Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cerita Penjual Anyaman Ketupat di Pamekasan: Berpacu dengan Waktu Sebelum Dagangan Kering

Kompas.com, 27 Maret 2026, 11:31 WIB
Fathor Rahman,
Vachri Rinaldy Lutfipambudi

Tim Redaksi

PAMEKASAN, KOMPAS.com - Suasana di Jalan Teja, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur pada Jumat (27/3/2026) tidak seramai hari sebelumnya.

Penjual anyaman ketupat mulai tutup lapak, sebagian masih bertahan.

Salah satu yang masih berjualan adalah Rusi, warga Desa Karduluk, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep.

Ia sengaja datang ke Pamekasan untuk mengais rezeki pada momen Lebaran ketupat.

Ia membawa 650 anyaman ketupat untuk dijual. Saat ini, masih tersisa sekitar 150 anyaman. Sebagian mulai tampak layu, berubah warna, mengerut, dan susut.

Anyaman ketupat memang harus bisa terjual sebelum kering.

Baca juga: Lebaran Ketupat Tradisi Dari Mana? Ini Makna dan Filosofinya 

"Ada suka dukanya. Kita harus cepat sebelum kering. Semua kembali ke rezeki," katanya sambil menunjukkan anyaman ketupat yang mulai susut.

Rusi mengatakan, anyaman ketupat bisa bertahan selama dua hari sejak dibuat. Sehingga ia harus bergegas berjualan dari sore hingga malam hari.

"Dari sejak dibuat, anyaman ketupat bisa layu dalam dua hari. Kalau sudah mengerut sudah rawan mengering," katanya.

"Meski tidak terpapar matahari langsung, anyaman bisa menyusut seiring berjalannya waktu. Kita maksimalkan penjualan saat malam hari," imbuhnya.

Harus Pandai Menentukan Harga

Rusi mengaku harus pandai menentukan harga saat berjualan ketupat.

Awal dia datang, anyaman dijual dengan harga Rp 20.000 per 10 biji atau satu ikat.

Untuk mempercepat penjualan, ia turunkan harga menjadi Rp 15.000.

Baca juga: Apa Itu Lebaran Ketupat? Ini Sejarah, Tradisi, dan Filosofinya di Bulan Syawal

Namun, saat ini jualannya belum laku semua. Ia terpaksa harus menjual murah sebelum mengering.

"Sekarang saya jual Rp 10.000 satu ikat. Satu bijinya hanya Rp 1.000, daripada tidak laku dan dibuang," ungkapnya.

Dia mengaku, hasil jualan selama dua hari ini sudah meraup untung.

"Saya terpaksa menjualnya dengan harga murah agar bisa tetap untung lebih. Sekarang lebih sepi dari tahun lalu," tuturnya.

Baca juga: Cerita Para Penganyam di Ponorogo Menjemput Rezeki Jelang Lebaran Ketupat, Bisa Raup Puluhan Juta Rupiah

Bagi dia, menjual anyaman ketupat memang ada tantangannya. Apalagi menjual dengan jumlah banyak, harus pandai menentukan harga saat pembeli ramai.

"Yang penting tidak rugi, meski ditawar, kita harus lepas. Karena kalau tersisa banyak bisa layu dan rugi," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Geger Penemuan Kerangka Manusia di Lereng Gunung Muria Pati, Identitas Masih Misterius
Geger Penemuan Kerangka Manusia di Lereng Gunung Muria Pati, Identitas Masih Misterius
Regional
Fakta Pria di Kebumen Diduga Cabuli Belasan Anak di Bawah Umur
Fakta Pria di Kebumen Diduga Cabuli Belasan Anak di Bawah Umur
Regional
Aset BUMD Jateng Tembus Rp 118 Triliun, Ahmad Luthfi: Tidak Untung, Tidak Usah Jadi BUMD!
Aset BUMD Jateng Tembus Rp 118 Triliun, Ahmad Luthfi: Tidak Untung, Tidak Usah Jadi BUMD!
Regional
Gugur di Lebanon, Sosok Sertu Ichwan di Mata Eks Atasan: Prajurit Loyal dan Disiplin
Gugur di Lebanon, Sosok Sertu Ichwan di Mata Eks Atasan: Prajurit Loyal dan Disiplin
Regional
Pemprov Maluku Segera Terapkan WFH, Gubernur: Konsekuensi Kondisi Global
Pemprov Maluku Segera Terapkan WFH, Gubernur: Konsekuensi Kondisi Global
Regional
Eks Dirut BUMD Serang Dituntut 6 Tahun Penjara, Jaksa Ungkap Transaksi 'Kickback' di Parkiran Mal
Eks Dirut BUMD Serang Dituntut 6 Tahun Penjara, Jaksa Ungkap Transaksi 'Kickback' di Parkiran Mal
Regional
Maaf-maafan, Bupati dan Wabup Lebak Berdamai Usai Ribut Saat Halalbihalal
Maaf-maafan, Bupati dan Wabup Lebak Berdamai Usai Ribut Saat Halalbihalal
Regional
ASN Jateng Mau WFH? Siap-siap Lokasi Rumah Dipantau Ketat lewat 'Tagging'
ASN Jateng Mau WFH? Siap-siap Lokasi Rumah Dipantau Ketat lewat "Tagging"
Regional
Kericuhan Pecah di Mimika, Hujan Panah Warnai Proses Kremasi Korban Pembunuhan
Kericuhan Pecah di Mimika, Hujan Panah Warnai Proses Kremasi Korban Pembunuhan
Regional
Sanksi WFH ASN Kaltim: Tak Absen TPP Dipotong 1 Persen per Hari, Tak Lapor 2 Persen
Sanksi WFH ASN Kaltim: Tak Absen TPP Dipotong 1 Persen per Hari, Tak Lapor 2 Persen
Regional
Masih Ada Parkir Liar di Indomaret Banyumas? Laporkan ke Nomor Ini
Masih Ada Parkir Liar di Indomaret Banyumas? Laporkan ke Nomor Ini
Regional
Natalius Pigai, Penguatan HAM, dan Masa Depan Indonesia...
Natalius Pigai, Penguatan HAM, dan Masa Depan Indonesia...
Regional
Soal WFH Tiap Jumat, Bupati Ende: Kita Sudah Mulai Sejak Awal Tahun
Soal WFH Tiap Jumat, Bupati Ende: Kita Sudah Mulai Sejak Awal Tahun
Regional
Sekolah Ini Bikin Orang Tua Tak Bisa Dibohongi Absensi Anak lewat Aplikasi 'Si Apik'
Sekolah Ini Bikin Orang Tua Tak Bisa Dibohongi Absensi Anak lewat Aplikasi "Si Apik"
Regional
Soal Kebijakan WFH, Wali Kota Ambon: Kita Sudah Lakukan, Tinggal Disesuaikan Saja
Soal Kebijakan WFH, Wali Kota Ambon: Kita Sudah Lakukan, Tinggal Disesuaikan Saja
Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Cerita Penjual Anyaman Ketupat di Pamekasan: Berpacu dengan Waktu Sebelum Dagangan Kering
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat