Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Desfal Triati
Dosen

Desfal Triati, dosen Fakultas Pertanian Universitas Andalas (Kampus III Dharmasraya). Menaruh perhatian pada isu pertanian, perkebunan rakyat, dan pengembangan pangan lokal berbasis riset lapangan.

Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras

Kompas.com, 25 Februari 2026, 07:41 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

KETERGANTUNGAN Indonesia pada beras sebagai pangan pokok telah berlangsung puluhan tahun. Meski stabilitas pasokan beras selalu dijaga, realitas konsumsi memperlihatkan dominasi yang hampir absolut: rata-rata konsumsi beras nasional mencapai sekitar 92,1 kilogram per kapita per tahun pada 2024, atau hampir setara 250 gram per hari per orang.

Dominasi ini tidak hanya terjadi di pedesaan, tetapi juga di kawasan urban, di mana preferensi terhadap nasi sebagai sumber karbohidrat utama terus menguat dibanding sumber lain. Ketergantungan semacam ini memiliki implikasi serius terhadap ketahanan pangan nasional, terutama ketika tekanan perubahan iklim dan gangguan produksi membuat komoditas lain semakin rentan.

Meski pemerintah mampu menjaga kecukupan beras melalui surplus produksi—misalnya terdapat surplus sekitar 1,46 juta ton pada paruh pertama 2024 dari total produksi sekitar 16,88 juta ton —ketergantungan pada satu komoditas membuat sistem pangan nasional menjadi kurang resilien terhadap guncangan eksternal.

Dalam konteks inilah, visi pembangunan pangan yang lebih beragam semestinya menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang. Diversifikasi pangan bukan sekadar jargon, tetapi solusi nyata untuk mengurangi risiko ketergantungan.

Indonesia kaya dengan komoditas lokal yang sebenarnya layak menjadi alternatif sumber pangan utama, salah satunya adalah ubi jalar. Menurut data Kementerian Pertanian, produksi ubi jalar nasional pada 2024 tercatat sekitar 1,38 juta ton, angka yang meskipun menunjukkan potensi, cenderung stagnan atau menurun jika dibandingkan tren historis.

Ini menunjukkan bahwa meskipun ubi jalar dikenal sebagai sumber karbohidrat lokal yang adaptif, pengembangannya masih belum optimal, baik dari sisi produksi maupun konsumsi domestik.

Baca juga: Misteri DNA Ubi Jalar Terpecahkan, Bisa Ubah Masa Depan Pertanian

Pada sisi konsumsi, data statistik menunjukkan bahwa konsumsi umbi-umbian, yang mencakup singkong, kentang, dan ubi jalar, masih jauh di bawah konsumsi beras: total konsumsi umbi-umbian rata-rata sekitar 15–17 kilogram per kapita per tahun, dengan konsumsi ubi jalar sendiri hanya sekitar 3,2–3,6 kilogram per kapita per tahun dalam beberapa tahun terakhir.

Perbedaan angka ini tidak bisa dilepaskan dari persepsi sosial dan budaya yang menempatkan beras sebagai makanan utama, sementara umbi-umbian sering dipandang sebagai pangan cadangan atau pangan kelas dua. Padahal dari aspek agronomi, ubi jalar memiliki keunggulan kompetitif: ia relatif toleran terhadap tanah marginal, curah hujan tidak menentu, serta biaya produksi yang umumnya lebih rendah dibanding padi.

Ketergantungan pada beras juga memiliki implikasi lingkungan. Lahan sawah menyumbang proporsi besar emisi sektor pertanian nasional, sehingga menjaga keberlanjutan pertanian padi membutuhkan integrasi strategi yang memperhitungkan dampak ekologis.

Diversifikasi pangan, seperti peningkatan konsumsi dan produksi ubi jalar, menawarkan beberapa keuntungan:

  • Ketahanan Sistem Pangan: Mengurangi tekanan pada satu komoditas penghasil karbohidrat utama.
  • Adaptasi Iklim: Ubi jalar lebih toleran terhadap stres lingkungan.
  • Nilai Gizi: Kandungan serat dan indeks glisemik yang relatif rendah dibanding beras putih menjadikannya alternatif sehat.

Baca juga: Manfaat Ubi Jalar Oranye, Pangan Sehat Lokal yang Kaya Nutrisi dan Antioksidan

Beberapa tantangan memang masih perlu dijawab: produktivitas ubi jalar secara nasional masih rendah bila dibandingkan potensi di sentra produksi, di mana produktivitas bisa mencapai sekitar 35 ton per hektar di lahan yang dikelola baik. Ini berarti ada ruang besar untuk perbaikan teknologi budidaya, pembibitan yang unggul, serta dukungan kebijakan yang memungkinkan petani mendapatkan insentif dan akses pasar.

Kebijakan yang mendukung diversifikasi pangan perlu menjangkau berbagai aspek: penelitian varietas unggul, dukungan kredit dan asuransi pertanian, serta kampanye edukasi konsumsi di tingkat rumah tangga.

Intervensi semacam ini tidak hanya membantu stabilitas pangan nasional, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru melalui pengembangan industri berbasis umbi-umbian.

Ketika kita terlalu bergantung pada beras, kita membatasi opsi kita sendiri dalam menghadapi tantangan masa depan. Ketahanan pangan seharusnya dibangun atas pluralitas sumber pangan, bukan dominasi satu komoditas. Diversifikasi bukan hanya kata populer, tetapi kebutuhan strategis.

Indonesia memiliki sejarah panjang dengan makanan lokal seperti ubi jalar, sagu, singkong, dan jagung. Menempatkan komoditas ini kembali pada posisi strategis tidak hanya memberi ruang bagi ketahanan pangan, tetapi juga menguatkan nilai kebudayaan pangan nusantara yang beragam.

Ketika pilihan konsumsi semakin beragam, masyarakat tidak hanya makan untuk mengenyangkan perut, tetapi juga membangun sistem pangan yang lebih tangguh, sehat, dan berkelanjutan.

Baca juga: Kentang atau Ubi Jalar: Mana yang Lebih Sehat?

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Varietas Tanaman
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Varietas Tanaman
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Varietas Tanaman
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Varietas Tanaman
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Varietas Tanaman
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Varietas Tanaman
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Varietas Tanaman
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Varietas Tanaman
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Varietas Tanaman
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Varietas Tanaman
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Varietas Tanaman
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Tips
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Varietas Tanaman
Nilam, Masihkah Primadona?
Nilam, Masihkah Primadona?
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau