Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hidup Bertumpu pada Tangan, Deden Berjuang dari Kios Sekolah hingga Podium Atletik

Kompas.com, 26 Januari 2026, 17:17 WIB
Firman Taufiqurrahman,
Reni Susanti

Tim Redaksi

CIANJUR, KOMPAS.com - Setiap pagi, sebelum bel sekolah berbunyi, seorang pria sudah lebih dulu tiba di depan gerbang sekolah dasar (SD).

Dengan bertumpu pada kedua tangannya, ia menjalani hari-harinya, menata dagangan sederhana di atas sepeda motor yang disulap menjadi kios kecil.

Sejak lahir, ia hidup tanpa kaki. Telapak tangannya menjadi penopang langkah. Di sanalah seluruh hidupnya bertumpu.

Pria tersebut bernama Deden Hidayatullah (45 tahun). Ia seorang penyandang disabilitas fisik, dan kepala keluarga bagi istri dan dua anaknya.

Baca juga: Kisah Mbah Srinah di Pati: 10 Tahun Tinggal di Kebun, Bertahan Hidup dari Kebaikan Warga

Setiap hari, di depan sekolah itu, Deden mencari nafkah dengan mengandalkan kekuatan tangannya.

 

Tak banyak yang tahu, pria itu merupakan atlet atletik. Ia bahkan pernah berdiri di atas podium untuk membawa pulang medali.

Seseorang yang berulang kali mengharumkan nama daerahnya dengan tubuh yang sejak awal tak pernah utuh.

Berdaya dalam Ketidaksempurnaan

Deden Hidayatullah (45), penyandang disabilitas asal Cianjur, Jawa Barat, berjuang penuh meski tubuhnya tidak utuh untuk menghidup istri dan dua anaknya.KOMPAS.COM/FIRMAN TAUFIQURRAHMAN Deden Hidayatullah (45), penyandang disabilitas asal Cianjur, Jawa Barat, berjuang penuh meski tubuhnya tidak utuh untuk menghidup istri dan dua anaknya.
Tak ada seorang pun yang menginginkan hidup dalam kondisi fisik yang tidak sempurna, begitu pula Deden.

Namun, takdir Tuhan ia terima dengan ikhlas. Ia meyakini, jika menjadikan keterbatasan fisiknya sebagai penghalang, hidupnya tidak akan berkembang, bahkan akan semakin menenggelamkannya.

Deden memilih bangkit menghadapi keterbatasannya. Baginya, kondisi fisik bukan hambatan.

Ia juga mengaku tidak pernah merasa minder, sebab lingkungan menerima dirinya apa adanya, tanpa mempermasalahkan, apalagi memperolok kondisinya.

“Saya lahir dan besar di sini, jadi lingkungan sudah tahu kondisi saya sejak kecil dan menerimanya dengan terbuka,” ujar Deden saat ditemui di rumahnya di Kampung Bayubud, Desa Rancagoong, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Senin (26/1/2026).

“Malah sebaliknya, setelah bergabung dengan komunitas disabilitas, saya justru jadi minder,” ujar Deden berseloroh.

Selain terbiasa bergaul, Deden juga aktif dalam berbagai kegiatan. Ia bahkan pernah menjadi bagian dari sebuah grup musik sebagai pemain rhythm dan bass.

Meski sempat diragukan oleh banyak pihak, Deden mampu membuktikan kemampuannya.

“Awalnya mereka ragu, orang seperti saya ini bisa tidak, ya. Tapi saya membuktikannya, meski kondisi tubuh seperti ini, alhamdulillah saya bisa,” ucapnya.

Baca juga: Cerita Guru Honorer di Bandung, Bertahan Hidup dengan Gaji di Bawah Rp 1 Juta

Tulang punggung keluarga

Demi menghidupi keluarganya, Deden berjualan. Dengan kedua tangan sebagai pengganti kaki, ia setiap hari menyusuri gang kecil menuju sekolah.

Jam istirahat menjadi waktu tersibuk. Tangannya menopang tubuh sekaligus melayani anak-anak sekolah yang mengerumuni kiosnya untuk membeli jajanan.

Mereka tidak memandangnya dengan rasa iba, hanya dengan senyum dan suasana akrab. Momen-momen seperti itu cukup membuatnya bertahan.

Akan tetapi, tidak semua hari berjalan mudah. Ketika sekolah libur, ia tak bisa berjualan.

