
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
KETERGANTUNGAN Indonesia pada beras sebagai pangan pokok telah berlangsung puluhan tahun. Meski stabilitas pasokan beras selalu dijaga, realitas konsumsi memperlihatkan dominasi yang hampir absolut: rata-rata konsumsi beras nasional mencapai sekitar 92,1 kilogram per kapita per tahun pada 2024, atau hampir setara 250 gram per hari per orang.
Dominasi ini tidak hanya terjadi di pedesaan, tetapi juga di kawasan urban, di mana preferensi terhadap nasi sebagai sumber karbohidrat utama terus menguat dibanding sumber lain. Ketergantungan semacam ini memiliki implikasi serius terhadap ketahanan pangan nasional, terutama ketika tekanan perubahan iklim dan gangguan produksi membuat komoditas lain semakin rentan.
Meski pemerintah mampu menjaga kecukupan beras melalui surplus produksi—misalnya terdapat surplus sekitar 1,46 juta ton pada paruh pertama 2024 dari total produksi sekitar 16,88 juta ton —ketergantungan pada satu komoditas membuat sistem pangan nasional menjadi kurang resilien terhadap guncangan eksternal.
Dalam konteks inilah, visi pembangunan pangan yang lebih beragam semestinya menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang. Diversifikasi pangan bukan sekadar jargon, tetapi solusi nyata untuk mengurangi risiko ketergantungan.
Indonesia kaya dengan komoditas lokal yang sebenarnya layak menjadi alternatif sumber pangan utama, salah satunya adalah ubi jalar. Menurut data Kementerian Pertanian, produksi ubi jalar nasional pada 2024 tercatat sekitar 1,38 juta ton, angka yang meskipun menunjukkan potensi, cenderung stagnan atau menurun jika dibandingkan tren historis.
Ini menunjukkan bahwa meskipun ubi jalar dikenal sebagai sumber karbohidrat lokal yang adaptif, pengembangannya masih belum optimal, baik dari sisi produksi maupun konsumsi domestik.
Baca juga: Misteri DNA Ubi Jalar Terpecahkan, Bisa Ubah Masa Depan Pertanian
Pada sisi konsumsi, data statistik menunjukkan bahwa konsumsi umbi-umbian, yang mencakup singkong, kentang, dan ubi jalar, masih jauh di bawah konsumsi beras: total konsumsi umbi-umbian rata-rata sekitar 15–17 kilogram per kapita per tahun, dengan konsumsi ubi jalar sendiri hanya sekitar 3,2–3,6 kilogram per kapita per tahun dalam beberapa tahun terakhir.
Perbedaan angka ini tidak bisa dilepaskan dari persepsi sosial dan budaya yang menempatkan beras sebagai makanan utama, sementara umbi-umbian sering dipandang sebagai pangan cadangan atau pangan kelas dua. Padahal dari aspek agronomi, ubi jalar memiliki keunggulan kompetitif: ia relatif toleran terhadap tanah marginal, curah hujan tidak menentu, serta biaya produksi yang umumnya lebih rendah dibanding padi.
Ketergantungan pada beras juga memiliki implikasi lingkungan. Lahan sawah menyumbang proporsi besar emisi sektor pertanian nasional, sehingga menjaga keberlanjutan pertanian padi membutuhkan integrasi strategi yang memperhitungkan dampak ekologis.
Diversifikasi pangan, seperti peningkatan konsumsi dan produksi ubi jalar, menawarkan beberapa keuntungan:
Baca juga: Manfaat Ubi Jalar Oranye, Pangan Sehat Lokal yang Kaya Nutrisi dan Antioksidan
Beberapa tantangan memang masih perlu dijawab: produktivitas ubi jalar secara nasional masih rendah bila dibandingkan potensi di sentra produksi, di mana produktivitas bisa mencapai sekitar 35 ton per hektar di lahan yang dikelola baik. Ini berarti ada ruang besar untuk perbaikan teknologi budidaya, pembibitan yang unggul, serta dukungan kebijakan yang memungkinkan petani mendapatkan insentif dan akses pasar.
Kebijakan yang mendukung diversifikasi pangan perlu menjangkau berbagai aspek: penelitian varietas unggul, dukungan kredit dan asuransi pertanian, serta kampanye edukasi konsumsi di tingkat rumah tangga.
Intervensi semacam ini tidak hanya membantu stabilitas pangan nasional, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru melalui pengembangan industri berbasis umbi-umbian.
Ketika kita terlalu bergantung pada beras, kita membatasi opsi kita sendiri dalam menghadapi tantangan masa depan. Ketahanan pangan seharusnya dibangun atas pluralitas sumber pangan, bukan dominasi satu komoditas. Diversifikasi bukan hanya kata populer, tetapi kebutuhan strategis.
Indonesia memiliki sejarah panjang dengan makanan lokal seperti ubi jalar, sagu, singkong, dan jagung. Menempatkan komoditas ini kembali pada posisi strategis tidak hanya memberi ruang bagi ketahanan pangan, tetapi juga menguatkan nilai kebudayaan pangan nusantara yang beragam.
Ketika pilihan konsumsi semakin beragam, masyarakat tidak hanya makan untuk mengenyangkan perut, tetapi juga membangun sistem pangan yang lebih tangguh, sehat, dan berkelanjutan.
Baca juga: Kentang atau Ubi Jalar: Mana yang Lebih Sehat?
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang