Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bau Napas Ternyata Bisa Jadi Sinyal Penyakit

Kompas.com, 2 Februari 2026, 08:00 WIB
Nabilla Ramadhian,
Lusia Kus Anna

Tim Redaksi

Sumber Prevention

KOMPAS.com - Jika kita merasa sudah menjaga kebersihan gigi dan mulut tetapi masih saja terganggu oleh napas yang berbau tidak sedap, cek apakah ada penyakit di organ dalam yang belum terdeteksi.

Menurut sebuah studi, satu embusan napas ternyata bisa memberi petunjuk bahwa keseimbangan mikrobioma usus kita sedang terganggu.

Ini terungkap dalam sebuah penelitian berjudul "The Gut Microbiota Shapes the Human and Murine Breath Volatilome" dalam jurnal Cell Metabolism oleh Ariel J. Hernandez-Leyva, dkk, dipublikasikan pada tahun 2026.

Para peneliti melakukan percobaan terpisah pada tikus dan 27 anak. Tujuannya untuk mengukur kadar molekul yang terdapat dalam udara yang mereka embuskan.

Baca juga: Sudah Rajin Sikat Gigi, Mengapa Tetap Bau Mulut?

Hasil dari sampel napas itu lalu dibandingkan dengan molekul yang ditemukan pada sampel tinja guna melihat kemungkinan hubungan di antara keduanya. Prosedur serupa juga diterapkan pada hewan percobaan.

Setelah data dianalisis, mereka menemukan, napas manusia mengandung senyawa organik volatil yang berasal dari mikroba usus.

Senyawa ini dapat menjadi petunjuk bagi ilmuwan mengenai kondisi mikrobioma usus, metabolisme tubuh, dan pada akhirnya kesehatan seseorang secara keseluruhan.

Bahkan, para peneliti menemukan, napas yang diembuskan juga disebut mampu mendeteksi kelimpahan Eubacterium siraeum, bakteri usus yang menjadi penanda biologis asma pada anak.

Baca juga: Kisah Steven, Sakit Radang Usus akibat Pola Makan dan Hobi Begadang

Apa yang mungkin diungkapkan napas tentang kesehatan?

“Senyawa dalam napas mengandung informasi penting tentang kesehatan, dan sebagian senyawa itu berasal dari mikroba di usus,” ungkap Division Chief of Infectious Diseases di The Children's Hospital of Philadelphia, Audrey R. Odom John, M.D., Ph.D..

Menurut dr. John, ada dua cara utama napas bisa memberi tanda adanya masalah, yaitu melalui bau, serta bakteri dan virus.

Pemanfaatan napas sebagai alat diagnosis medis masih terus dikembangkan. Namun, dalam praktik klinis, John mengungkapkan bahwa terkadang dokter akan mencium bau napas pasien saat pemeriksaan awal.

Tujuannya untuk menentukan apakah perlu tes lanjutan untuk kondisi kesehatan tertentu.

Baca juga: Peneliti Temukan Bakteri Usus Ini Bisa Jadi Pemicu Depresi

Beberapa kondisi yang dapat terindikasi melalui bau napas meliputi:

Diabetes tipe 1 dan tipe 2

"Secara historis, aroma napas telah digunakan untuk mendiagnosis kondisi seperti diabetes karena adanya aroma keton yang khas," ungkap John.

Keton adalah zat kimia yang diproduksi oleh hati saat tubuh memecah lemak, dan dapat menimbulkan bau napas manis seperti buah atau aseton.

Penyakit hati

Dikenal sebagai fetor hepaticus, kondisi ini menimbulkan bau apek khas yang menandakan penyakit hati atau kegagalan fungsi hati yang parah.

Baca juga: Langkah Kecil untuk Melindungi Organ Hati dari Kanker

Mulut kering

Mulut kering atau xerostomia terjadi akibat kurangnya produksi air liur. Kondisi ini membuat bakteri dan sisa makanan tidak terbilas dengan baik, sehingga napas bisa berbau seperti telur busuk.

Bakteri dan virus

Mencium bau napas pasien berbeda dengan tes diagnostik berbasis napas yang didesain untuk mengidentifikasi penyakit tertentu.

"Hanya ada beberapa tes diagnostik berbasis napas yang digunakan secara klinis," ungkap John.

Salah satunya adalah tes untuk infeksi Helicobacter pylori, yakni penyebab tukak lambung. Ada juga tes Covid-19 yang dikenal sebagai InspectIR Covid-19 Breathalyzer. Tes ini mendeteksi lima senyawa volatil terkait virus tersebut, dan mampu memberikan hasil dalam waktu sekitar tiga menit.

Baca juga: Gejala Batuk, Demam, dan Sesak Napas pada Bayi, Waspadai Infeksi RSV

Kapan perlu berkonsultasi ke dokter?

Jika kamu khawatir dengan bau napas yang tak kunjung hilang, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga medis.

Menurut ahli gastroenterologi Aditya Sreenivasan, M.D., segera periksakan diri jika terjadi perubahan bau napas secara tiba-tiba tanpa masalah gigi yang jelas.

"Ini bisa menjadi tanda dari berbagai hal, mulai dari infeksi H pylori, masalah sinus, refluks asam, pengosongan lambung yang lambat, diabetes, kanker lambung, pertumbuhan bakteri berlebihan, atau divertikulum esofagus," ucap dr. Sreenivasan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau