Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Siasat Mudik ke Cirebon, Antok Pilih Naik Kereta Api Ketimbang "Terjebak" One Way

Kompas.com, 18 Maret 2026, 21:38 WIB
Titis Anis Fauziyah,
Diamanty Meiliana

Tim Redaksi

SEMARANG, KOMPAS.com – Aspal jalur tol menuju arah barat bukan lagi kawan bagi para pemudik dari arah timur.

Pemberlakuan sistem satu arah (one-way) dari Tol Cikampek seketika mengubah peta perjalanan.

Di tengah ketidakpastian arus lalu lintas itu, Antok (58) memilih cara yang lebih bersahabat bagi tubuhnya: menepi ke rel kereta api.

Bersama istrinya, Iis (55), warga asal Jepara ini tampak santai menunggu keberangkatan kereta di Stasiun Tawang, Semarang.

Bagi mereka, mudik ke Cirebon tahun ini tak perlu diwarnai ketegangan memegang kemudi belasan jam di jalur Pantura yang padat.

Baca juga: Jalur Arteri Cianjur Diprediksi Padat saat Puncak Mudik, Berikut Rute Alternatifnya

Antok mengakui kondisi fisiknya tak lagi prima seperti saat muda karena dia mudah merasa pusing dan lelah saat terkena panas matahari.

“Lima tahun terakhir saya udah enggak nyetir untuk perjalanan jauh karena umur segini capek kalau macet. Apalagi kalau nyupir biasanya melek sendiri, anak istri tidur. Jadi sekarang naik kereta lebih nyaman, bisa istirahat,” ujar Antok saat ditemui di Stasiun Tawang Semarang, Rabu (18/3/2026).

Hemat Tenaga, Hemat Ongkos Juga

Selain menghemat tenaga, keduanya sepakat moda transportasi juga menghemat ongkos mudik.

Apalagi lokasi rumah Iis di kampung halaman tak jauh dari Stasiun Cirebon.

Baca juga: Antrean Mengular di Rest Area Km 57 Tol Japek, Petugas Berlakukan Buka Tutup

Untuk keberangkatan keduanya menaiki KA Tawang Jaya Premium dan untuk kepulangan telah memesan KA Kaligung.

Iis dan Antok hanya membawa oleh-oleh dari Jepara dan sedikit barang pribadi untuk dibawa ke kampung halaman.

“Kalau pakai kereta hemat tenaga, hemat uang, enggak kena macet. Dari Jepara juga banyak agent travel ke Semarang, di Cirebon rumah saya dekat stasiun, nanti tinggal ketemuan sama anak-anak di sana,” ungkap Iis.

"Nggak Lewat Tol Bisa 12 Jam Perjalanan"

Tak jauh berbeda, rombongan keluarga asal Salatiga juga memilih mudik ke Bekasi dengan kereta api demi menghindari kemacetan yang menimbulkan stress dan kelelahan.

Hayfa (28) memilih mudik dengan suami dan kedua anaknya menggunakan KA Sembrani yang dibanderol hampir Rp 500.000 per kursinya.

Baca juga: Terlalu Lama di Tol Saldo E-Toll Bisa Kadaluwarsa?

Dia mengaku tak keberatan dengan harga tiket mengingat dirinya belum pulang kampung selama enam tahun sejak menikah dengan suaminya.

“Saya udah enam tahun ikut suami di Salatiga dan baru pulang Lebaran ini. Biasanya mobil sendiri, cuma karena sudah mulai contra flow, enggak bisa masuk tol kan. Jadinya milih kereta saja yang cepat. Soalnya kalau enggak lewat tol kan minimal 12 jam perjalanan,” beber Hayfa.

Dalam perjalanan dari Salatiga menuju Stasiun Tawang Semarang, dia diantar rombongan keluarga mertuanya.

Lalu di Bekasi rencananya akan dijemput keluarganya di sana.

