Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mudik Jadi Sarana Recharge Energi dan Penguat Motivasi bagi Perantau, Ini Penjelasan Dosen Unesa

Kompas.com, 23 Maret 2026, 11:03 WIB
Mahar Prastiwi

Penulis

KOMPAS.com - Libur panjang saat Lebaran dijadikan para perantau untuk pulang ke kampung halaman.

Momen mudik ke kampung halaman ini menjadi kesempatan untuk memulihkan energi dan motivasi karena penat dengan rutinitas pekerjaan.

Pakar Psikologi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Meita Santi Budiani, menjelaskan bahwa mudik memiliki fungsi psikologis penting dalam menjaga keseimbangan mental individu sebelum kembali lagi menjalani rutinitas di perantauan.

Ia memaparkan bahwa esensi mudik terletak pada proses silaturahmi dan interaksi tatap muka dengan keluarga.

Baca juga: Dosen Unesa Bagikan Tips Jaga Pola Makan Sehat Pasca Ramadhan

Perantau dapatkan dukungan emosional yang konsisten

Di tengah dinamika perantauan yang menuntut kemandirian penuh, dukungan sosial dari lingkungan asal menjadi faktor penguat kondisi emosional.

Secara psikologis, mudik menjadi ajang untuk reconnect atau menyambung kembali hubungan sosial yang sempat terbatas oleh jarak.

Interaksi langsung dengan orangtua dan kerabat memungkinkan perantau mendapatkan dukungan emosional yang konsisten.

“Para perantau, termasuk mahasiswa, sering kali menghadapi berbagai persoalan di perantauan secara mandiri. Pertemuan dengan keluarga saat mudik menjadi sarana untuk mendapatkan kembali dukungan serta motivasi dari lingkungan terdekat,” jelas Meita Santi Budiani dikutip dari laman Unesa, Senin (23/3/2026).

Baca juga: Cerita Annas Jadi Lulusan Terbaik S2 Unesa, IPK 4,00 dan Punya 142 Hak Kekayaan Intelektual

Ilustrasi mudikPexels Ilustrasi mudik

Bangkitkan kembali motivasi atau spirit

Momen ini juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang komunikasi terbuka untuk berbagi pengalaman maupun tantangan hidup.

Sudut pandang dari keluarga diharapkan mampu membantu individu melihat persoalan secara lebih luas, yang berkontribusi pada stabilitas kesehatan mental.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa mudik mampu membangkitkan kembali motivasi atau spirit melalui kehadiran atau pengamatan langsung terhadap kondisi keluarga.

Bagi mahasiswa atau pekerja muda, melihat kembali keseharian orangtua, pertumbuhan adik-adik, serta kehangatan kerabat sering kali memperkuat tekad untuk mencapai tujuan hidup.

Interaksi fisik ini menjadi pengingat bagi perantau mengenai alasan awal mereka berjuang di tanah rantau.

Baca juga: Cerita Akbar, Bikin Sistem Pengelolaan Sampah dengan AI hingga Jadi Lulusan Terbaik Unesa

Tidak bisa mudik, jangan dijadikan beban psikologis

Kesadaran akan harapan dan kondisi keluarga tersebut secara psikologis mendorong individu untuk meningkatkan performa belajarnya atau kinerjanya, dengan tujuan akhir membanggakan orang-orang terdekat.

Dalam konteks budaya, mudik identik dengan tradisi saling memaafkan yang membawa pengaruh positif terhadap optimisme individu.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau