Penulis
KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap bahwa Indonesia saat ini tengah berada dalam masa peralihan menuju dominasi Monsun Australia.
Dalam masa peralihan ini, BMKG mengingatkan agar masyarakat tetap harus waspada potensi cuaca ekstrem.
Dilansir dari laman resminya, BMKG menyebut, dalam periode arus balik Lebaran, yaitu 26–29 Maret 2026, hujan dengan intensitas lebat masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.
"Curah hujan tertinggi terpantau di Papua Selatan sebesar 140.0 mm/hari," kata BMKG.
Selain itu, tercatat juga di Sumatera Utara 105.2 mm/hari, Jawa Tengah 94.1 mm/hari, Aceh 92.0 mm/hari, dan Papua 78.6 mm/hari.
Kondisi ini dipicu oleh aktivitas gelombang atmosfer berupa gelombang Rossby Ekuatorial dan Kelvin yang masih berpengaruh di sejumlah wilayah, serta diperkuat oleh mulai beralihnya dominasi Monsun Asia menuju Monsun Australia yang memicu terbentuknya pola sirkulasi dan konvergensi di beberapa wilayah.
Baca juga: Serangan Ulat Bulu di Boyolali, Serbu Gereja dan Permukiman Jelang Paskah
Dalam sepekan ke depan, fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO) berada pada fase netral, terlihat dari indeks NINO 3.4 sebesar -0,51 yang tidak memberikan peningkatan yang signifikan terhadap aktivitas konvektif di wilayah Indonesia.
Sementara itu, nilai Dipole Mode Index (DMI) sebesar -0,13 dan berada pada fase netral yang menunjukkan tidak adanya aliran udara signifikan dari Samudra Hindia timur Afrika ke wilayah Indonesia, khususnya bagian barat, sehingga pengaruhnya terhadap distribusi curah hujan di Indonesia juga masih terbatas.
Pada skala regional, Monsun Australia terpantau mengalami penguatan dan akan terus menguat dalam beberapa hari ke depan. Hal ini berkontribusi terhadap peningkatan aliran massa udara dari wilayah Australia menuju Indonesia, yang umumnya bersifat lebih kering.
Selain itu, ada dominasi angin timuran di sebagian besar wilayah Indonesia yang menjadi salah satu indikasi bahwa sebagian wilayah mulai memasuki periode peralihan menuju musim kemarau.
Di sisi lain, aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) secara spasial diprakirakan melintasi wilayah Sumatera bagian utara hingga tengah serta sebagian Papua, sehingga berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut.
Gelombang Rossby Ekuatorial yang berpropagasi ke arah barat juga diprakirakan aktif melintasi sebagian wilayah Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Maluku Utara.
Sedangkan Gelombang Kelvin yang berpropagasi ke arah timur diprakirakan turut aktif dan melintasi wilayah Aceh, Sumatera Utara, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta sebagian wilayah Papua.
Sirkulasi siklonik juga berpotensi terbentuk di Samudra Hindia Barat Aceh, Laut Natuna, dan Samudra Pasifik utara Papua.
Sistem-sistem ini membentuk daerah konvergensi dan konfluensi di Aceh, Laut Natuna, Kalimantan Barat, dan Samudera Pasifik utara Papua sehingga meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah tersebut.