“Ini pertama kali naik transportasi umum bawa anak. Sudah saya kasih tahu supaya enggak rewel,” tuturnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang


Terkini Lainnya
Fakta Pria di Kebumen Diduga Cabuli Belasan Anak di Bawah Umur
Fakta Pria di Kebumen Diduga Cabuli Belasan Anak di Bawah Umur
Regional
Aset BUMD Jateng Tembus Rp 118 Triliun, Ahmad Luthfi: Tidak Untung, Tidak Usah Jadi BUMD!
Aset BUMD Jateng Tembus Rp 118 Triliun, Ahmad Luthfi: Tidak Untung, Tidak Usah Jadi BUMD!
Regional
Gugur di Lebanon, Sosok Sertu Ichwan di Mata Eks Atasan: Prajurit Loyal dan Disiplin
Gugur di Lebanon, Sosok Sertu Ichwan di Mata Eks Atasan: Prajurit Loyal dan Disiplin
Regional
Pemprov Maluku Segera Terapkan WFH, Gubernur: Konsekuensi Kondisi Global
Pemprov Maluku Segera Terapkan WFH, Gubernur: Konsekuensi Kondisi Global
Regional
Eks Dirut BUMD Serang Dituntut 6 Tahun Penjara, Jaksa Ungkap Transaksi 'Kickback' di Parkiran Mal
Eks Dirut BUMD Serang Dituntut 6 Tahun Penjara, Jaksa Ungkap Transaksi 'Kickback' di Parkiran Mal
Regional
Maaf-maafan, Bupati dan Wabup Lebak Berdamai Usai Ribut Saat Halalbihalal
Maaf-maafan, Bupati dan Wabup Lebak Berdamai Usai Ribut Saat Halalbihalal
Regional
ASN Jateng Mau WFH? Siap-siap Lokasi Rumah Dipantau Ketat lewat 'Tagging'
ASN Jateng Mau WFH? Siap-siap Lokasi Rumah Dipantau Ketat lewat "Tagging"
Regional
Kericuhan Pecah di Mimika, Hujan Panah Warnai Proses Kremasi Korban Pembunuhan
Kericuhan Pecah di Mimika, Hujan Panah Warnai Proses Kremasi Korban Pembunuhan
Regional
Sanksi WFH ASN Kaltim: Tak Absen TPP Dipotong 1 Persen per Hari, Tak Lapor 2 Persen
Sanksi WFH ASN Kaltim: Tak Absen TPP Dipotong 1 Persen per Hari, Tak Lapor 2 Persen
Regional
Masih Ada Parkir Liar di Indomaret Banyumas? Laporkan ke Nomor Ini
Masih Ada Parkir Liar di Indomaret Banyumas? Laporkan ke Nomor Ini
Regional
Natalius Pigai, Penguatan HAM, dan Masa Depan Indonesia...
Natalius Pigai, Penguatan HAM, dan Masa Depan Indonesia...
Regional
Soal WFH Tiap Jumat, Bupati Ende: Kita Sudah Mulai Sejak Awal Tahun
Soal WFH Tiap Jumat, Bupati Ende: Kita Sudah Mulai Sejak Awal Tahun
Regional
Sekolah Ini Bikin Orang Tua Tak Bisa Dibohongi Absensi Anak lewat Aplikasi 'Si Apik'
Sekolah Ini Bikin Orang Tua Tak Bisa Dibohongi Absensi Anak lewat Aplikasi "Si Apik"
Regional
Soal Kebijakan WFH, Wali Kota Ambon: Kita Sudah Lakukan, Tinggal Disesuaikan Saja
Soal Kebijakan WFH, Wali Kota Ambon: Kita Sudah Lakukan, Tinggal Disesuaikan Saja
Regional
Dua Nelayan di Indramayu Hilang Misterius Saat Melaut, Tim SAR Dikerahkan Pencarian
Dua Nelayan di Indramayu Hilang Misterius Saat Melaut, Tim SAR Dikerahkan Pencarian
Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Siasat Mudik ke Cirebon, Antok Pilih Naik Kereta Api Ketimbang "Terjebak" One Way
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat