Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

158 Hektar Sawah di Pasuruan Terendam Banjir, Petani Terancam Gagal Panen

Kompas.com, 27 Maret 2026, 19:10 WIB
Moh. Anas,
Reni Susanti

Tim Redaksi

PASURUAN, KOMPAS.com - Cuaca ekstrem yang memicu banjir di wilayah Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, mulai berdampak buruk pada sektor pertanian.

158 hektar lahan sawah di 2 kecamatan terendam banjir dalam sepekan terakhir.

Kondisi ini membuat para petani terancam gagal panen (puso), mengingat air luapan sungai belum sepenuhnya surut dari area persawahan.

Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Pasuruan, sebaran dampak banjir terparah berada di Kecamatan Rejoso dan Kecamatan Winongan.

Baca juga: Kebakaran Kayu Sisa Banjir Aceh Utara Sulit Dipadamkan

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Pasuruan, Ainur Alfiyah mengungkapkan, mayoritas tanaman padi yang terendam masih berada dalam fase pertumbuhan.

“Total ada 158 hektar lahan padi yang terdampak banjir. Saat ini kami terus melakukan pendataan dan pemantauan intensif di lapangan. Karena masih ada sawah yang terendam di kecamatan lain,” ujarnya, Jumat (27/3/2026).

Di Kecamatan Rejoso, desa-desa yang menjadi sentra produksi padi seperti Desa Kawisrejo, Toyaning, dan Kedungbako menjadi wilayah terdampak paling luas.

Ketinggian air yang merendam batang padi bervariasi yang mengancam kelangsungan hidup tanaman.

Tanaman padi yang terdampak rata-rata berusia antara 20 hingga 80 hari setelah tanam (HST). Usia tersebut merupakan masa vegetatif dan generatif yang sangat rentan terhadap pembusukan jika terendam air dalam waktu lama.

Baca juga: Aceh Timur Belum Pulih, 1.259 Jiwa Penyintas Banjir Masih Mengungsi

Minimalisir Kerugian Petani

Pihak dinas mengeklaim sudah melakukan langkah-langkah teknis untuk meminimalisir kerugian petani.

Fokus utama saat ini adalah mempercepat pengeringan lahan agar genangan tidak merusak sistem perakaran padi.

“Hingga saat ini, penanganan teknis sudah dilakukan di sekitar 83 hektar lahan untuk menekan risiko kerusakan lebih lanjut,” tambah Ainur.

Meski langkah mitigasi terus berjalan, ancaman gagal panen tetap bergantung pada kondisi cuaca beberapa hari ke depan.

Jika hujan dengan intensitas tinggi kembali mengguyur hulu sungai, dikhawatirkan banjir susulan akan memperparah kondisi tanaman yang sudah lemas akibat terendam.

Saat ini, petugas lapangan bersama kelompok tani (poktan) setempat terus bersiaga melakukan koordinasi terkait bantuan pompa air maupun evaluasi potensi kerugian materiil yang dialami petani di wilayah timur Pasuruan tersebut.

"Kami juga masih mendata area persawahan di wilayah barat Pasuruan yang kini juga terendam banjir, seperti di Desa Kedungringin Kecamatan Beji," pungkasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
ASN Pemkot Surabaya Akan Diwajibkan Naik Transportasi Umum Setiap Rabu atau Kamis
ASN Pemkot Surabaya Akan Diwajibkan Naik Transportasi Umum Setiap Rabu atau Kamis
Surabaya
Banyuwangi Uji Coba ASN Bersepeda ke Kantor, Dorong Pola Hidup Aktif dan Efisien
Banyuwangi Uji Coba ASN Bersepeda ke Kantor, Dorong Pola Hidup Aktif dan Efisien
Surabaya
Polemik Pengosongan Gedung di Balai Pemuda, Pemkot Surabaya Sebut untuk Penataan
Polemik Pengosongan Gedung di Balai Pemuda, Pemkot Surabaya Sebut untuk Penataan
Surabaya
Wagub Emil Dardak Pastikan Alih Fungsi Hutan untuk Perumahan di Prigen Belum Kantongi Izin
Wagub Emil Dardak Pastikan Alih Fungsi Hutan untuk Perumahan di Prigen Belum Kantongi Izin
Surabaya
Banyuwangi Tak Buru-buru Terapkan WFH, Pelayanan Publik Jadi Pertimbangan Utama
Banyuwangi Tak Buru-buru Terapkan WFH, Pelayanan Publik Jadi Pertimbangan Utama
Surabaya
WFH Jumat di Kota Blitar, ASN Harus Absen dan Lapor Progres Kerja
WFH Jumat di Kota Blitar, ASN Harus Absen dan Lapor Progres Kerja
Surabaya
ASN Kota Batu WFH Setiap Jumat, Pemkot Juga Buka Opsi Bersepeda ke Kantor
ASN Kota Batu WFH Setiap Jumat, Pemkot Juga Buka Opsi Bersepeda ke Kantor
Surabaya
Ikuti Arahan Pusat, Pemprov Jatim Siapkan Skema Pemangkasan Perjalanan Dinas
Ikuti Arahan Pusat, Pemprov Jatim Siapkan Skema Pemangkasan Perjalanan Dinas
Surabaya
Sopir Truk Blokade Jalur ke Pelabuhan Ketapang, Kesal Aksi Serobot Antrean
Sopir Truk Blokade Jalur ke Pelabuhan Ketapang, Kesal Aksi Serobot Antrean
Surabaya
Kronologi Pengunjung Mikutopia Pingsan saat Antre Tiket hingga Meninggal, Punya Riwayat Darah Tinggi
Kronologi Pengunjung Mikutopia Pingsan saat Antre Tiket hingga Meninggal, Punya Riwayat Darah Tinggi
Surabaya
Eri Cahyadi Marah TPS di Surabaya Jadi Parkir Gerobak hingga Rongsokan
Eri Cahyadi Marah TPS di Surabaya Jadi Parkir Gerobak hingga Rongsokan
Surabaya
BBM Aman tapi Warga Tetap Antre: Kisah Cemas di SPBU Jatim
BBM Aman tapi Warga Tetap Antre: Kisah Cemas di SPBU Jatim
Surabaya
Pondok Gontor Larang Pengajar di Bawah 30 Tahun Naik Motor, Ini Aturan Lengkapnya
Pondok Gontor Larang Pengajar di Bawah 30 Tahun Naik Motor, Ini Aturan Lengkapnya
Surabaya
Skema Dirombak, Pemkab Sumenep Pindah WFH ke Jumat
Skema Dirombak, Pemkab Sumenep Pindah WFH ke Jumat
Surabaya
Hari Pertama WFH, Khofifah Larang ASN Jatim Nonaktifkan Ponsel
Hari Pertama WFH, Khofifah Larang ASN Jatim Nonaktifkan Ponsel
Surabaya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau