Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cari Rumput untuk Pakan Ternak, Pria di Blitar Tewas Tertimbun Longsor

Kompas.com, 16 Maret 2026, 08:06 WIB
Asip Agus Hasani,
Novianti Setuningsih

Tim Redaksi

BLITAR, KOMPAS.com – Suyoto (57), warga Dusun Genjong, Desa Ngadirenggo, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, tertimbun material tanah longsor saat sedang mencari rumput di pekarangan rumah pada Minggu (15/3/2026) sore.

Setelah dilakukan pencarian selama sekitar dua jam oleh warga bersama tim relawan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, Suyoto berhasil ditemukan namun dalam kondisi meninggal.

“Upaya menemukan korban berlangsung sekitar dua jam. Namun, korban sudah meninggal ketika ditemukan dari timbunan tanah longsor sekitar pukul 16.00 WIB,” ujar Kepala BPBD Kabupaten Blitar, Wahyudi, kepada Kompas.com, Minggu petang.

Wahyudi mengaku, tidak mengetahui persis apa penyebab tewasnya Suyoto. Namun, dia mengatakan bahwa volume tanah longsor yang menimbun Suyoto cukup besar.

“Bagian dari tebing yang longsor berukuran panjang sekitar 20 meter dan tebal 6 hingga 7 meter,” ujarnya.

Baca juga: Tiket Bus AKAP di Blitar Naik Saat Arus Balik Lebaran, Kenaikan Baru pada Bus AKDP

Wahyudi mengatakan bahwa bencana tanah longsor tersebut diawali dengan hujan deras yang berlangsung sejak Minggu siang.

Kemudian, sekitar pukul 15.30 WIB, terjadi tanah longsor yang menimpa Suyoto.

“Kebetulan ada saksi mata yang melihat korban sedang mencari rumput. Setelah longsor terjadi, saksi tidak melihat keberadaan korban,” katanya.

Saksi mata tersebut, menurut dia, segera mengabarkan kemungkinan Suyoto tertimpa material longsor kepada warga lainnya.

“Saat Tim BPBD tiba di lokasi, warga sudah bergotong royong menggali material tanah longsor yang menimbun korban,” ujar Wahyudi.

Baca juga: Mudik Lebaran, Polres Blitar Kota Siapkan Tambal Ban dan Penitipan Kendaraan Gratis

Selain menewaskan Suyoto, tanah longsor di lokasi tersebut juga mengakibatkan bangunan dapur rumah warga bernama Jino yang berdiri di atas tebing mengalami kerusakan.

“Jadi posisi korban ini mencari rumput di lereng tebing. Sedangkan rumah Pak Jino ada di atas tebing,” katanya.

Wahyudi mengatakan, bencana tanah longsor di Desa Ngadirenggo sebenarnya terjadi di dua titik lokasi.

“Longsor di lokasi satunya tidak sampai berdampak pada masyarakat. Hanya terdapat satu rumah warga yang nyaris tertimpa material longsor,” ujarnya.

Lebih lanjut, Wahyudi mengimbau kepada warga Kabupaten Blitar yang tinggal di daerah rawan longsor terutama di wilayah Blitar bagian utara, untuk waspada pada tingginya curah hujan yang sedang terjadi.

Baca juga: Omzet Pedagang Jasa Tukar Uang Lebaran di Blitar Ambles: Hanya Untung Rp 1.000-Rp 2.000

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
ASN Pemkot Surabaya Akan Diwajibkan Naik Transportasi Umum Setiap Rabu atau Kamis
ASN Pemkot Surabaya Akan Diwajibkan Naik Transportasi Umum Setiap Rabu atau Kamis
Surabaya
Banyuwangi Uji Coba ASN Bersepeda ke Kantor, Dorong Pola Hidup Aktif dan Efisien
Banyuwangi Uji Coba ASN Bersepeda ke Kantor, Dorong Pola Hidup Aktif dan Efisien
Surabaya
Polemik Pengosongan Gedung di Balai Pemuda, Pemkot Surabaya Sebut untuk Penataan
Polemik Pengosongan Gedung di Balai Pemuda, Pemkot Surabaya Sebut untuk Penataan
Surabaya
Wagub Emil Dardak Pastikan Alih Fungsi Hutan untuk Perumahan di Prigen Belum Kantongi Izin
Wagub Emil Dardak Pastikan Alih Fungsi Hutan untuk Perumahan di Prigen Belum Kantongi Izin
Surabaya
Banyuwangi Tak Buru-buru Terapkan WFH, Pelayanan Publik Jadi Pertimbangan Utama
Banyuwangi Tak Buru-buru Terapkan WFH, Pelayanan Publik Jadi Pertimbangan Utama
Surabaya
WFH Jumat di Kota Blitar, ASN Harus Absen dan Lapor Progres Kerja
WFH Jumat di Kota Blitar, ASN Harus Absen dan Lapor Progres Kerja
Surabaya
ASN Kota Batu WFH Setiap Jumat, Pemkot Juga Buka Opsi Bersepeda ke Kantor
ASN Kota Batu WFH Setiap Jumat, Pemkot Juga Buka Opsi Bersepeda ke Kantor
Surabaya
Ikuti Arahan Pusat, Pemprov Jatim Siapkan Skema Pemangkasan Perjalanan Dinas
Ikuti Arahan Pusat, Pemprov Jatim Siapkan Skema Pemangkasan Perjalanan Dinas
Surabaya
Sopir Truk Blokade Jalur ke Pelabuhan Ketapang, Kesal Aksi Serobot Antrean
Sopir Truk Blokade Jalur ke Pelabuhan Ketapang, Kesal Aksi Serobot Antrean
Surabaya
Kronologi Pengunjung Mikutopia Pingsan saat Antre Tiket hingga Meninggal, Punya Riwayat Darah Tinggi
Kronologi Pengunjung Mikutopia Pingsan saat Antre Tiket hingga Meninggal, Punya Riwayat Darah Tinggi
Surabaya
Eri Cahyadi Marah TPS di Surabaya Jadi Parkir Gerobak hingga Rongsokan
Eri Cahyadi Marah TPS di Surabaya Jadi Parkir Gerobak hingga Rongsokan
Surabaya
BBM Aman tapi Warga Tetap Antre: Kisah Cemas di SPBU Jatim
BBM Aman tapi Warga Tetap Antre: Kisah Cemas di SPBU Jatim
Surabaya
Pondok Gontor Larang Pengajar di Bawah 30 Tahun Naik Motor, Ini Aturan Lengkapnya
Pondok Gontor Larang Pengajar di Bawah 30 Tahun Naik Motor, Ini Aturan Lengkapnya
Surabaya
Skema Dirombak, Pemkab Sumenep Pindah WFH ke Jumat
Skema Dirombak, Pemkab Sumenep Pindah WFH ke Jumat
Surabaya
Hari Pertama WFH, Khofifah Larang ASN Jatim Nonaktifkan Ponsel
Hari Pertama WFH, Khofifah Larang ASN Jatim Nonaktifkan Ponsel
Surabaya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau