PAMEKASAN, KOMPAS.com - Suasana di Jalan Teja, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur pada Jumat (27/3/2026) tidak seramai hari sebelumnya.
Penjual anyaman ketupat mulai tutup lapak, sebagian masih bertahan.
Salah satu yang masih berjualan adalah Rusi, warga Desa Karduluk, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep.
Ia sengaja datang ke Pamekasan untuk mengais rezeki pada momen Lebaran ketupat.
Ia membawa 650 anyaman ketupat untuk dijual. Saat ini, masih tersisa sekitar 150 anyaman. Sebagian mulai tampak layu, berubah warna, mengerut, dan susut.
Anyaman ketupat memang harus bisa terjual sebelum kering.
Baca juga: Lebaran Ketupat Tradisi Dari Mana? Ini Makna dan Filosofinya
"Ada suka dukanya. Kita harus cepat sebelum kering. Semua kembali ke rezeki," katanya sambil menunjukkan anyaman ketupat yang mulai susut.
Rusi mengatakan, anyaman ketupat bisa bertahan selama dua hari sejak dibuat. Sehingga ia harus bergegas berjualan dari sore hingga malam hari.
"Dari sejak dibuat, anyaman ketupat bisa layu dalam dua hari. Kalau sudah mengerut sudah rawan mengering," katanya.
"Meski tidak terpapar matahari langsung, anyaman bisa menyusut seiring berjalannya waktu. Kita maksimalkan penjualan saat malam hari," imbuhnya.
Rusi mengaku harus pandai menentukan harga saat berjualan ketupat.
Awal dia datang, anyaman dijual dengan harga Rp 20.000 per 10 biji atau satu ikat.
Untuk mempercepat penjualan, ia turunkan harga menjadi Rp 15.000.
Baca juga: Apa Itu Lebaran Ketupat? Ini Sejarah, Tradisi, dan Filosofinya di Bulan Syawal
Namun, saat ini jualannya belum laku semua. Ia terpaksa harus menjual murah sebelum mengering.
"Sekarang saya jual Rp 10.000 satu ikat. Satu bijinya hanya Rp 1.000, daripada tidak laku dan dibuang," ungkapnya.
Dia mengaku, hasil jualan selama dua hari ini sudah meraup untung.
"Saya terpaksa menjualnya dengan harga murah agar bisa tetap untung lebih. Sekarang lebih sepi dari tahun lalu," tuturnya.
Bagi dia, menjual anyaman ketupat memang ada tantangannya. Apalagi menjual dengan jumlah banyak, harus pandai menentukan harga saat pembeli ramai.
"Yang penting tidak rugi, meski ditawar, kita harus lepas. Karena kalau tersisa banyak bisa layu dan rugi," ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang