Penulis
KOMPAS.com- Sudah lebih dari dua minggu sejak kematian tragis aktor Tiongkok Yu Menglong pada 11 September di Beijing, China.
Namun kematian yang dilabeli pihak kepolisian sebagai 'insiden terkait alkohol' itu masih terus menyisakan banyak pertanyaan.
Bahkan, pernyataan ibu Yu Menglong tentang kematian putranya yang diakui sebagai kecelakaan, tetap tak mengurangi kecurigaan publik di China terhadap penyebab kematian Yu Menglong.
Banyak detail yang meresahkan muncul, memicu spekulasi dan menambah lapisan kecurigaan.
Baca juga: Kematian Yu Menglong Bukan Kriminal, Polisi Tegaskan Hoaks di Medsos
Berikut alasan penyebab kematian Yu Menglong masih menimbulkan kecurigaan.
Polisi Beijing dilaporkan menutup kasus tersebut hanya dalam 12 jam, sementara media Neican mengklaim bahwa anggota komite tetap Partai Komunis Tiongkok (PKT) Cai Qi mengeluarkan perintah lisan yang menuntut agar kematian Menglong disensor sepenuhnya di semua tingkat pemerintahan.
Konon beredar prinsip yang disebut "Tiga Tidak": Dilarang berpartisipasi, Dilarang berdiskusi, dan Dilarang menjelajah "untuk bersenang-senang".
Rumor bahkan menyebutkan bahwa pelanggarnya bisa dikenakan hukuman berat.
Bahkan, dilaporkan ada tiga netizen yang dilacak dan didakwa menyebarkan rumor tentang kematian Menglong.
Baca juga: Ditemukan Pagi Ini, Aktor Populer Yu Menglong Meninggal Dunia
"Pembersihan" di media sosial
Media sosial China, Weibo telah memasuki mode pembersihan penuh, dilaporkan menghapus lebih dari 100.000 unggahan terkait meninggalnya Menglong, memblokir ribuan akun, dan menangguhkan fungsi komentar untuk lebih dari 15.000 akun.
"Kalau memang benar-benar kecelakaan, kenapa harus ada sensor ketat?" tanya seorang netizen.
Teori konspirasi Yu Menglong Kasus ini telah memicu spekulasi yang lebih kelam di dunia maya. Beberapa unggahan yang belum diverifikasi menuduh Yu Menglong telah dimasukkan dalam daftar hitam industri hiburan karena menolak mematuhi "aturan tersembunyi" yang melibatkan tokoh-tokoh berpengaruh.
Beberapa rumor bahkan menyebutkan bahwa ia dibius dan diserang sebelum didorong keluar gedung ketika ia mengancam akan melaporkan kejahatan tersebut.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang