Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bisakah Antibiotik Menyembuhkan Penyakit Campak?

Kompas.com, 1 April 2026, 14:00 WIB
Nabilla Ramadhian,
Lusia Kus Anna

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Penyakit campak pada orang dewasa disebabkan oleh paparan infeksi virus dari genus Morbillivirus, dan sama sekali bukan akibat invasi bakteri.

Dr. dr. Aditya Susilo, Sp.PD, K-P.T.I, FINASIM mengatakan, penting untuk memahami hal tersebut. Sebab, masih banyak pasien yang keliru, dan justru meminta pemberian antibiotik saat didiagnosis campak di fasilitas kesehatan.

"Antibiotik kan dipakai bukan buat virus, tapi untuk melawan bakteri," jelas dia dalam konferensi "Campak pada Dewasa: Tanda Bahaya dan Penanganan yang Tepat serta Peran Vaksinasi", digelar oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) di Jakarta, Selasa (31/3/2026).

Dokter Aditya melanjutkan, miskonsepsi bahwa antibiotik adalah obat untuk menyembuhkan segala jenis demam tinggi perlu segera diluruskan.

Pasalnya, meminum antibiotik tanpa indikasi medis yang tepat tidak akan memberikan efek penyembuhan apa pun terhadap infeksi virus tersebut.

Baca juga: Antibiotik Tak Lagi Mujarab

Antibiotik bukan untuk membunuh virus

Dokter Aditya menjelaskan, obat golongan antibiotik diciptakan secara spesifik hanya untuk membasmi pertumbuhan bakteri patogen di dalam tubuh manusia.

Obat keras ini tidak memiliki kemampuan untuk memecah struktur materi genetik maupun menghentikan laju replikasi virus campak di peredaran darah.

"Jadi, tidak semua infeksi virus itu ada obatnya. Hanya sedikit sekali yang ada obatnya," ungkap dr. Aditya.

Memaksakan konsumsi antibiotik di awal masa demam justru berisiko tinggi mengganggu keseimbangan flora normal dalam pencernaan orang dewasa.

"Kebanyakan respons virus itu akan kalah dan hancur oleh daya tahan tubuh," sambung dia.

Baca juga: Mobilitas Tinggi, Orang Dewasa Rentan Tertular Campak di Tempat Umum

Ancaman infeksi bakteri sekunder

Lantas, apa yang sebenarnya menjadi dasar pertimbangan utama seorang tenaga medis saat memutuskan untuk memberikan terapi antibiotik pada penderita campak?

Menurut dr. Aditya, jawaban sepenuhnya terletak pada upaya pencegahan dan penanganan komplikasi klinis lanjutan yang mengancam organ vital.

"Tapi kok bisa bakteri ikut-ikutan? Karena infeksi virus tidak jarang menjadi pintu masuk dari infeksi berikutnya," papar dia.

Ketika virus campak menyerang dengan agresif, sistem pertahanan mukosa alami pada saluran pernapasan sering kali mengalami kerusakan struktural.

"Kalau si virus campak ini menimbulkan komplikasi di paru-paru, maka paru-paru yang terdampak bisa mengalami infeksi sekunder atau infeksi tambahan yang berasal dari bakteri," tutur dr. Aditya.

Baca juga: Campak Bisa Sebabkan Pneumonia hingga Radang Otak, Jangan Anggap Penyakit Ringan

Apa yang bisa menyembuhkan campak?

Untuk saat ini, dr. Aditya mengatakan bahwa tidak ada pengobatan antivirus yang spesifik untuk campak. Sebab, virus penyebab campak memiliki sifat self-limiting. Artinya, campak akan mereda dan sembuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu, asalkan tubuh memiliki sistem pertahanan yang bekerja dengan baik. Jadi, menjaga kebugaran sistem imun adalah kunci utama.

Sel-sel darah putih dalam tubuh, khususnya sel limfosit, akan secara aktif mencari dan menghancurkan sel-sel yang telah dibajak oleh virus campak hingga tuntas.

Untuk menjaga daya tahan tubuh, pastikan kamu cukup istirahat, tetap terhidrasi, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, dan mengonsumsi vitamin A dalam dosis tinggi sesuai arahan dokter.

Baca juga: Waspadai Komplikasi Campak pada Anak, dari Gangguan Pendengaran hingga Pneumonia

Jangan sembarangan minum obat tanpa saran dokter

Kemunculan infeksi bakteri tambahan yang berpotensi mematikan, seperti pneumonia atau radang paru-paru akut, merupakan target sesungguhnya dari pemberian antibiotik pada kasus campak.

Dalam situasi kegawatdaruratan ini, antibiotik bertugas secara spesifik menyelamatkan organ paru-paru dari kerusakan struktural lanjutan.

Dengan kata lain, ada kondisi spesifik yang memang membutuhkan intervensi obat keras tersebut demi keselamatan nyawa pasien.

Namun, pemberian terapi pengobatan ini tidak bisa dilakukan sembarangan. Pasien dilarang keras membeli atau mengonsumsi antibiotik secara mandiri di apotek.

Baca juga: Tak Ada Antivirus Khusus, Ini Kunci Penyembuhan Campak

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau