SURABAYA, KOMPAS.com - Satu tenda persegi yang ukurannya tak begitu besar sekitar 1,5 meter berdiri di depan sebuah ruko samping Jalan Pacuan Kuda, Surabaya.
Tiap sore selalu ditunggu pembeli.
Jalan Pacuan Kuda yang berada di kawasan Sawahan Surabaya ini setiap sore hingga malam hari tak pernah sepi.
Ribuan pelanggan berdatangan berburu kuliner dan jajanan untuk memanjakan perut.
Dari sekian tenda dan gerobak kuliner, salah satu tenda yang berada di depan pintu masuk Jalan Petemon Sidomulyo 3A kompornya terus menyala, memasak adonan berjam-jam.
Baca juga: Cara Membuat Martabak Manis Mini 250 Gram Tepung Terigu, Lembut dan Bersarang
Tangan Nurul, penjual martabak jadul Madura dengan cekatan mengambil sedikit bulatan adonan tepung lalu dipipihkan di atas alas piring.
Lalu membungkusnya dengan berbagai varian isian.
Nurul tak sendiri, ia dibantu suami dan dua perempuan lainnya saling berbagi tugas.
Meracik martabak, menggoreng, dan mencatat deretan pesanan pelanggan.
Sementara pelanggan-pelanggannya tak sabar menunggu giliran pesanannya siap disajikan.
Mereka antre berjam-jam atau datang lebih dulu sebelum Nurul membuka lapaknya.
Sesekali Nurul mengajak pelanggannya berbincang dan bercanda agar tidak bosan menunggu meski tangannya tak berhenti meracik pesanan.
“Ramainya pelanggan ini mungkin penasaran sama isiannya karena banyak,” kata Romli, suami Nurul saat ditemui Kompas.com di lapak, Kamis (8/1/2026).
Baca juga: Cara Mudah Bikin Martabak Telur Pakai Kulit Lumpia, Ini Trik Agar Tidak Pecah saat Digoreng!
Romli dan Nurul sudah membuka usaha jualan martabak jadul Madura sejak menjelang momen Ramadan tahun lalu pada 2024.
Hampir satu tahun berjalan, tendanya nyaris tak pernah sepi.