masih menjadi penyebab dominan kecelakaan di jalur mudik Sumbar.
Bentuk pelanggaran yang sering terjadi antara lain memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi, memaksakan diri berkendara saat lelah, serta mendahului kendaraan lain di tikungan atau jalur terbatas.
Baca juga: Selain Sitinjau Lauik, Ini 6 Jalur Mudik Rawan Kecelakaan di Sumbar
Selain itu, kecelakaan juga sering terjadi akibat pengemudi kehilangan kendali, terutama di jalan menurun atau saat mencoba menyalip kendaraan di jalur sempit.
Reza menambahkan, kepolisian juga mencatat adanya waktu-waktu tertentu yang memiliki tingkat risiko kecelakaan lebih tinggi selama periode mudik.
“Jam rawan biasanya terjadi pada pukul 02.00 sampai 06.00 WIB karena itu merupakan titik kelelahan tertinggi pengemudi. Selain itu pada pukul 16.00 hingga 19.00 WIB saat arus kendaraan mulai padat,” ujarnya.
Baca juga: Mulai Hari Ini, Truk Sumbu 3 Dilarang Melintas di Jalur Mudik Sumbar hingga 29 Maret 2026
Untuk mengurangi risiko kecelakaan, polisi mengimbau pemudik agar memastikan kondisi kendaraan dalam keadaan prima sebelum melakukan perjalanan serta tidak memaksakan diri berkendara saat tubuh sudah lelah.
Pengendara sepeda motor juga diminta tidak membawa muatan berlebih serta tetap menjaga kecepatan, terutama saat melintasi jalur pegunungan yang memiliki tikungan tajam dan turunan panjang.
“Jika merasa lelah, sebaiknya berhenti dan beristirahat di pos pelayanan yang telah disediakan di sepanjang jalur mudik,” kata Reza.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang