Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Desy, Lulus S3 UNY IPK 4,00 dengan Predikat Summa Cumlaude

Kompas.com, 30 Januari 2026, 14:15 WIB
Melvina Tionardus,
Mahar Prastiwi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Menurut Desy Purwasih belajar sains tidak harus selalu di dalam laboratorium. Tetapi juga bisa dari melihat budaya setempat seperti upacara Sekaten.

Desy baru saja menuntaskan sidang promosi doktor di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Desy yang merupakan kelahiran Desember 1997, berasal dari Kecamatan Mantewe, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.

Ia lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) sempurna dan meraih predikat pujian tertinggi (summa cumlaude) setelah 36 bulan masa studi dengan beasiswa.

"Alhamdulillah, bisa sampai ke titik ini. Momen yang sangat bermakna bagi saya. Bukan hanya capaian akademik, tapi juga perjalanan yang panjang, sarat akan proses, pengorbanan, doa dan juga pembelajaran hidup," kata Desy, Rabu (28/1/2026), dikutip dari Antara.

Baca juga: Dosen UNY Buktikan Anak Tunarungu Bisa Main Musik, Buka Ruang Ekspresikan Diri

Buat disertasi dengan topik bahasan sekaten

Desy menyusun disertasi tentang pengembangan model pembelajaran Project Creative Pedagogy (PCP) terintegrasi Etnosains "Sekaten" untuk meningkatkan design thinking skill dan scientific argumentation.

Ia mampu mempertahankan hasil penelitiannya di hadapan empat guru besar dari berbagai keahlian bidang keilmuan, sambil didampingi dua guru besar lainnya sebagai promotor dan co-promotor.

Menurutnya kehadiran budaya yang kini sudah mulai pudar, bukan hanya untuk dilestarikan namun juga menjadi bahan untuk menyadarkan peserta didik bahwa sains itu dekat dengan kehidupan sehari-hari.

"Mengombinasikan pembelajaran project dan etnosains dapat membekali calon pendidik supaya lebih aware dengan kelestarian budaya dan kreatif dalam mendesain pembelajaran IPA yang berbasis etnoasins," ujarnya.

Baca juga: UNY Lantik 3 Guru Besar Perempuan, Bidang Pendidikan hingga Olahraga

Kuliah tinggi ingin angkat derajat orangtua

Gelar Doktor bukan suatu target yang ditentukannya di awal kehidupan.

"Tidak pernah terlintas dari benak keluarga kami bahwa keluarga sederhana yang tumbuh di daerah transmigran Mantewe, jauh dari kata berkecukupan bisa meraih gelar doktor. Namun, Alhamdulillah saya bisa sampai titik ini dan jadi awal bagi saya untuk lebih belajar lagi," ujarnya.

Ingin mengangkat derajat orangtua menjadi motivasi Desy untuk berada di jenjang S3.

Ia bertekad membuktikan bahwa perempuan kecil yang lahir dari keluarga sederhana bisa menempuh pendidikan tinggi. Juga agar bisa menginspirasi bahwa setiap insan punya hak untuk terus belajar dan belajar.

Baca juga: Dulu Ragu Bisa Kuliah, Kini Leni Jadi Mahasiswa Berprestasi UNY dengan IPK 3,99

Selama masa studi doktoralnya Desy berhasil mempublikasikan empat artikel di jurnal internasional scopus (2 Q1 dan 2 Q3), menghasilkan sembilan artikel di prosiding terindeks scopus.

Serta menghasilkan lebih dari 10 artikel di jurnal nasional bereputasi yang terindeks sinta.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau