JAMBI, KOMPAS.com – Kepala Ombudsman RI Perwakilan Provinsi Jambi, Saiful Roswandi, menyoroti video viral seorang narapidana yang diduga sedang mengonsumsi sabu-sabu sambil melakukan sambungan telepon video (video call) di dalam lembaga pemasyarakatan (lapas).
Saiful mendesak pihak lapas untuk lebih serius dalam menjalankan fungsi pembinaan dan pengawasan terhadap para warga binaan. Menurutnya, pihak lapas semestinya tidak boleh kecolongan, terutama terkait peredaran narkotika yang kerap melibatkan narapidana.
"Tindakan tegas terhadap pengedar narkoba dalam lapas mesti diambil tindakan hukum," kata Saiful, Sabtu (28/3/2026).
Baca juga: Viral Napi Diduga Hisap Sabu saat Video Call, Lapas Jambi Selidiki
Saiful menekankan pentingnya transparansi dalam penanganan kasus ini. Ia memperingatkan bahwa jika kejadian serupa terus berulang tanpa adanya sanksi yang nyata, maka kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemasyarakatan akan tergerus.
"Tanpa ada tindakan tegas, publik dapat menduga adanya permainan," tegas Saiful.
Dalam video berdurasi 1 menit 49 detik yang beredar di media sosial, tampak seorang pria sedang menggenggam alat isap sabu-sabu saat melakukan video call. Kepulan asap putih tebal terlihat memenuhi ruangan tempat narapidana tersebut berada, dengan sedotan yang masih menempel di bibirnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Lapas Kelas II A Jambi, Syahroni Ali, menyatakan bahwa informasi yang beredar saat ini masih bersifat sumir atau belum jelas lokasi pastinya.
"Ini informasinya masih sumir, kita enggak tahu ini di lapas mana. Di narasi yang viral cuma nyebut Lapas Jambi, kan lapas Jambi banyak, ada di Muara Sabak, Sarolangun, dan ini kita belum tahu," kata Syahroni saat dikonfirmasi Kompas.com, Jumat (27/3/2026).
Meski demikian, Syahroni memastikan pihaknya tengah menelusuri kebenaran informasi tersebut. Ia berjanji akan memberikan sanksi berat jika terbukti peristiwa itu terjadi di Lapas Kelas II A Jambi.
"Kalau ini memang benar, saya pastikan ada hukuman berat terhadap napi yang bersangkutan," jelasnya.
Syahroni juga mengaku terkejut dengan munculnya video tersebut, lantaran pihaknya baru saja menggelar razia internal di lingkungan lapas. "Kami baru saja melakukan razia kemarin, tapi ini masih kita telusuri," pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang