PASURUAN, KOMPAS.com - Deru mesin perahu saling bersahutan memecah ketenangan pesisir Desa Tambak Lekok, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur pada Minggu (29/3/2026).
Bukan sedang berangkat melaut, puluhan nelayan ini tengah bersiap dalam ajang balap perahu fiber yang memacu adrenalin.
Begitu bendera start dikibarkan, para peserta langsung menancap gas, berebut posisi terdepan untuk menaklukkan lintasan laut.
Kemeriahan ini merupakan bagian dari rangkaian tradisi tahunan petik laut yang digelar oleh masyarakat pesisir setempat dalam momen Hari Raya Idul Fitri.
Baca juga: Serunya Lomba Balap Perahu Tradisional di Semarang, Dayung Pakai Tangan Kosong
Lomba balap perahu fiber ini tidak hanya sekadar adu kecepatan mesin. Para nelayan yang bertindak sebagai joki harus menunjukkan keahlian manuver yang mumpuni.
"Persiapannya mulai dari kondisi mesin, cek kemudi, hingga fisik. Kita harus kuat melawan arus ombak dan tetap stabil saat berbelok tajam di perlintasan," ujar Muhammad Huda, salah satu peserta balap.
Perlombaan ini dibagi menjadi dua kategori utama berdasarkan ukuran perahu.
Kelas A perahu dengan panjang di atas 6,2 meter, sedangkan Kelas B untuk perahu dengan panjang di bawah 6,2 meter.
Setiap babak penyisihan mempertemukan dua peserta yang harus mengitari lintasan sejauh 2 kilometer atau sebanyak 2 putaran.
Kepala Desa Tambak Lekok, Muhammad Djamil menjelaskan tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk mempererat tali silaturahmi dan kebersamaan antarnelayan di wilayah Pantura Pasuruan.
Baca juga: Melihat Tradisi Balap Perahu Layar di Selat Bali, Memohon Keselamatan dan Tangkapan Melimpah
"Ini ajang tahunan yang selalu dinanti. Selain sebagai hiburan gratis bagi ribuan penonton yang hadir, ini adalah cara kami menjaga kerukunan antarnelayan," katanya.
Antusiasme penonton yang meluap di sepanjang bibir pantai menunjukkan potensi besar ajang ini sebagai daya tarik wisata.
Para nelayan pun menaruh harapan besar agar Pemerintah Kabupaten Pasuruan memberikan dukungan lebih terhadap kegiatan ini.
Selain masuk kalender wisata tahunan resmi daerah, event ini juga mampu menggerakkan ekonomi lokal melalui sektor pariwisata.
"Karena berangkat dari kegiatan tradisional yang menarik, bisa jadi momen bagi UMKM menjual produknya," pungkasnya
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang