Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gejala 3C, Cara Membedakan Campak dan Rubella

Kompas.com, 1 April 2026, 06:31 WIB
Nabilla Ramadhian,
Lusia Kus Anna

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Masyarakat awam sering bingung dalam membedakan antara penyakit campak dan rubella. Keduanya memang sama-sama memunculkan gejala awal berupa ruam kemerahan pada permukaan kulit tubuh, sehingga tidak jarang orangtua atau pasien secara mandiri salah mengidentifikasi penyakit yang sebenarnya sedang diderita.

"Kita tidak jarang suka ketukar-tukar karena campak itu ada yang bilang namanya Rubella. Padahal Rubella itu beda. Rubella itu nama lain dari penyakit yang kita sebut sebagai German Measles atau campak Jerman," jelas dokter spesialis penyakit dalam Dr. dr. Aditya Susilo, Sp.PD, K-P.T.I, FINASIM.

Ia menjelaskan hal tersebut dalam konferensi pers "Campak pada Dewasa: Tanda Bahaya dan Penanganan yang Tepat serta Peran Vaksinasi" yang digelar oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) di Jakarta Pusat, Selasa (31/3/2026).

Baca juga: Kemenkes Terbitkan Aturan Baru Cegah Campak, RS Wajib Terapkan Ini

Virus penyebab yang berbeda

Kesalahpahaman yang sering terjadi di lapangan bermula dari kurangnya literasi dan informasi mengenai asal-usul virus penyebab kedua penyakit tersebut.

Secara medis rubella dan campak berasal dari kelompok virus yang sama sekali berbeda, yang tentunya membawa implikasi klinis dan pendekatan medis yang berbeda pula bagi penderitanya.

Campak yang sebenarnya dikenal secara luas dalam dunia kedokteran dengan istilah Rubeola. Penyakit ini disebabkan oleh virus spesifik yang diketahui memiliki tingkat penularan yang sangat masif jika dibandingkan dengan beberapa infeksi virus pernapasan lainnya.

"Rubeola berasal dari genus yang namanya Morbillivirus. Makanya kalau pernah dengar morbili, itu maksudnya campak," papar dr. Aditya.

Baca juga: KLB Campak Melonjak, Dampak Influencer Antivaksin?

Lebih lanjut, rubeola atau morbili ini memiliki penyebutan universal yang umum digunakan dalam bahasa Inggris, yakni measles.

Oleh karena itu, penggunaan istilah rubella untuk merujuk pada penyakit campak rubeola adalah sebuah kekeliruan terminologi kesehatan yang perlu segera diluruskan agar tidak membingungkan masyarakat.

Mengenali gejala khas campak rubeola

Untuk dapat membedakan campak rubeola dengan rubella secara observasi klinis tanpa perlu bergantung penuh pada tes laboratorium, tenaga medis biasanya akan mencari tanda-tanda spesifik yang muncul pada fase awal infeksi.

Fase ini secara medis dikenal dengan istilah fase prodromal, yakni masa ketika pasien mulai mengalami demam tinggi sebelum ruam merah muncul di kulit.

Baca juga: Perlukah Orang Dewasa Mengulang Vaksin Campak? Ini Penjelasan Ahli

Pada masa fase prodromal ini, infeksi campak rubeola memiliki tiga tanda gangguan pernapasan dan mata yang sangat khas, yang jarang sekali ditemukan secara bersamaan dan intens pada kasus infeksi rubella.

"Ada tiga keluhan yang cukup khas yang muncul pada campak dan mungkin tidak pada Rubella, yaitu adanya batuk (cough), adanya coryza atau runny nose, pilek yang hebat sampai mampet begitu, dan adanya conjunctivitis atau mata merah," ungkap dr. Aditya.

Ketiga gejala utama ini di dunia medis sering disingkat dan lebih dikenal sebagai gejala 3C. Keberadaan batuk yang terus-menerus, hidung beringus hebat, dan peradangan selaput mata menjadi alarm awal bahwa pasien kemungkinan besar terinfeksi virus Morbillivirus, bukan rubella.

Baca juga: Kasus Dokter Cianjur, Mengapa Campak Bisa Berujung Kematian?

Temuan bercak koplik di mulut

Selain rangkaian gejala 3C, terdapat satu lagi penanda fisik yang sangat spesifik dan menjadi kunci utama konfirmasi diagnosis campak secara kasat mata.

Penanda ini ditemukan lebih dari satu abad yang lalu dalam sejarah medis dan masih menjadi patokan kuat diagnosis klinis hingga saat ini.

Penanda tersebut berupa kemunculan bercak-bercak kecil di dalam rongga mulut pasien, tepatnya bersarang di area mukosa pipi bagian dalam.

Bercak ini biasanya muncul tepat sebelum ruam makulopapular merambat dan menutupi hampir seluruh permukaan kulit penderita.

"Ada hal yang berbeda yang terjadi pada campak dan tidak terjadi pada Rubella, yang kemudian dikenal tadi sebagai bercak Koplik yang ditemukan oleh Henry Koplik tadi bercak putih kebiruan di mukosa mulut," tutur dr. Aditya.

Namun, untuk memastikan lebih lanjut apakah gejala yang timbul karena campak, sebaiknya lekas konsultasi dengan dokter. Ini juga untuk menentukan langkah penyembuhan selanjutnya.

Baca juga: Dokter Meninggal karena Campak: Masalahnya Bukan Virusnya

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau