Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BRIN Kukuhkan 3 Profesor Riset Baru, Ini Sosoknya

Kompas.com, 25 April 2024, 18:58 WIB
Sania Mashabi,
Ayunda Pininta Kasih

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengukuhkan tiga kandidat profesor riset di Aula Gedung BJ Habibie, Jakarta Pusat, Kamis (25/4/2024).

Tiga profesor baru itu adalah Prof. Isnaeni, Prof. Erma Yulihastin dan, Prof. Muhammad Reza Cordova.

Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavia berharap, nantinya tiga profesor baru ini bisa memberikan kinerja yang semakin handal setiap harinya.

Baca juga: LPDP-BRIN Buka Beasiswa S2-S3 Bidang Nuklir, Simak Cara Daftarnya

"Profesor riset di Indonesia sebagaimana para profesor riset di seluruh dunia merupakan posisi akademik tertinggi di lembaga pendidikan tinggi atau institusi riset, khususnya Badan Riset dan Inovasi Nasional yang memiliki tanggung jawab besar sebagai teladan dan inspirator bagi periset lainnya," kata Amarulla dikutip dari laman resmi BRIN, Kamis.

Amarulla mengatakan, status sebagai profesor riset bukanlah tujuan akhir, tetapi awal dari tanggung jawab yang lebih besar.

Mereka diharapkan tidak hanya menjadi pemimpin dalam menghasilkan riset berkualitas, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi generasi peneliti muda.

Amarulla juga menekankan seorang profesor riset harus mampu melakukan riset yang berkualitas dan berkontribusi pada pengetahuan di bidang kepakaran terkait.

Selain itu, profesor riset juga harus mampu membimbing periset lain baik dari BRIN, lembaga lain atau para mahasiswa.

Seorang profesor riset juga harus mampu memberikan ide, masukan juga strategi dalam mengembangkan kebijakan riset inovasi.

Baca juga: 4 Tips Sukses Ajukan Proposal Penelitian ke BRIN, Pendaftar Wajib Tahu

"Kemampuan berkolaborasi juga dapat memberikan promosi kepada periset di universitas dalam dan luar negeri. Selain itu, peran aktif profesor riset juga dibutuhkan tidak hanya pada ruang lingkup organisasi namun juga secara luas sebagai pengabdian terhadap masyarakat," ujarnya.

Pada akhir sambutan, Amarulla berpesan agar para peneliti lebih memacu diri dalam berprestasi secara ilmiah dengan menghasilkan berbagai inovasi.

"Sangat penting bagi profesor riset untuk menjaga marwah, kehormatan, reputasi dan integritas seorang profesor riset, karena itu melekat pula etika periset dalam setiap langkah profesor riset," jelasnya.

Dalam orasi ilmiahnya, ketiga profesor riset baru memaparkan kontribusi mereka yang signifikan dalam dunia riset.

Baca juga: Billy Mambrasar: Belajar Online Bisa Tekan Angka Putus Sekolah

Prof. Isnaeni menyoroti penggunaan Quantum Dots Karbon untuk mengatasi masalah efisiensi energi listrik dan pencemaran lingkungan.

Kemudian Prof. Erma Yulihastin menghadirkan metode Nakula, yang mengintegrasikan model prediksi cuaca dan oseanografi untuk meningkatkan akurasi prediksi hujan, khususnya untuk wilayah Indonesia.

Sementara Prof. Muhammad Reza Cordova menghasilkan data penting mengenai pengurangan kebocoran sampah plastik laut, yang menjadi landasan kebijakan penanganan sampah laut di Indonesia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau