Penulis
KOMPAS.com - Libur panjang saat Lebaran dijadikan para perantau untuk pulang ke kampung halaman.
Momen mudik ke kampung halaman ini menjadi kesempatan untuk memulihkan energi dan motivasi karena penat dengan rutinitas pekerjaan.
Pakar Psikologi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Meita Santi Budiani, menjelaskan bahwa mudik memiliki fungsi psikologis penting dalam menjaga keseimbangan mental individu sebelum kembali lagi menjalani rutinitas di perantauan.
Ia memaparkan bahwa esensi mudik terletak pada proses silaturahmi dan interaksi tatap muka dengan keluarga.
Baca juga: Dosen Unesa Bagikan Tips Jaga Pola Makan Sehat Pasca Ramadhan
Di tengah dinamika perantauan yang menuntut kemandirian penuh, dukungan sosial dari lingkungan asal menjadi faktor penguat kondisi emosional.
Secara psikologis, mudik menjadi ajang untuk reconnect atau menyambung kembali hubungan sosial yang sempat terbatas oleh jarak.
Interaksi langsung dengan orangtua dan kerabat memungkinkan perantau mendapatkan dukungan emosional yang konsisten.
“Para perantau, termasuk mahasiswa, sering kali menghadapi berbagai persoalan di perantauan secara mandiri. Pertemuan dengan keluarga saat mudik menjadi sarana untuk mendapatkan kembali dukungan serta motivasi dari lingkungan terdekat,” jelas Meita Santi Budiani dikutip dari laman Unesa, Senin (23/3/2026).
Baca juga: Cerita Annas Jadi Lulusan Terbaik S2 Unesa, IPK 4,00 dan Punya 142 Hak Kekayaan Intelektual
Ilustrasi mudikMomen ini juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang komunikasi terbuka untuk berbagi pengalaman maupun tantangan hidup.
Sudut pandang dari keluarga diharapkan mampu membantu individu melihat persoalan secara lebih luas, yang berkontribusi pada stabilitas kesehatan mental.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa mudik mampu membangkitkan kembali motivasi atau spirit melalui kehadiran atau pengamatan langsung terhadap kondisi keluarga.
Bagi mahasiswa atau pekerja muda, melihat kembali keseharian orangtua, pertumbuhan adik-adik, serta kehangatan kerabat sering kali memperkuat tekad untuk mencapai tujuan hidup.
Interaksi fisik ini menjadi pengingat bagi perantau mengenai alasan awal mereka berjuang di tanah rantau.
Baca juga: Cerita Akbar, Bikin Sistem Pengelolaan Sampah dengan AI hingga Jadi Lulusan Terbaik Unesa
Kesadaran akan harapan dan kondisi keluarga tersebut secara psikologis mendorong individu untuk meningkatkan performa belajarnya atau kinerjanya, dengan tujuan akhir membanggakan orang-orang terdekat.
Dalam konteks budaya, mudik identik dengan tradisi saling memaafkan yang membawa pengaruh positif terhadap optimisme individu.