Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cari Keadilan, Kakak Korban Dugaan Pembunuhan di Jambi Ungkap Sederet Kejanggalan Polisi

Kompas.com, 27 Maret 2026, 06:27 WIB
Aryo Tondang,
Irfan Maullana

Tim Redaksi

JAMBI, KOMPAS.com – Kasus kematian Dedi Putra (39), warga Desa Kasang Kumpeh, Muaro Jambi, kini menjadi atensi khusus Polda Jambi. Polisi menyatakan tengah memeriksa bukti-bukti ke Laboratorium Forensik guna membuat terang perkara yang sebelumnya sempat disebut sebagai kecelakaan murni tersebut.

Kabid Humas Polda Jambi, Kombes Pol Erlan Munaji, menegaskan penyidik kini menggunakan metode scientific crime investigation untuk mengungkap fakta sebenarnya. "Penyidik harus betul-betul teliti terutama dalam pembuktiannya," ujar Erlan, Kamis (26/3/2026).

Namun, di balik pernyataan polisi, kakak kandung korban, Dewi Yulianti, terus berjuang menyuarakan sederet kejanggalan yang ia temukan sejak awal adiknya tewas pada 19 Maret 2026.

Baca juga: Polda Jambi Dalami Dugaan Pembunuhan Dedi Putra, Sebelumnya Sempat Disebut Kecelakaan

Dugaan Rekayasa Kasus Kecelakaan

Dewi mengungkapkan bahwa awalnya Polsek Kumpeh Ulu menyatakan Dedi tewas akibat kecelakaan. Namun, keluarga menemukan banyak keanehan: tidak ada tempat kejadian perkara (TKP) kecelakaan, motor dan helm korban tidak rusak, bahkan tidak ada bekas luka seret khas kecelakaan di tubuh korban.

Kecurigaan keluarga terbukti setelah proses ekshumasi (bongkar makam) pada 7 Agustus 2025. Hasil medis menunjukkan Dedi tewas akibat hantaman benda tumpul di kepala dan mengalami lebam di bagian mata.

"Ini bentuk perjuangan saya untuk mencari keadilan. Adik saya dibunuh, bukan kecelakaan," tegas Dewi saat melakukan aksi jalan kaki di depan Mapolda Jambi.

Baca juga: Kasus Dedi Putra di Jambi, dari Kecelakaan ke Dugaan Pembunuhan

Misteri CCTV dan Motor PCX yang Hilang

Kejanggalan paling mencolok menurut Dewi adalah sikap penyidik terkait rekaman CCTV di kompleks perumahan. Keluarga meyakini rekaman tersebut memperlihatkan detik-detik terakhir Dedi dibonceng dalam kondisi lemas menggunakan sepeda motor Honda PCX.

"Kami kenal suaranya, bajunya, dan ciri-cirinya. Awalnya anggota Resmob sepakat itu motor PCX, tapi tak lama kemudian Polda Jambi membantah dan menyebut itu motor Vario," ungkap Dewi. Ia merasa ada upaya untuk mengaburkan jejak pemilik motor misterius tersebut yang kini diketahui sudah dijual setelah pemiliknya mangkir tiga kali dari panggilan polisi.

Data Ponsel yang Raib Secara Misterius

Persoalan lain muncul terkait barang bukti ponsel milik korban. Polisi menyebut seluruh data komunikasi di ponsel Dedi hilang. Penyidik justru menyalahkan keluarga yang sempat mencabut kartu SIM, yang diklaim polisi sebagai penyebab hilangnya data digital.

"Katanya kenapa kami keluarkan kartu dari HP sehingga datanya hilang. Padahal kami sudah serahkan nomor telepon yang terakhir kali menghubungi adik saya," kata Dewi heran.