Namun, berhenti berjualan bukan pilihan. Ia pun memilih tetap berjualan dari rumah.

Bagi Deden, berhenti berarti menyerah pada keadaan. Dalam kondisi itulah, penghasilannya menjadi tak menentu.

Ada hari ketika cukup untuk makan, namun sering kali ia harus berhemat demi esok hari.

Halaman:


Terkini Lainnya
Pemkot Bandung Jamin Gaji 121 Pekerja Bandung Zoo Selama Masa Transisi, Sesuai UMK
Pemkot Bandung Jamin Gaji 121 Pekerja Bandung Zoo Selama Masa Transisi, Sesuai UMK
Bandung
BI Ungkap Uang Palsu di Bogor Berkualitas Rendah, Dicetak Pakai Printer Biasa
BI Ungkap Uang Palsu di Bogor Berkualitas Rendah, Dicetak Pakai Printer Biasa
Bandung
Di Tengah Konflik Perang Iran-Israel, 4 Warga Subang Berangkat Kerja ke Timur Tengah
Di Tengah Konflik Perang Iran-Israel, 4 Warga Subang Berangkat Kerja ke Timur Tengah
Bandung
KA Ciremai Tertahan di Jalur Maswati-Sasaksaat akibat Longsor, KAI Lakukan Penanganan
KA Ciremai Tertahan di Jalur Maswati-Sasaksaat akibat Longsor, KAI Lakukan Penanganan
Bandung
Kereta Api Ciremai Anjlok di Maswati-Sasaksaat, Warga: Tabrak Material Longsor
Kereta Api Ciremai Anjlok di Maswati-Sasaksaat, Warga: Tabrak Material Longsor
Bandung
Pelari Tewas di Lebarun Sentul Ultra, Bima Arya: PP ALTI Serukan Evaluasi Total Keselamatan
Pelari Tewas di Lebarun Sentul Ultra, Bima Arya: PP ALTI Serukan Evaluasi Total Keselamatan
Bandung
Hemat Energi, ASN Pemkab Bogor Gunakan Sepeda atau Transportasi Umum ke Kantor Tiap Rabu
Hemat Energi, ASN Pemkab Bogor Gunakan Sepeda atau Transportasi Umum ke Kantor Tiap Rabu
Bandung
Longsor Tutup Rel Maswati–Sasaksaat, KA Ciremai Alami Gangguan Perjalanan
Longsor Tutup Rel Maswati–Sasaksaat, KA Ciremai Alami Gangguan Perjalanan
Bandung
Daftar Sektor ASN di Karawang yang Tak WFH, Tetap Kerja di Kantor
Daftar Sektor ASN di Karawang yang Tak WFH, Tetap Kerja di Kantor
Bandung
Melayat ke Rumah Duka di Cimahi, Panglima TNI Jamiin Hak Prajurit dan Siapkan Kenaikan Pangkat
Melayat ke Rumah Duka di Cimahi, Panglima TNI Jamiin Hak Prajurit dan Siapkan Kenaikan Pangkat
Bandung
Farhan Optimistis Ibadah Haji Aman meski Ada Konflik di Timur Tengah
Farhan Optimistis Ibadah Haji Aman meski Ada Konflik di Timur Tengah
Bandung
WFH ASN Tasikmalaya Tiap Jumat Mulai Pekan Depan, Diprediksi Tingkatkan Wisata Domestik
WFH ASN Tasikmalaya Tiap Jumat Mulai Pekan Depan, Diprediksi Tingkatkan Wisata Domestik
Bandung
Tabrak Truk yang Diduga Parkir Sembarangan, Pengendara Motor di Bandung Tewas
Tabrak Truk yang Diduga Parkir Sembarangan, Pengendara Motor di Bandung Tewas
Bandung
Tumpukan Sampah di Jalur Kebun Teh Pangalengan, Camat: Oknum Pungut Iuran lalu Buang Sembarangan
Tumpukan Sampah di Jalur Kebun Teh Pangalengan, Camat: Oknum Pungut Iuran lalu Buang Sembarangan
Bandung
Dedi Mulyadi Sorot Pentingnya Pahami Karakter Sosial Masyarakat Sunda di Pelantikan PUI Jabar
Dedi Mulyadi Sorot Pentingnya Pahami Karakter Sosial Masyarakat Sunda di Pelantikan PUI Jabar
Bandung
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau