Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PLN Jatim Bakal Perbaiki Aset yang Hilang atau Terendam Lahar Erupsi Gunung Semeru

Kompas.com, 20 November 2025, 15:35 WIB
Andhi Dwi Setiawan,
Aloysius Gonsaga AE

Tim Redaksi

SURABAYA, KOMPAS.com - PT PLN mencatat sejumlah tiang listrik dan gardu distribusi terdampak erupsi Gunung Semeru, Rabu (19/11/2025).

Oleh karena itu, pihaknya berkoordinasi dengan BPBD untuk proses perbaikan.

General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Timur (Jatim), Ahmad Mustaqir mengatakan, pihaknya telah mengecek sejumlah aset di lokasi terdampak untuk pemetaan.

Kemudian, kata Ahmad, pihaknya mencatat 10 buah tiang patah atau hilang serta gardu distribusi kapasitas 100 KVA (Kilo Volt-Ampere), yang menyuplai 100 pelanggan terendam lahar.

Baca juga: Gunung Semeru Erupsi, KAI Daop 9 Jember Cek Jalur Kereta Terdekat dengan Semeru

"Saat ini kami terus berkoordinasi dengan BPBD setempat untuk memastikan kondisi aman dan siap untuk melaksanakan recovery pada jaringan terdampak," kata Ahmad, melalui rilisan tertulisnya, Kamis (20/11/2025).

Lebih lanjut, Ahmad menyebut, PLN juga menyalurkan bantuan di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Pihaknya juga mengevakuasi warga yang berada di zona merah.

Sedangkan, bantuan yang diberikan, seperti diapers, makanan siap saji, obat-obatan, selimut hingga masker. Selain itu, PLN juga mendirikan dapur darurat untuk kebutuhan logistik warga.

"Kami juga akan menyalurkan bantuan tambahan dari YBM (Yayasan Baitul Maal) PLN dan PLN Peduli semoga dapat meringankan beban warga yang terdampak," ucapnya.

Baca juga: Dampak Erupsi Gunung Semeru, 143 Ternak Warga Mati

Diberitakan sebelumnya, BPBD Jatim mengimbau warga yang menonton dampak erupsi Gunung Semeru untuk menggunakan alat pelindung diri (APD).

Gunung Semeru yang berlokasi di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, meletus pada Rabu (19/11/2025). Gunung itu mengeluarkan awan panas guguran (APG) sejauh 14 kilometer dari puncak kawah.

Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto meminta masyarakat yang menonton lokasi terdampak erupsi untuk berhati-hati karena tanah yang terdampak kondisinya panas.

"Pastinya di lokasi terdampak, masyarakat akan banyak melihat kondisi di Lumajang. Tapi tetap kehati-hatian perlu dijaga karena tanah mungkin sebagian masih panas,” kata Gatoto, Kamis (20/11/2025).

Baca juga: Kondisi SDN 2 Supiturang Usai Erupsi Semeru, Bangunan Hilang Tersisa Fondasi

Gatot mengatakan, saat ini aktivitas Gunung Semeru mulai mereda. Sebagian pengungsi kembali untuk melihat kondisi rumah.

“Mohon berhati-hati karena pasir yang dipijak sebagian masih panas dan perlu menggunakan perangkat keselamatan baik itu sepatu, jaket, dan masker,” terangnya.

Imbauan tersebut demi keselamatan masyarakat, sebab debu dampak awan panas masih ada dan sewaktu-waktu terjadi perubahan kondisi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
ASN Pemkot Surabaya Akan Diwajibkan Naik Transportasi Umum Setiap Rabu atau Kamis
ASN Pemkot Surabaya Akan Diwajibkan Naik Transportasi Umum Setiap Rabu atau Kamis
Surabaya
Banyuwangi Uji Coba ASN Bersepeda ke Kantor, Dorong Pola Hidup Aktif dan Efisien
Banyuwangi Uji Coba ASN Bersepeda ke Kantor, Dorong Pola Hidup Aktif dan Efisien
Surabaya
Polemik Pengosongan Gedung di Balai Pemuda, Pemkot Surabaya Sebut untuk Penataan
Polemik Pengosongan Gedung di Balai Pemuda, Pemkot Surabaya Sebut untuk Penataan
Surabaya
Wagub Emil Dardak Pastikan Alih Fungsi Hutan untuk Perumahan di Prigen Belum Kantongi Izin
Wagub Emil Dardak Pastikan Alih Fungsi Hutan untuk Perumahan di Prigen Belum Kantongi Izin
Surabaya
Banyuwangi Tak Buru-buru Terapkan WFH, Pelayanan Publik Jadi Pertimbangan Utama
Banyuwangi Tak Buru-buru Terapkan WFH, Pelayanan Publik Jadi Pertimbangan Utama
Surabaya
WFH Jumat di Kota Blitar, ASN Harus Absen dan Lapor Progres Kerja
WFH Jumat di Kota Blitar, ASN Harus Absen dan Lapor Progres Kerja
Surabaya
ASN Kota Batu WFH Setiap Jumat, Pemkot Juga Buka Opsi Bersepeda ke Kantor
ASN Kota Batu WFH Setiap Jumat, Pemkot Juga Buka Opsi Bersepeda ke Kantor
Surabaya
Ikuti Arahan Pusat, Pemprov Jatim Siapkan Skema Pemangkasan Perjalanan Dinas
Ikuti Arahan Pusat, Pemprov Jatim Siapkan Skema Pemangkasan Perjalanan Dinas
Surabaya
Sopir Truk Blokade Jalur ke Pelabuhan Ketapang, Kesal Aksi Serobot Antrean
Sopir Truk Blokade Jalur ke Pelabuhan Ketapang, Kesal Aksi Serobot Antrean
Surabaya
Kronologi Pengunjung Mikutopia Pingsan saat Antre Tiket hingga Meninggal, Punya Riwayat Darah Tinggi
Kronologi Pengunjung Mikutopia Pingsan saat Antre Tiket hingga Meninggal, Punya Riwayat Darah Tinggi
Surabaya
Eri Cahyadi Marah TPS di Surabaya Jadi Parkir Gerobak hingga Rongsokan
Eri Cahyadi Marah TPS di Surabaya Jadi Parkir Gerobak hingga Rongsokan
Surabaya
BBM Aman tapi Warga Tetap Antre: Kisah Cemas di SPBU Jatim
BBM Aman tapi Warga Tetap Antre: Kisah Cemas di SPBU Jatim
Surabaya
Pondok Gontor Larang Pengajar di Bawah 30 Tahun Naik Motor, Ini Aturan Lengkapnya
Pondok Gontor Larang Pengajar di Bawah 30 Tahun Naik Motor, Ini Aturan Lengkapnya
Surabaya
Skema Dirombak, Pemkab Sumenep Pindah WFH ke Jumat
Skema Dirombak, Pemkab Sumenep Pindah WFH ke Jumat
Surabaya
Hari Pertama WFH, Khofifah Larang ASN Jatim Nonaktifkan Ponsel
Hari Pertama WFH, Khofifah Larang ASN Jatim Nonaktifkan Ponsel
Surabaya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau