
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
INDONESIA kerap disebut sebagai negeri kelapa. Julukan itu bukan tanpa dasar, karena jutaan hektare kebun kelapa membentang dari Sumatra hingga Papua, menopang ekonomi desa dan negara.
Namun di balik citra tersebut, realitas yang dihadapi hari ini menunjukkan Indonesia masih butuh banyak butiran kelapa untuk kebutuhan pasar domestik dan impor, serta utamanya bahan baku industri yang stabil dan berkualitas.
Data menunjukkan luas areal kelapa nasional cenderung menurun dari sekitar 3,4 juta hektare pada akhir 2010-an menjadi sekitar 3,3 juta hektare pada 2024–2025. Produksi relatif stagnan, yakni sekitar 2,8 juta ton setara kopra pada 2018, mencapai 2,82 juta ton pada 2024, dan diproyeksikan meningkat tipis menjadi sekitar 2,86 juta ton pada 2025.
Produktivitas juga tidak mengalami perubahan signifikan dan tetap berada pada kisaran sekitar 1,0–1,2 ton per hektare tanaman menghasilkan.
Angka-angka ini mengirim pesan yang jelas, dimana tanpa perubahan mendasar, Indonesia berisiko kehilangan posisi strategisnya dalam industri kelapa global.
Namun di balik tantangan tersebut, tersimpan peluang besar, yaitu jika kita berani melakukan satu langkah kunci, dengan meremajakan kebun kelapa secara sistematis dan mengaitkannya dengan hilirisasi industri.
Baca juga: Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Masalah utama perkelapaan Indonesia bukan sekadar berkurangnya luas lahan, melainkan struktur kebun yang menua dan kurang produktif. Dalam periode 2018–2025, proporsi tanaman menghasilkan berada di kisaran 74,6–76,4 persen. Sementara itu, tanaman tidak menghasilkan dan tanaman rusak tetap tinggi, sekitar 11,3 persen. Sisanya adalah tanaman belum menghasilkan.
Komposisi ini menunjukkan adanya “beban laten” dalam sistem produksi. Sebagian besar kebun memang masih berproduksi, tetapi tidak optimal karena usia tanaman yang tua dan varietas yang kurang unggul.
Banyak pohon telah melewati masa produktif, bahkan lebih dari 60 tahun tanpa pernah diremajakan. Akibatnya, produktivitas nasional terjebak dalam stagnasi. Padahal, dengan varietas unggul dan manajemen yang baik, produktivitas kelapa bisa ditingkatkan secara signifikan.
Ini berarti Indonesia sebenarnya memiliki “cadangan produksi tersembunyi” yang dapat diaktifkan tanpa harus membuka lahan baru secara besar-besaran. Di sinilah peremajaan menjadi kunci. Dengan mengganti tanaman tua dan rusak, yang saat ini mencapai ratusan ribu hectare, Indonesia dapat langsung meningkatkan pasokan bahan baku.
Peta jalan hilirisasi perkebunan, Kementerian Pertanian bahkan menargetkan percepatan peremajaan (perluasan dan replanting) hingga 200 ribu hektare pada periode 2025-2027. Namun peremajaan bukan tanpa tantangan.
Masa tanaman belum menghasilkan (TBM) menciptakan jeda pendapatan bagi petani. Tanpa skema pendukung, petani cenderung menunda atau bahkan menghindari peremajaan. Inilah mengapa kebijakan tidak boleh berhenti pada distribusi bibit, tetapi harus mencakup pembiayaan, pendampingan, dan jaminan pasar.
Baca juga: Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Di sisi hilir, situasinya tidak kalah kompleks. Industri kelapa nasional sebenarnya telah berkembang, mencakup produk seperti minyak kelapa, santan, desiccated coconut, virgin coconut oil (VCO), hingga arang batok.
Namun utilisasi industri masih relatif rendah, berada di kisaran 45–55 persen dari kapasitas terpasang. Salah satu penyebab utama adalah ketidakstabilan pasokan bahan baku. Ketika produksi terganggu, misalnya akibat El Niño 2023–2024, industri langsung merasakan dampaknya.
Dalam beberapa kasus, kelangkaan bahan baku bahkan mengganggu operasi pabrik. Di sisi lain, struktur ekspor masih didominasi produk bernilai tambah rendah. Sekitar 82,1 persen minyak kelapa diekspor dalam bentuk crude coconut oil (CNO), sementara hanya sekitar 17,9 persen yang diserap domestik.