Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bruce Springsteen Beri Pidato Pedas Kritik Donald Trump Saat Buka Tur di Minneapolis

Kompas.com, 1 April 2026, 12:58 WIB
Disya Shaliha,
Andi Muttya Keteng Pangerang

Tim Redaksi

Sumber Variety

KOMPAS.com - Musisi rock legendaris Bruce Springsteen memulai tur "Land of Hope and Dreams" 2026 bersama E Street Band di Minneapolis, Selasa (31/3/2026) malam waktu setempat.

Konser pembuka ini menjadi sorotan lantaran Springsteen menyampaikan pidato politik yang sangat tajam dan berapi-api di atas panggung.

Musisi yang dijuluki "The Boss" ini membuka penampilannya dengan membawakan lagu hit "War" milik Edwin Starr sebagai simbol protes.

Baca juga: Pendapatan Tur Dunia Bruce Springsteen Tembus Rp 11,9 Triliun, Terbesar Sepanjang Kariernya

Di tengah pertunjukan, Springsteen berhenti sejenak untuk menyampaikan pesan mendalam mengenai kondisi Amerika Serikat saat ini.

"Kita sedang hidup di masa-masa yang sangat gelap," ujar Springsteen sebagaimana dilansir Variety, Rabu (1/4/2026).

"Nilai-nilai Amerika yang telah menopang kita selama 250 tahun kini sedang ditantang seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya," tambahnya.

Baca juga: Bruce Springsteen Acungkan Jari Tengah, Donald Trump: Kita Lihat Bagaimana Nasibnya

Dalam pidatonya, penyanyi berusia 76 tahun itu menyoroti berbagai isu sensitif, mulai dari keterlibatan anak muda Amerika dalam perang yang ia sebut "ilegal", hingga penahanan imigran tanpa proses hukum yang jelas.

Springsteen secara spesifik mengkritik Presiden Donald Trump dan Jaksa Agung Pam Bondi.

Ia menuding Departemen Kehakiman telah kehilangan independensinya dan hanya bekerja di bawah perintah Gedung Putih demi melindungi teman-teman kuat sang presiden.

Baca juga: Bercermin dari Kematian Liam Payne, Musisi Legendaris Bruce Springsteen Sebut Industri Musik Terlalu Menekan Anak Muda

"Museum-museum kita diperintahkan untuk memutihkan sejarah Amerika dan menghapus fakta-fakta yang tidak menyenangkan, seperti kekejaman perbudakan. Kita memiliki presiden yang tidak bisa menerima kebenaran," tegasnya.

Pemilihan Minneapolis sebagai lokasi pembuka tur memiliki makna tersendiri.

Kota ini sedang menjadi pusat kemarahan publik setelah dua warga lokal, Renee Nicole Macklin Good dan Alex Pretty, tewas ditembak oleh agen ICE (penegak hukum imigrasi) dalam sebuah aksi protes beberapa waktu lalu.

Baca juga: Bruce Springsteen Resmi Jadi Musisi Miliarder, Susul Taylor Swift dan Paul McCartney

Tragedi ini pula yang menginspirasi Springsteen merilis lagu protes bertajuk "Streets of Minneapolis" pada Januari lalu.

Dalam konser tersebut, ia kembali menekankan bahwa perubahan hanya bisa dilakukan oleh rakyat jika para pemimpin telah gagal.

Menyadari bahwa sikap politiknya akan memicu reaksi keras dari kelompok sayap kanan, Springsteen mengaku tidak gentar jika harus kehilangan sebagian penggemarnya.

Baca juga: Lirik dan Chord Lagu Cautious Man - Bruce Springsteen

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau