Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Campak Picu Komplikasi Fatal pada Kelompok Rentan

Kompas.com, 1 April 2026, 10:45 WIB
Nabilla Ramadhian,
Lusia Kus Anna

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Banyak yang masih menganggap sepele penyakit infeksi campak pada orang dewasa, dan disamakan dengan demam serta ruam biasa yang akan sembuh dengan sendirinya.

Pada kondisi tubuh yang bugar dan memiliki kekebalan yang optimal, virus campak memang perlahan akan mati dihancurkan oleh sel darah putih. Namun, hal yang terjadi akan sangat berbeda jika infeksi ini menyerang orang dewasa yang memiliki kondisi medis tertentu

"Ada kita kenal sebagai kelompok populasi rentan, yaitu mereka-mereka dengan sistem daya tahan tubuh yang terganggu," jelas Dr. dr. Aditya Susilo, Sp.PD, K-P.T.I, FINASIM dalam konferensi pers bertajuk "Campak pada Dewasa: Tanda Bahaya dan Penanganan yang Tepat serta Peran Vaksinasi" di Jakarta, Selasa (31/3/2026).

Bagi mereka yang termasuk dalam kelompok rentan, infeksi campak bukan sekadar fase demam, melainkan "pintu gerbang" menuju kerusakan organ yang masif.

Menurut dr. Aditya, respons perlawanan tubuh yang terhambat membuat virus leluasa menyebar dan berkembang biak tanpa kendali, sehingga menimbulkan komplikasi sekunder yang mengancam nyawa pasien.

Baca juga: Gejala 3C, Cara Membedakan Campak dan Rubella

Ancaman bagi orang dewasa dengan imun lemah

Kondisi daya tahan tubuh yang terganggu atau immunocompromised merupakan faktor risiko paling berbahaya bagi orang dewasa saat terinfeksi campak.

Pasien dewasa yang sedang berjuang melawan penyakit kronis sangat rentan mengalami perburukan kondisi jika tertular virus campak.

Sistem kekebalan yang lemah membuat perlawanan terhadap patogen menjadi sangat lambat dan tidak efektif. Alhasil, durasi sakit pada orang dewasa di kelompok ini akan jauh lebih panjang dibandingkan mereka yang memiliki imunitas normal.

"Pasien dengan daya tahan tubuh yang turun misalnya pasien yang terinfeksi HIV. Kita tahu HIV akan membuat respons daya tahan tubuh turun," ujar dr. Aditya.

Baca juga: Mobilitas Tinggi, Orang Dewasa Rentan Tertular Campak di Tempat Umum

"Pasien-pasien kanker, barangkali yang sedang menjalani kemoterapi, yang membuat daya tahan tubuhnya turun kalau terjadi outbreak dan mereka belum divaksinasi. Tentu ini akan menjadi bahaya untuk kelompok-kelompok ini," lanjut dia.

Untuk ibu hamil, dr. Aditya mengatakan bahwa campak tetap bisa menimbulkan komplikasi pada janin, seperti keguguran, janin tumbuh lebih lambat, dan kelahiran prematur.

"Wanita hamil, meskipun katanya campak tidak menyebabkan kecacatan di janin, tidak teratogenik (yang mana) beda dengan Rubella (campak Jerman), tapi kalau ibu hamil terinfeksi, tetap dia bisa menimbulkan komplikasi di janin. Jadi artinya tetap bahaya," terang dia.

Komplikasi menyebar ke berbagai organ vital

Ketika sel pertahanan tubuh gagal menghentikan laju infeksi di fase awal, virus campak akan menyebar luas melalui aliran darah dan menyerang berbagai organ vital orang dewasa.

Proses peradangan hebat tidak lagi hanya terjadi di kulit dan saluran pernapasan atas, melainkan merusak jaringan di organ dalam.

Baca juga: Gejala Campak Sering Disangka Flu Biasa, Ini Tanda yang Perlu Diwaspadai

Bagi penderita dewasa, kerusakan ini dapat memicu infeksi lanjutan di mana bakteri ikut masuk memanfaatkan kondisi paru-paru atau organ lain yang sudah rusak akibat serangan virus campak.

"Tentu komplikasinya bisa direm oleh daya tahan tubuh. Tapi kalau dia punya respons daya tahan tubuh yang kurang, maka si virus dapat menyebar multiorgan," tutur dr. Aditya.

Inilah mengapa campak pada mereka dalam kelompok rentan, bisa menyebabkan radang selaput otak (ensefalitis) di otak, pneumonia di paru-paru, bahkan infeksi mata seperti keratitis.

Angka kematian akibat komplikasi

Meskipun kasus campak dengan komplikasi berat tidak selalu terjadi pada setiap orang dewasa yang terinfeksi, risiko fatalitasnya tetap tidak bisa diabaikan.

"Kalau dilihat, angka kejadian komplikasi per kasus ternyata tidak tinggi. Alhamdulillah tidak tinggi. Bahkan yang komplikasi di persarafan sampai komplikasi yang menimbulkan kematian, dikatakan 1 per 1.000 kasus," ungkap dr. Aditya.

Meski demikian, ia menuturkan bahwa kerusakan saraf atau radang selaput otak adalah salah satu kondisi gawat darurat yang sangat mengancam jiwa pasien.

Oleh karena itu, tindakan pencegahan sebelum terjadi wabah di lingkungan orang dewasa, seperti vaksin campak, sangat penting. Mengandalkan pengobatan setelah terinfeksi bagi kelompok rentan adalah sebuah pertaruhan nyawa.

Baca juga: Perlukah Orang Dewasa Mengulang Vaksin Campak? Ini Penjelasan Ahli

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau