YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Para lurah se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bakal membawa hasil bumi untuk merayakan ulang tahun ke-80 Gubernur sekaligus Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X pada 2 April 2026.
Ketua Nayantaka, Gandang, menyampaikan, setiap daerah nantinya akan membawa hasil-hasil bumi sesuai dengan ciri khas daerah masing-masing. Hasil bumi ini akan diserahkan kepada Ngarsa Dalem.
“Ini bentuk kekhasan dari masing-masing kalau Kulon Progo adanya duren ya bawa duren gapapa. Nanti dekat pesisir bawa kelapa gapapa, monggo,” ujarnya, Senin (30/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa hasil-hasil bumi ini agar jangan sampai memberatkan para lurah dan menjadi penghalang untuk berkumpul bersama.
“Kami pengurus Nayantaka tidak mewajibkan monggo sesuai dengan potensi yang ada di kelurahan tersebut. Mungkin dari Gunungkidul bawa telo ya monggo gapapa,” kata dia.
Baca juga: Silaturahmi Gubernur DIY Sri Sultan HB X dan Warga Diramaikan Puluhan Pedagang
Informasi awal yang ia terima dari Keraton Yogyakarta, hasil bumi nanti akan diterima langsung oleh Sultan Hamengku Buwono X.
Setelah diterima, Sultan akan membagikan kembali hasil bumi kepada bupati dan wali kota.
“Jadi saya dapat info dari keraton itu Ngarsa Dalem menerima hasil itu, nanti itu dipasrahkan ke bupati dibagikan bagi yang memerlukan. Ini bentuk gotong royong sebetulnya, jadi nanti yang diterima Keraton diserahkan bupati masing-masing dan wali kota untuk membagikan ke masyarakat yang membutuhkan,” jelas dia.
Gandang menjelaskan, dalam perayaan atau mangayubagya ikut bersukacita atas ulang tahun ke 80 Sultan HB X bakal dihadiri oleh 10.000 hingga 12.000 orang.
Jumlah itu merupakan hitungan kasar yang terdiri dari pamong dan juga lurah seluruh DIY.
“Perkiraan nanti tiap kelurahan itu ada 20 perwakilan, secara kasar 10.000 sampai 12.000 untuk kami lurah-lurah,” katanya.
Baca juga: Libur Jualan demi Ngalap Berkah, Antusias Warga Yogyakarta Silaturahmi dengan Sultan HB X
Dia menyampaikan, para lurah akan menggunakan pakaian adat Jawa atau pakaian adat khas Yogyakarta.
Pihaknya juga mempersilakan masyarakat DIY untuk ikut serta dengan menggunakan batik.
“Kalau untuk wanita ada dua pilihan bisa pakai pakaian adat jika berjilbab pakai batik jadi jelasnya seperti itu,” kata dia.
“Kita ini terbuka untuk umum masyarakat mau gabung monggo,” imbuh Gandang.