Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi

Kompas.com, 27 Maret 2026, 10:28 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

INDONESIA kerap disebut sebagai negeri kelapa. Julukan itu bukan tanpa dasar, karena jutaan hektare kebun kelapa membentang dari Sumatra hingga Papua, menopang ekonomi desa dan negara.

Namun di balik citra tersebut, realitas yang dihadapi hari ini menunjukkan Indonesia masih butuh banyak butiran kelapa untuk kebutuhan pasar domestik dan impor, serta utamanya bahan baku industri yang stabil dan berkualitas.

Data menunjukkan luas areal kelapa nasional cenderung menurun dari sekitar 3,4 juta hektare pada akhir 2010-an menjadi sekitar 3,3 juta hektare pada 2024–2025. Produksi relatif stagnan, yakni sekitar 2,8 juta ton setara kopra pada 2018, mencapai 2,82 juta ton pada 2024, dan diproyeksikan meningkat tipis menjadi sekitar 2,86 juta ton pada 2025.

Produktivitas juga tidak mengalami perubahan signifikan dan tetap berada pada kisaran sekitar 1,0–1,2 ton per hektare tanaman menghasilkan.

Angka-angka ini mengirim pesan yang jelas, dimana tanpa perubahan mendasar, Indonesia berisiko kehilangan posisi strategisnya dalam industri kelapa global.

Namun di balik tantangan tersebut, tersimpan peluang besar, yaitu jika kita berani melakukan satu langkah kunci, dengan meremajakan kebun kelapa secara sistematis dan mengaitkannya dengan hilirisasi industri.

Baca juga: Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai

Kebun Menua, Produksi Tertahan

Masalah utama perkelapaan Indonesia bukan sekadar berkurangnya luas lahan, melainkan struktur kebun yang menua dan kurang produktif. Dalam periode 2018–2025, proporsi tanaman menghasilkan berada di kisaran 74,6–76,4 persen. Sementara itu, tanaman tidak menghasilkan dan tanaman rusak tetap tinggi, sekitar 11,3 persen. Sisanya adalah tanaman belum menghasilkan.

Komposisi ini menunjukkan adanya “beban laten” dalam sistem produksi. Sebagian besar kebun memang masih berproduksi, tetapi tidak optimal karena usia tanaman yang tua dan varietas yang kurang unggul.

Banyak pohon telah melewati masa produktif, bahkan lebih dari 60 tahun tanpa pernah diremajakan. Akibatnya, produktivitas nasional terjebak dalam stagnasi. Padahal, dengan varietas unggul dan manajemen yang baik, produktivitas kelapa bisa ditingkatkan secara signifikan.

Ini berarti Indonesia sebenarnya memiliki “cadangan produksi tersembunyi” yang dapat diaktifkan tanpa harus membuka lahan baru secara besar-besaran. Di sinilah peremajaan menjadi kunci. Dengan mengganti tanaman tua dan rusak, yang saat ini mencapai ratusan ribu hectare, Indonesia dapat langsung meningkatkan pasokan bahan baku.

Peta jalan hilirisasi perkebunan, Kementerian Pertanian bahkan menargetkan percepatan peremajaan (perluasan dan replanting) hingga 200 ribu hektare pada periode 2025-2027. Namun peremajaan bukan tanpa tantangan.

Masa tanaman belum menghasilkan (TBM) menciptakan jeda pendapatan bagi petani. Tanpa skema pendukung, petani cenderung menunda atau bahkan menghindari peremajaan. Inilah mengapa kebijakan tidak boleh berhenti pada distribusi bibit, tetapi harus mencakup pembiayaan, pendampingan, dan jaminan pasar.

Baca juga: Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit

Industri Butuh Bahan Baku, Nilai Tambah Terlepas

Di sisi hilir, situasinya tidak kalah kompleks. Industri kelapa nasional sebenarnya telah berkembang, mencakup produk seperti minyak kelapa, santan, desiccated coconut, virgin coconut oil (VCO), hingga arang batok.

Namun utilisasi industri masih relatif rendah, berada di kisaran 45–55 persen dari kapasitas terpasang. Salah satu penyebab utama adalah ketidakstabilan pasokan bahan baku. Ketika produksi terganggu, misalnya akibat El Niño 2023–2024, industri langsung merasakan dampaknya.

Dalam beberapa kasus, kelangkaan bahan baku bahkan mengganggu operasi pabrik. Di sisi lain, struktur ekspor masih didominasi produk bernilai tambah rendah. Sekitar 82,1 persen minyak kelapa diekspor dalam bentuk crude coconut oil (CNO), sementara hanya sekitar 17,9 persen yang diserap domestik.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Varietas Tanaman
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Varietas Tanaman
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Varietas Tanaman
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Varietas Tanaman
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Varietas Tanaman
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Varietas Tanaman
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Varietas Tanaman
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Varietas Tanaman
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Varietas Tanaman
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Varietas Tanaman
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Varietas Tanaman
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Tips
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Varietas Tanaman
Nilam, Masihkah Primadona?
Nilam, Masihkah Primadona?
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau