BANDUNG, KOMPAS.com - Di kaki bukit yang memeluk Desa Sindangpanon, Kecamatan Banjaran, mentari Ramadhan merayap perlahan, menyentuh pucuk-pucuk daun yang masih basah oleh embun pagi.
Alih-alih terlelap dalam kantuk usai sahur, warga di sudut Kabupaten Bandung ini justru memilih berpagut dengan tanah dan air, mengubah pekarangan yang dulunya sunyi menjadi simfoni hijau yang menyejukkan mata.
Di sini, ibadah tak hanya berhenti di atas sajadah, namun menjalar hingga ke sela-sela jemari yang merawat kehidupan.
Baca juga: Bukan Berburu Takjil, Remaja di Soreang Memilih Ngabuburit Menjelajahi Sejarah Dirgantara di SCS
Sutisna (54), seorang pria dengan gurat wajah penuh keteduhan, tampak cekatan memeriksa instalasi pipa-pipa paralon yang berjejer rapi.
Di tangannya, netpot berisi selada keriting yang segar menjadi bukti nyata bahwa tangan-tangan renta pun mampu melahirkan kesuburan.
Ia adalah salah satu penggerak yang meyakini bahwa menjaga alam adalah bentuk syukur yang paling jujur kepada Sang Pencipta, terutama di bulan yang penuh berkah ini.
Baca juga: Ngabuburit Sehat di Lapangan Upakarti Soreang, Warga Pilih Olahraga Sambil Tunggu Azan Buka Puasa
“Dulu, sudut-sudut gang ini hanya diisi tumpukan barang tak terpakai, tapi kami istilahnya mengubah menjadi kebun hidroponik. Ramadhan bukan alasan untuk berpangku tangan, justru dengan berkebun, kami merasa puasa menjadi lebih ringan karena hati disibukkan oleh hal-hal baik,” ujar Sutisna sembari menyeka peluh yang mulai mengintip di dahinya, Kamis (26/2/2026).
Warga Desa Sindangpanon, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, saat melalukan aktifitas berkebun selama bulan Ramadan, Kamis (26/2/2026).Baginya, setiap tetes nutrisi yang mengalir di pipa-pipa itu adalah doa-doa yang dipanjatkan demi kelestarian bumi.
Tak jauh dari instalasi hidroponik, riuh rendah suara warga terdengar dari rumah kompos, di mana limbah rumah tangga tak lagi dianggap sebagai musuh.
Di sana, Mulyana (42) sedang sibuk memilah sisa sayuran untuk diberikan kepada ribuan larva lalat tentara hitam atau maggot.
Di bawah arahannya, sampah organik yang biasanya berujung di tempat pembuangan akhir, kini bertransformasi menjadi pupuk cair dan pakan protein tinggi yang bernilai guna.
Baca juga: Ironi Longsor KBB: Kala Tanah Duka Jadi Tempat Ngabuburit dan Bikin Konten
Mulyani berkisah bahwa inisiatif ini bermula dari kerinduan akan lingkungan yang bersih dan asri saat menyambut bulan suci.
"Kami ingin saat tarawih atau tadarus, lingkungan kami tidak hanya bersih secara spiritual, tapi juga bersih secara lahiriah. Dengan mengolah sampah jadi maggot dan pupuk, kami tidak lagi mewariskan bau tak sedap kepada tetangga, melainkan manfaat," tuturnya dengan binar mata yang penuh semangat.
Kebersamaan ini rupanya menjadi perekat sosial yang luar biasa kuat di tengah gempuran modernitas.
Berkebun di sela waktu puasa telah menjadi jembatan silaturahmi yang tak ternilai harganya bagi warga Sindangpanon.
Warga Desa Sindangpanon, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, saat melalukan aktifitas berkebun selama bulan Ramadan, Kamis (26/2/2026).