Dewi mengaku telah bersurat kepada Kapolda Jambi dan Wakapolda Jambi. Meski telah direspons dan diteruskan ke Ditreskrimum, hingga kini keluarga merasa belum mendapatkan kejelasan pasti. Hingga berita ini diturunkan, Dirreskrimum Polda Jambi Kombes Pol Jimy Christian Samma belum memberikan respons terkait konfirmasi detail kejanggalan tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Remaja ODGJ di Jember Dipasung Keluarga, Sempat Mengamuk dan Cekik Ibunya
Remaja ODGJ di Jember Dipasung Keluarga, Sempat Mengamuk dan Cekik Ibunya
Regional
Geger Penemuan Kerangka Manusia di Lereng Gunung Muria Pati, Identitas Masih Misterius
Geger Penemuan Kerangka Manusia di Lereng Gunung Muria Pati, Identitas Masih Misterius
Regional
Fakta Pria di Kebumen Diduga Cabuli Belasan Anak di Bawah Umur
Fakta Pria di Kebumen Diduga Cabuli Belasan Anak di Bawah Umur
Regional
Aset BUMD Jateng Tembus Rp 118 Triliun, Ahmad Luthfi: Tidak Untung, Tidak Usah Jadi BUMD!
Aset BUMD Jateng Tembus Rp 118 Triliun, Ahmad Luthfi: Tidak Untung, Tidak Usah Jadi BUMD!
Regional
Gugur di Lebanon, Sosok Sertu Ichwan di Mata Eks Atasan: Prajurit Loyal dan Disiplin
Gugur di Lebanon, Sosok Sertu Ichwan di Mata Eks Atasan: Prajurit Loyal dan Disiplin
Regional
Pemprov Maluku Segera Terapkan WFH, Gubernur: Konsekuensi Kondisi Global
Pemprov Maluku Segera Terapkan WFH, Gubernur: Konsekuensi Kondisi Global
Regional
Eks Dirut BUMD Serang Dituntut 6 Tahun Penjara, Jaksa Ungkap Transaksi 'Kickback' di Parkiran Mal
Eks Dirut BUMD Serang Dituntut 6 Tahun Penjara, Jaksa Ungkap Transaksi 'Kickback' di Parkiran Mal
Regional
Maaf-maafan, Bupati dan Wabup Lebak Berdamai Usai Ribut Saat Halalbihalal
Maaf-maafan, Bupati dan Wabup Lebak Berdamai Usai Ribut Saat Halalbihalal
Regional
ASN Jateng Mau WFH? Siap-siap Lokasi Rumah Dipantau Ketat lewat 'Tagging'
ASN Jateng Mau WFH? Siap-siap Lokasi Rumah Dipantau Ketat lewat "Tagging"
Regional
Kericuhan Pecah di Mimika, Hujan Panah Warnai Proses Kremasi Korban Pembunuhan
Kericuhan Pecah di Mimika, Hujan Panah Warnai Proses Kremasi Korban Pembunuhan
Regional
Sanksi WFH ASN Kaltim: Tak Absen TPP Dipotong 1 Persen per Hari, Tak Lapor 2 Persen
Sanksi WFH ASN Kaltim: Tak Absen TPP Dipotong 1 Persen per Hari, Tak Lapor 2 Persen
Regional
Masih Ada Parkir Liar di Indomaret Banyumas? Laporkan ke Nomor Ini
Masih Ada Parkir Liar di Indomaret Banyumas? Laporkan ke Nomor Ini
Regional
Natalius Pigai, Penguatan HAM, dan Masa Depan Indonesia...
Natalius Pigai, Penguatan HAM, dan Masa Depan Indonesia...
Regional
Soal WFH Tiap Jumat, Bupati Ende: Kita Sudah Mulai Sejak Awal Tahun
Soal WFH Tiap Jumat, Bupati Ende: Kita Sudah Mulai Sejak Awal Tahun
Regional
Sekolah Ini Bikin Orang Tua Tak Bisa Dibohongi Absensi Anak lewat Aplikasi 'Si Apik'
Sekolah Ini Bikin Orang Tua Tak Bisa Dibohongi Absensi Anak lewat Aplikasi "Si Apik"
Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Cari Keadilan, Kakak Korban Dugaan Pembunuhan di Jambi Ungkap Sederet Kejanggalan Polisi
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat