Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

"Teror" di Laut China Selatan, Jet Tempur Beijing Gertak Kapal Perang Inggris

Kompas.com, 30 September 2025, 17:12 WIB
Inas Rifqia Lainufar

Penulis

LONDON, KOMPAS.com — Militer China melakukan manuver berbahaya meski tanpa rudal terhadap kapal perang Angkatan Laut Kerajaan Inggris saat melintasi wilayah sengketa di Laut China Selatan.

Sebagaimana diberitakan The Independent, Selasa (30/9/2025), fregat HMS Richmond milik AL Inggris yang berlayar di Selat Taiwan awal bulan ini menjadi sasaran jet tempur China yang melakukan gerakan layaknya hendak menyerang.

Sementara itu, kapal induk HMS Prince of Wales dan kapal-kapal lain yang tergabung dalam armada juga dilaporkan dilacak dan diganggu kapal perang China ketika melewati Kepulauan Spratly.

Baca juga: Kapal Perang Kanada dan Australia Lintasi Selat Taiwan, China Monitor Penuh

“Mereka seolah mau membunuh kami"

Seorang perwira di kapal induk HMS Prince of Wales menggambarkan manuver itu seperti sedang berperang.

“Mereka seolah-olah mau membunuh kami,” ujar perwira tersebut.

“Mereka mengikuti jalur yang biasanya digunakan untuk meluncurkan serangan—naik ke ketinggian tertentu, lalu berbalik dengan sudut 50 derajat," tambahnya.

Ia menambahkan, tujuan China adalah menunjukkan bahwa kapal Inggris sedang menjadi target mereka tanpa dirudal.

“Mereka ingin kami tahu kalau mereka mengincar kami. Kami memang mengantisipasi adanya reaksi, tapi bukan yang bersifat kekerasan. Kami yakin mereka tidak akan benar-benar menembakkan rudal,” lanjutnya.

Kapal perang China buntuti kapal Inggris

Selain manuver udara, kapal-kapal Inggris juga dilaporkan dibuntuti oleh kapal perang China ketika melintas di Kepulauan Spratly, wilayah sengketa yang diklaim China, Filipina, Malaysia, dan Brunei.

Baca juga: Kapal China Hancur Usai Ditabrak Kapal Perang Sendiri, Tak Gubris Bantuan Filipina

Rohan Lewis, perwira jaga di HMS Prince of Wales, mengatakan, kapalnya sempat dikepung beberapa kapal China.

“Mereka mencoba mengganggu kami, ada empat atau lima kapal yang mendekat. Mereka seperti menguji seberapa jauh bisa mendorong kami,” katanya.

Latihan Navigasi Kebebasan

Konvoi kapal Inggris itu merupakan bagian dari Carrier Strike Group di bawah operasi Highmast, melibatkan hampir 4.500 personel militer Inggris dan internasional.

Armada ini telah berlayar melalui Laut Merah, Laut Tengah, hingga berkunjung ke Oman, Singapura, Jepang, dan Australia.

Pelayaran mereka melalui Laut China Selatan disebut sebagai bagian dari latihan kebebasan navigasi, untuk menegaskan hak lintas di perairan internasional dan menolak klaim sepihak Beijing atas kawasan tersebut.

Seorang perwira Prince of Wales menilai manuver China juga memberi pelajaran tersendiri.

Halaman:

Terkini Lainnya
Irak Mendadak 'Lupa Perang' Usai Lolos Piala Dunia, Ukir Sejarah 40 Tahun
Irak Mendadak "Lupa Perang" Usai Lolos Piala Dunia, Ukir Sejarah 40 Tahun
Internasional
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Internasional
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Internasional
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Internasional
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Internasional
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal 'Nyangkut' di Ruang Mesin
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal "Nyangkut" di Ruang Mesin
Internasional
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Internasional
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Internasional
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
"Teror" di Laut China Selatan, Jet Tempur Beijing Gertak Kapal Perang Inggris
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat