SEMARANG, KOMPAS.com – Aspal jalur tol menuju arah barat bukan lagi kawan bagi para pemudik dari arah timur.
Pemberlakuan sistem satu arah (one-way) dari Tol Cikampek seketika mengubah peta perjalanan.
Di tengah ketidakpastian arus lalu lintas itu, Antok (58) memilih cara yang lebih bersahabat bagi tubuhnya: menepi ke rel kereta api.
Bersama istrinya, Iis (55), warga asal Jepara ini tampak santai menunggu keberangkatan kereta di Stasiun Tawang, Semarang.
Bagi mereka, mudik ke Cirebon tahun ini tak perlu diwarnai ketegangan memegang kemudi belasan jam di jalur Pantura yang padat.
Baca juga: Jalur Arteri Cianjur Diprediksi Padat saat Puncak Mudik, Berikut Rute Alternatifnya
Antok mengakui kondisi fisiknya tak lagi prima seperti saat muda karena dia mudah merasa pusing dan lelah saat terkena panas matahari.
“Lima tahun terakhir saya udah enggak nyetir untuk perjalanan jauh karena umur segini capek kalau macet. Apalagi kalau nyupir biasanya melek sendiri, anak istri tidur. Jadi sekarang naik kereta lebih nyaman, bisa istirahat,” ujar Antok saat ditemui di Stasiun Tawang Semarang, Rabu (18/3/2026).
Selain menghemat tenaga, keduanya sepakat moda transportasi juga menghemat ongkos mudik.
Apalagi lokasi rumah Iis di kampung halaman tak jauh dari Stasiun Cirebon.
Baca juga: Antrean Mengular di Rest Area Km 57 Tol Japek, Petugas Berlakukan Buka Tutup
Untuk keberangkatan keduanya menaiki KA Tawang Jaya Premium dan untuk kepulangan telah memesan KA Kaligung.
Iis dan Antok hanya membawa oleh-oleh dari Jepara dan sedikit barang pribadi untuk dibawa ke kampung halaman.
“Kalau pakai kereta hemat tenaga, hemat uang, enggak kena macet. Dari Jepara juga banyak agent travel ke Semarang, di Cirebon rumah saya dekat stasiun, nanti tinggal ketemuan sama anak-anak di sana,” ungkap Iis.
Tak jauh berbeda, rombongan keluarga asal Salatiga juga memilih mudik ke Bekasi dengan kereta api demi menghindari kemacetan yang menimbulkan stress dan kelelahan.
Hayfa (28) memilih mudik dengan suami dan kedua anaknya menggunakan KA Sembrani yang dibanderol hampir Rp 500.000 per kursinya.
Baca juga: Terlalu Lama di Tol Saldo E-Toll Bisa Kadaluwarsa?
Dia mengaku tak keberatan dengan harga tiket mengingat dirinya belum pulang kampung selama enam tahun sejak menikah dengan suaminya.
“Saya udah enam tahun ikut suami di Salatiga dan baru pulang Lebaran ini. Biasanya mobil sendiri, cuma karena sudah mulai contra flow, enggak bisa masuk tol kan. Jadinya milih kereta saja yang cepat. Soalnya kalau enggak lewat tol kan minimal 12 jam perjalanan,” beber Hayfa.
Dalam perjalanan dari Salatiga menuju Stasiun Tawang Semarang, dia diantar rombongan keluarga mertuanya.
Lalu di Bekasi rencananya akan dijemput keluarganya di sana.
“Ini pertama kali naik transportasi umum bawa anak. Sudah saya kasih tahu supaya enggak rewel,” tuturnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang