CIANJUR, KOMPAS.com - Setiap pagi, sebelum bel sekolah berbunyi, seorang pria sudah lebih dulu tiba di depan gerbang sekolah dasar (SD).
Dengan bertumpu pada kedua tangannya, ia menjalani hari-harinya, menata dagangan sederhana di atas sepeda motor yang disulap menjadi kios kecil.
Sejak lahir, ia hidup tanpa kaki. Telapak tangannya menjadi penopang langkah. Di sanalah seluruh hidupnya bertumpu.
Pria tersebut bernama Deden Hidayatullah (45 tahun). Ia seorang penyandang disabilitas fisik, dan kepala keluarga bagi istri dan dua anaknya.
Baca juga: Kisah Mbah Srinah di Pati: 10 Tahun Tinggal di Kebun, Bertahan Hidup dari Kebaikan Warga
Setiap hari, di depan sekolah itu, Deden mencari nafkah dengan mengandalkan kekuatan tangannya.
Tak banyak yang tahu, pria itu merupakan atlet atletik. Ia bahkan pernah berdiri di atas podium untuk membawa pulang medali.
Seseorang yang berulang kali mengharumkan nama daerahnya dengan tubuh yang sejak awal tak pernah utuh.
Deden Hidayatullah (45), penyandang disabilitas asal Cianjur, Jawa Barat, berjuang penuh meski tubuhnya tidak utuh untuk menghidup istri dan dua anaknya.Namun, takdir Tuhan ia terima dengan ikhlas. Ia meyakini, jika menjadikan keterbatasan fisiknya sebagai penghalang, hidupnya tidak akan berkembang, bahkan akan semakin menenggelamkannya.
Deden memilih bangkit menghadapi keterbatasannya. Baginya, kondisi fisik bukan hambatan.
Ia juga mengaku tidak pernah merasa minder, sebab lingkungan menerima dirinya apa adanya, tanpa mempermasalahkan, apalagi memperolok kondisinya.
“Saya lahir dan besar di sini, jadi lingkungan sudah tahu kondisi saya sejak kecil dan menerimanya dengan terbuka,” ujar Deden saat ditemui di rumahnya di Kampung Bayubud, Desa Rancagoong, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Senin (26/1/2026).
“Malah sebaliknya, setelah bergabung dengan komunitas disabilitas, saya justru jadi minder,” ujar Deden berseloroh.
Selain terbiasa bergaul, Deden juga aktif dalam berbagai kegiatan. Ia bahkan pernah menjadi bagian dari sebuah grup musik sebagai pemain rhythm dan bass.
Meski sempat diragukan oleh banyak pihak, Deden mampu membuktikan kemampuannya.
“Awalnya mereka ragu, orang seperti saya ini bisa tidak, ya. Tapi saya membuktikannya, meski kondisi tubuh seperti ini, alhamdulillah saya bisa,” ucapnya.
Baca juga: Cerita Guru Honorer di Bandung, Bertahan Hidup dengan Gaji di Bawah Rp 1 Juta
Demi menghidupi keluarganya, Deden berjualan. Dengan kedua tangan sebagai pengganti kaki, ia setiap hari menyusuri gang kecil menuju sekolah.
Jam istirahat menjadi waktu tersibuk. Tangannya menopang tubuh sekaligus melayani anak-anak sekolah yang mengerumuni kiosnya untuk membeli jajanan.
Mereka tidak memandangnya dengan rasa iba, hanya dengan senyum dan suasana akrab. Momen-momen seperti itu cukup membuatnya bertahan.
Akan tetapi, tidak semua hari berjalan mudah. Ketika sekolah libur, ia tak bisa berjualan.
Namun, berhenti berjualan bukan pilihan. Ia pun memilih tetap berjualan dari rumah.
Bagi Deden, berhenti berarti menyerah pada keadaan. Dalam kondisi itulah, penghasilannya menjadi tak menentu.
Ada hari ketika cukup untuk makan, namun sering kali ia harus berhemat demi esok hari.