Editor
KOMPAS.com – Fenomena astronomi Pink Moon atau Purnama Pink dijadwalkan akan menghiasi langit Indonesia pada Rabu (1/4/2026) malam. Banyak masyarakat bertanya-tanya, apakah fenomena ini memerlukan alat khusus untuk disaksikan?
Profesor Astronomi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, memberikan penjelasan terkait cara mengamati fenomena tahunan ini. Menurutnya, masyarakat tidak perlu khawatir jika tidak memiliki perangkat optik canggih.
Baca juga: Fenomena Pink Moon 1 April 2026, Begini Cara Menyaksikannya di Indonesia
Thomas menegaskan bahwa Pink Moon 1 April 2026 sangat mudah diamati secara langsung oleh masyarakat umum di seluruh wilayah Indonesia selama cuaca mendukung.
"Dapat diamati tanpa alat atau dengan teleskop plus kamera," ujar Thomas saat dihubungi di Jakarta.
Artinya, masyarakat cukup keluar rumah dan menatap langit ke arah terbitnya bulan untuk menikmati keindahan purnama ini. Penggunaan mata telanjang sudah cukup untuk melihat fase purnama secara utuh. Namun, bagi mereka yang ingin melihat detail kawah bulan atau mengabadikannya dalam foto, penggunaan alat tambahan tetap diperbolehkan.
Meskipun dapat dilihat sepanjang malam, ada waktu-waktu tertentu yang dianggap paling ideal untuk menyaksikan fenomena Pink Moon ini agar tampak lebih menawan.
Thomas menjelaskan bahwa pengamatan bisa dimulai sejak matahari terbenam.
"Bulan purnama dapat diamati mulai maghrib sampai menjelang matahari terbit," kata Thomas menjelaskan.
Baca juga: Pink Moon Awal April 2026, Ini Waktu Puncak dan Asal-usul Namanya
Momen sesaat setelah bulan terbit (waktu maghrib) sering kali menjadi favorit karena adanya efek ilusi optik. Saat bulan masih berada di posisi rendah dekat cakrawala, atmosfer bumi akan membiaskan cahaya yang membuat bulan tampak jauh lebih besar dan berwarna keemasan sebelum akhirnya memutih saat naik ke posisi tinggi.
Selain kemudahan akses tanpa alat, Thomas juga memastikan bahwa aktivitas melihat bulan purnama ini sepenuhnya aman bagi kesehatan mata. Berbeda dengan gerhana matahari yang memerlukan filter khusus, cahaya bulan purnama tidak memiliki radiasi yang membahayakan penglihatan.
"Tidak ada dampak negatifnya. Dampak secara umum sama dengan purnama lainnya," tutur Thomas.
Ia juga meluruskan bahwa meskipun namanya "Pink Moon", bulan tidak akan berubah warna menjadi merah muda. Penamaan ini hanyalah istilah tradisional untuk purnama di bulan April, sementara secara fisik, bulan akan tetap terlihat putih kekuningan seperti biasanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang