Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pegunungan Tersembunyi Nepal Jadi Daya Tarik Baru bagi Pendaki Dunia

Kompas.com, 22 Oktober 2025, 10:54 WIB
Albertus Adit

Penulis

Sumber AFP

KATHMANDU, KOMPAS.com – Nepal selama ini dikenal sebagai rumah bagi gunung tertinggi di dunia, Everest.

Namun, kini perhatian para pendaki mulai bergeser ke pegunungan tersembunyi yang menawarkan ketenangan, tantangan baru, dan peluang menjadi yang pertama menapakkan kaki di puncaknya.

Negara di kawasan Himalaya ini memiliki delapan dari sepuluh puncak tertinggi dunia. Setiap tahun, ratusan pendaki datang untuk menaklukkan gunung-gunung megah tersebut, menjadikan kegiatan pendakian sebagai salah satu sektor wisata paling menguntungkan bagi Nepal.

Baca juga: Gen Z Nepal Antusias Daftar Pemilih Usai Demo Mematikan Gulingkan Pemerintah

Meski Everest dan deretan puncak 8.000 meter masih mendominasi ekspedisi komersial, generasi pendaki baru kini justru mencari petualangan di gunung-gunung setinggi 6.000 hingga 7.000 meter yang belum banyak dijelajahi.

Diketahui, Nepal memiliki 462 puncak terbuka untuk pendakian, dan sekitar 100 di antaranya belum pernah didaki siapa pun.

“Jika Anda hanya tertarik pada ketinggian puncaknya, maka pilihan gunung akan terbatas,” kata pendaki dan pemimpin ekspedisi asal Perancis, Paulo Grobel, kepada AFP.

“Tapi kalau Anda terbuka pada puncak di bawah 7.900 meter, potensinya sangat besar. Masih banyak puncak di ketinggian 6.900 meter yang menanti untuk didaki,” lanjutnya.

Musim gugur ini, pemerintah Nepal telah mengeluarkan 1.323 izin pendakian. Sebagian besar memang ditujukan bagi ekspedisi besar di gunung populer, tetapi semakin banyak tim kecil dan independen memilih jalur-jalur terpencil di wilayah yang jarang tersentuh pendaki.

Beberapa di antara mereka, seperti tim asal Perancis, Jepang, dan Swiss, memilih mendaki dengan gaya Alpen, yakni tanpa oksigen tambahan, tanpa tali tetap, serta membawa seluruh perlengkapan mereka sendiri.

Baca juga: Tanah Longsor di Nepal Tewaskan 42 Orang, India Catat 20 Korban Jiwa

Petualangan yang lebih murni

Pendakian bergaya Alpen bukanlah hal baru, tetapi kini kembali diminati karena menawarkan pengalaman yang lebih murni dan penuh tantangan.

“Ini tantangan yang sangat besar. Gaya Alpen benar-benar berbeda dalam hal keterampilan dan gairah. Petualangannya jauh lebih besar,” ujar pendaki asal Perancis, Benjamin Vedrines (33), setelah berhasil menaklukkan puncak Jannu East (7.468 meter) bersama rekannya, Nicolas Jean.

Vedrines menilai pegunungan di bawah 8.000 meter di Nepal memiliki daya tarik tersendiri. “Ketinggiannya memang di bawah 8.000 meter, mungkin dianggap kurang bergengsi, tapi gunung-gunung itu diremehkan. Masih banyak yang bisa dijelajahi,” ujarnya.

Pergeseran tren dan isu keberlanjutan

Ilustrasi Himalayaphys Ilustrasi Himalaya

Pergeseran tren ini juga dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran soal keberlanjutan, kepadatan, dan komersialisasi pendakian di gunung-gunung besar.

“Dengan makin banyaknya pendaki di ketinggian 8.000 meter, ini sebenarnya perkembangan yang indah,” kata Billi Bierling, pengelola Himalayan Database yang mendokumentasikan ekspedisi di Nepal.

Halaman:

Terkini Lainnya
Mengapa Israel Menolak Disalahkan Atas Gugurnya 3 Prajurit TNI di Lebanon?
Mengapa Israel Menolak Disalahkan Atas Gugurnya 3 Prajurit TNI di Lebanon?
Internasional
Irak Mendadak 'Lupa Perang' Usai Lolos Piala Dunia, Ukir Sejarah 40 Tahun
Irak Mendadak "Lupa Perang" Usai Lolos Piala Dunia, Ukir Sejarah 40 Tahun
Internasional
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Internasional
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Internasional
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Internasional
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Internasional
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal 'Nyangkut' di Ruang Mesin
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal "Nyangkut" di Ruang Mesin
Internasional
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Internasional
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Internasional
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Pegunungan Tersembunyi Nepal Jadi Daya Tarik Baru bagi Pendaki Dunia
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat