Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cakupan Imunisasi Campak Harus Capai 94 Persen untuk Mencegah KLB

Kompas.com, 2 Maret 2026, 17:05 WIB
Aliyah Shifa Rifai,
Bestari Kumala Dewi

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Imunisasi menjadi kunci utama dalam mencegah penyebaran campak yang memiliki tingkat penularan sangat tinggi.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Barat sekaligus Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp.IPT (K), menjelaskan bahwa untuk mencegah kejadian luar biasa (KLB), cakupan imunisasi campak harus mencapai tingkat tertentu.

Herd immunity-nya dikatakan butuh 94 persen. Artinya cakupan itu harus tinggi dan merata,” ujarnya dalam media briefing IDAI, Sabtu (28/2/2026).

Baca juga: Tak Hanya Ruam, Campak Bisa Melemahkan Sistem Kekebalan Tubuh Anak dan Memicu Penyakit Lain

Imunisasi Tidak Hanya Lindungi Diri Sendiri

Dr. Anggraini menegaskan, vaksinasi tidak hanya melindungi individu, tetapi juga orang di sekitarnya.

Meski seseorang sudah divaksin, risiko penularan tetap ada jika lingkungan sekitarnya belum memiliki kekebalan yang cukup.

Hal ini karena virus campak sangat mudah menyebar sehingga perlindungan harus terbentuk secara kolektif.

“Kita butuh orang-orang sekitar juga terjaga oleh imun terhadap campak,” jelasnya.

Jika cakupan imunisasi rendah, maka potensi terjadinya wabah atau KLB akan meningkat.

Baca juga: Kasus Campak Meningkat Pesat, Menkes Budi Minta Anak Segera Divaksin

Efektivitas Vaksin Meningkat dengan Dosis Lengkap

Anggraini menjelaskan bahwa efektivitas vaksin campak bergantung pada jumlah dosis yang diterima.

Pada satu kali pemberian, efektivitas vaksin berada di kisaran 84–93 persen. 

Namun, jika diberikan sesuai jadwal hingga dua kali, efektivitasnya dapat meningkat hingga sekitar 95–97 persen.

“Kalau sudah dua kali sesuai waktu, efektivitasnya bisa sampai 95 sampai 97 persen,” ujarnya.

Hal ini menunjukkan pentingnya melengkapi dosis imunisasi agar perlindungan terhadap campak menjadi optimal.

Baca juga: Imunisasi MR Jadi Senjata Utama Cegah Campak dan Rubella

Cakupan Rendah Tingkatkan Populasi Rentan

Di samping itu, dr. Anggraini juga menjelaskan dampak dari rendahnya cakupan imunisasi.

Misalnya, dari 500.000 bayi yang lahir, jika hanya 80 persen yang mendapatkan vaksin, maka sekitar 100.000 tidak divaksin.

Dari 400.000 yang telah divaksin, dengan efektivitas sekitar 85 persen, hanya sekitar 340.000 yang benar-benar memiliki kekebalan.

Artinya, meski sebagian besar anak sudah divaksin, tidak semuanya memiliki perlindungan. Akibatnya, masih banyak anak yang tetap rentan terhadap campak.

Kondisi ini membuat tingkat kekebalan kelompok belum tercapai sehingga penularan tetap berisiko terjadi.

“Populasi immunity hanya sekitar 68 persen,” jelasnya.

Angka ini jauh di bawah ambang batas herd immunity sehingga risiko penularan tetap tinggi.

Baca juga: Tips Liburan Aman, IDAI Ingatkan Orangtua Pentingnya Vaksin Anak

Imunisasi Dilakukan Bertahap

Untuk memberikan perlindungan optimal, imunisasi campak dilakukan dalam beberapa tahap.

Di Indonesia, vaksin campak diberikan pertama kali pada usia 9 bulan dalam bentuk vaksin MR (measles-rubella).

Selanjutnya, dosis kedua diberikan pada usia 18 bulan, dan dilanjutkan kembali saat anak berada di kelas 1 sekolah dasar.

Pemberian berulang ini bertujuan untuk meningkatkan kadar antibodi dalam tubuh sehingga perlindungan terhadap virus menjadi lebih kuat.

“Karena ini adalah vaksin, memberikan virus hidup yang dilemahkan. Tentunya membutuhkan dosis, waktu yang tepat, dan diberikan berulang agar antibodi tinggi,” ujar Anggraini.

Baca juga: Campak di Sumenep Meluas, Pentingnya Orangtua Imunisasi Anak

Pentingnya Imunisasi Lengkap

Melihat tingginya tingkat penularan campak, dr. Anggraini mengingatkan pentingnya memastikan imunisasi anak lengkap.

Jika ada imunisasi yang terlewat, orangtua disarankan untuk segera melakukan imunisasi kejar.

Ia juga mendorong kesadaran imunisasi tidak hanya pada anak, tetapi juga kepada para calon pengantin.

Dengan cakupan imunisasi yang tinggi dan merata, risiko penyebaran campak dapat ditekan sehingga mencegah terjadinya wabah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau