SURABAYA, KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda memprediksi awal musim kemarau 2026 di Jawa Timur, akan terjadi secara bertahap mulai April hingga Juni 2026.
Kepala Stasiun Metereologi Kelas I BMKG Juanda, Taufiq Hermawan, menjelaskan bahwa sebagian besar wilayah diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada bulan Mei 2026, dengan sebanyak 43 zona musim (ZOM).
“Awal musim kemarau di sebagian wilayah diprediksi mundur dari normalnya (36 ZOM),” kata Taufiq, Minggu (15/3/2026).
Baca juga: BMKG Juanda Peringatkan Potensi Cuaca Ekstrem 10 Hari ke Depan di Jatim, Ini Wilayahnya
Dia menyebut, curah hujan pada musim kemarau diperkirakan antara 201–300 mm (19 ZOM) dan 301–400 mm (20 ZOM).
Kemudian, sifat hujan musim kemarau di sebagian besar wilayah Jatim diprediksi di bawah normal (56 ZOM).
“Durasi musim kemarau diperkirakan antara 19 sampai 21 dasarian di sebagian besar wilayah,” ujarnya.
Sementara puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026 (53 ZOM).
Taufiq pun mengimbau untuk beberapa wilayah pertanian di Jatim yang diprediksi akan mengalami musim kemarau lebih kering dan lebih panjang.
Baca juga: BMKG Prediksi 75 Persen Wilayah Jatim Alami Kemarau Lebih Panjang dan Kering
Oleh karena itu, dia menyebut, perlu penyesuaian varietas padi umur pendek yang tahan kering dan penyesuaian kalender tanam dari tanaman padi ke palawija. Hal itu untuk menjaga produktivitas dan mengurangi risiko gagal panen.
Taufq menambahkan, penting juga memaksimalkan panen air hujan di periode akhir musim hujan 2025/2026 untuk pengisian waduk.
Dalam rangka pemenuhan air konsumsi masyarakat, pembangkit listri tenaga air, dan alokasi irigasi yang efesien.
“Perencanaan penanggulangan kekurangan air bersih untuk konsumsi masarakat dan potensi kebakaran lahan dan hutan sebaiknya juga mulai dilakukan,” katanya.
Baca juga: Polda Jatim Batasi Operasional Angkutan Barang Kecuali Muatan Tertentu Selama Mudik 2026
Selain itu, untuk menanggulangi potensi El Nino perlu dilakukan upaya diversifikasi ekonomi dan peningkatan pendapatan petani dan nelayan melalui optimialisasi pemanfaatan lahan.
Di antanya dengan memperluas budidaya tanaman hortikultura, serta meningkatkan produksi garam rakyat.
“Langkah ini menjadi salah satu strategi untuk mendukung diversifikasi ekonomi dan menjaga petani dan nelayan selama musim kemarau,” pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang