Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi

Kompas.com, 27 Maret 2026, 10:28 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

Produk lain seperti desiccated coconut juga lebih banyak diarahkan ke pasar ekspor, sedangkan pengolahan lanjutan masih terbatas. Padahal, potensi hilirisasi kelapa sangat besar.

Dari satu komoditas, Indonesia dapat mengembangkan berbagai industri: pangan (santan UHT, bubuk kelapa), oleokimia (turunan asam laurat), kosmetik, bioenergi, hingga material ramah lingkungan seperti coco fiber dan coco peat. Bahkan tempurung kelapa dapat diolah menjadi karbon aktif bernilai tinggi.

Peta jalan hilirisasi mencatat potensi output yang sangat besar: jutaan ton minyak kelapa, serat sabut, hingga ratusan juta kilogram produk turunan lainnya. Namun tanpa pasokan bahan baku yang konsisten, potensi ini sulit diwujudkan.

Masalah lainnya adalah lemahnya kemitraan antara petani dan industri. Rantai pasok masih didominasi pola “jual putus” melalui pedagang pengumpul. Petani tidak memiliki kepastian harga, sementara industri tidak memiliki kepastian pasokan. Akibatnya, kedua pihak sama-sama menanggung risiko tinggi.

Baca juga: Transformasi Kelapa: Dari Komoditas Tradisional ke Industri Bernilai Tinggi

Peremajaan sebagai Gerakan Nasional

Kelapa bukan sekadar komoditas, melainkan sumber penghidupan bagi jutaan petani dan bagian penting dari ekonomi nasional. Namun, tanpa peremajaan kebun yang terarah, komoditas ini berisiko mengalami kemunduran, ditandai oleh kebun yang menua, produktivitas yang stagnan di kisaran 1,1 ton kopra per hektare, serta rantai pasok yang panjang dan melemahkan posisi tawar petani.

Dalam konteks ini, Indonesia membutuhkan gerakan nasional yang tidak parsial, melainkan terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Peremajaan menjadi titik awal yang krusial. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah menempatkan peremajaan sebagai fondasi utama, dengan penguatan kebun rakyat sebagai prasyarat agar transformasi sektor kelapa dapat berjalan optimal.

Fokus pada tanaman tua dan rusak, sekitar 11 persen dari total areal perkebunan kelapa, memberikan sasaran yang jelas dan terukur. Program ini perlu didukung oleh penyediaan benih unggul bersertifikat, termasuk varietas genjah yang mampu berproduksi dalam 3–4 tahun, serta penerapan Good Agricultural Practices (GAP).

Seiring penguatan di sisi hulu, Kementerian Pertanian kini bergerak menuju hilirisasi berbasis kawasan. Sejak 2025, pengembangan kawasan kelapa terintegrasi mulai dijalankan dan ditargetkan meningkat peremajaan kelapa baik perluasaan maupun replanting hingga 154.000 hektare pada 2026 serta bertambah 64.275 hektare pada 2027.

Pendekatan ini mendorong keterkaitan langsung antara produksi dan industri pengolahan, sehingga kelapa tidak lagi dijual sebagai bahan mentah, melainkan diolah menjadi produk bernilai tinggi seperti VCO, santan, gula kelapa, hingga produk pangan dan kosmetik.

Agar transformasi ini efektif, diperlukan dukungan pembiayaan dan kemitraan yang kuat. Skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) dapat menjadi tulang punggung pembiayaan, namun harus disertai pendampingan teknis dan kepastian pasar melalui pola kemitraan yang adil antara petani dan industri.

Model off-take agreement, penyediaan input produksi, serta pembangunan fasilitas pengolahan di dekat sentra produksi akan memperkuat efisiensi sekaligus meningkatkan nilai tambah di tingkat petani. Di saat yang sama, penguatan kelembagaan petani melalui kelompok tani dan koperasi menjadi kunci dalam memperbesar skala ekonomi dan akses terhadap pasar.

Dengan fondasi kebun yang kuat dan hilirisasi yang terintegrasi, Indonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan utilisasi industri, memperluas diversifikasi produk, serta menjadikan kelapa kembali berjaya sebagai komoditas unggulan nasional yang menyejahterakan petani dan kompetitif di pasar global.

Baca juga: Kelapa Indonesia 2026: Dari Komoditas Rakyat ke Mesin Pertumbuhan Ekonomi

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Varietas Tanaman
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Varietas Tanaman
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Varietas Tanaman
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Varietas Tanaman
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Varietas Tanaman
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Varietas Tanaman
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Varietas Tanaman
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Varietas Tanaman
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Varietas Tanaman
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Varietas Tanaman
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Varietas Tanaman
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Tips
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Varietas Tanaman
Nilam, Masihkah Primadona?
Nilam, Masihkah Primadona?
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau