BANDUNG, KOMPAS.com - Di ujung selatan Kabupaten Bandung, di mana kabut seringkali memeluk perkebunan teh dengan erat, keriuhan sore di Desa Cipelah, Kecamatan Rancabali, Jawa Barat memiliki warna berbeda.
Bukan deru knalpot bising atau keramaian pasar tumpah yang mendominasi, melainkan kepakan lembar-lembar kertas yang tertiup angin pegunungan.
Di sebuah lapang terbuka, sebuah mobil berwarna cerah dengan tulisan "Perpustakaan Keliling Bedas" terparkir megah, menjadi magnet bagi puluhan pasang mata yang haus akan cakrawala baru di tengah ritual menunggu azan Magrib.
Baca juga: Ngabuburit di Kawasan Rel Kereta Api, Daop 8 Surabaya Ingatkan Ancaman Pidana
Anak-anak dan remaja berseragam santai tampak silih berganti menaiki tangga kecil mobil milik Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispusip) Kabupaten Bandung tersebut.
Jemari mereka menelusuri deretan punggung buku yang tertata rapi, mulai dari dongeng nusantara hingga ensiklopedia teknologi.
Suasana hening namun hidup hanya sesekali terdengar. Bisikan antusias saat seseorang menemukan judul yang dicari, menciptakan harmoni literasi di tengah udara dingin yang mulai menusuk tulang.
Baca juga: Bukan Berburu Takjil, Remaja di Soreang Memilih Ngabuburit Menjelajahi Sejarah Dirgantara di SCS
Siti Nurhaliza (15), salah satu remaja setempat, tampak memeluk erat sebuah buku tentang sejarah peradaban dunia.
Baginya, kehadiran mobil ini adalah kemewahan yang jarang mampir ke desanya yang berbatasan langsung dengan Cianjur.
"Biasanya sore-sore begini kami hanya diam di rumah atau sekadar jalan-jalan tanpa tujuan. Tapi sejak ada perpustakaan keliling, waktu terasa berjalan lebih cepat. Membaca membuat rasa lapar dan haus saat puasa seolah terlupakan karena pikiran kita dibawa terbang ke tempat lain," ujarnya dengan binar mata yang jujur, Jumat (27/2/2026).
Hal senada diungkapkan Ridwan (16), yang sore itu lebih memilih membolak-balik buku panduan budidaya tanaman hias.
Ridwan menyadari bahwa letak geografis Desa Cipelah yang sangat jauh dari pusat kota di Soreang membuat akses terhadap buku bermutu menjadi tantangan tersendiri.
Baginya, menempuh perjalanan berjam-jam hanya untuk mengunjungi perpustakaan daerah bukanlah pilihan yang praktis, sehingga kehadiran armada ini adalah jawaban atas dahaga intelektual yang selama ini terpendam.
"Untuk sampai ke Soreang atau pusat keramaian, kami harus melewati jalanan berkelok yang panjang dan memakan waktu. Mobil ini adalah jembatan bagi kami yang berada di pelosok," tutur Ridwan sambil menyandarkan punggungnya di bawah pohon.
Ia memilih membaca di sini daripada harus pergi ke area wisata yang padat. Menurutnya, ketenangan di balik deretan kalimat jauh lebih menenangkan jiwa dibandingkan hiruk-pikuk keramaian yang menguras energi.
Sementara itu, Melani (14) terlihat asyik dengan buku kumpulan cerpen remaja.