Penulis
KOMPAS.com - Malas bekerja dan beraktivitas seperti biasanya selepas menikmati libur Hari Raya?
Bisa jadi Anda mengalami post-holiday blues, fenomena psikologis yang umum dialami banyak orang selepas menikmati masa libur panjang.
Setelah momen libur panjang seperti Idul Fitri atau akhir tahun, tidak sedikit orang justru merasa sedih, cemas, atau kehilangan semangat saat kembali ke rutinitas.
Fenomena ini bukan gangguan mental serius, melainkan respons emosional sementara yang cukup umum terjadi setelah periode liburan berakhir.
Dilansir dari American Psychological Association, dalam kajian psikologi, post-holiday blues merujuk pada perasaan murung, lelah secara emosional, atau kurang motivasi setelah liburan usai.
Kondisi ini terjadi karena adanya perubahan drastis dari suasana santai saat liburan ke tekanan rutinitas sehari-hari.
Seperti diketahui, selama liburan, seseorang biasanya memiliki lebih banyak waktu untuk keluarga, istirahat, dan aktivitas menyenangkan. Ketika semua itu berakhir, tubuh dan pikiran perlu beradaptasi kembali, yang dapat memicu ketidaknyamanan emosional.
Gejala post-holiday blues yang sering muncul seperti:
Gejala ini biasanya berlangsung singkat, mulai dari beberapa hari hingga satu minggu setelah liburan.
Baca juga: Psikolog Ungkap Alasan Kerabat Sering Tanya “Kapan Nikah” dan “Kapan Punya Anak” Saat Lebaran
Dilansir dari Antara, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan fenomena mudik dapat memunculkan dinamika psikologis, yakni post-holiday blues.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi mengatakan, setelah Lebaran banyak orang mengalami gejala seperti sedih, lelah, cemas, kehilangan motivasi, dan sulit berkonsentrasi akibat sejumlah faktor, antara lain perjalanan panjang, tekanan finansial, dan ekspektasi untuk tampil sukses.
"Survei World Travel & Tourism Council (WTTC) tahun 2023, mencatat 41 persen pemudik Indonesia mengalami gejala kecemasan dan depresi ringan hingga sedang," kata Imran.
Fenomena ini memiliki dampak luas, seperti produktivitas kerja menurun, biaya ekonomi meningkat akibat absensi dan penurunan kinerja, serta risiko gangguan mental lebih serius jika tidak ditangani.
Imran mengatakan, cara mengatasi post-holiday blues sebenarnya cukup sederhana, namun membutuhkan kesadaran diri dan konsistensi.
Setelah libur panjang, sebaiknya lakukan transisi secara bertahap, misalnya ambil satu hingga dua hari untuk menata ulang rutinitas sebelum kembali bekerja penuh.