Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Vaksin MR (Campak Rubella) Tak Menyebabkan Autisme, Ini Kata IDAI

Kompas.com, 27 Agustus 2025, 14:35 WIB
Ida Setyaningsih

Penulis

KOMPAS.com – Isu mengenai vaksin campak-rubella (MR) yang disebut dapat menimbulkan autisme kembali beredar di media sosial.

Klaim ini membuat sebagian orang tua ragu membawa anaknya untuk imunisasi.

Namun, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa kabar tersebut adalah mitos dan tidak memiliki dasar ilmiah.

Vaksin MR justru terbukti aman dan efektif mencegah penyakit campak dan rubella yang bisa berakibat fatal pada anak.

Baca juga: Kasus Campak Tinggi di Sumenep, Kenali Gejala dan Kelompok yang Rentan Terinfeksi

Asal-usul hoaks vaksin dan autisme

Ketua Satgas Imunisasi IDAI, Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, SpA(K), menjelaskan bahwa isu vaksin menyebabkan autisme berasal dari penelitian lama pada akhir 1990-an.

“Dulu ada penelitian yang mengaitkan vaksin MMR (measles, mumps, rubella) dengan autisme. Tapi penelitian itu hanya melibatkan 12 anak, tidak valid secara ilmiah, dan sudah ditarik dari jurnal. Dokternya juga dicabut izin praktiknya,” ujar Prof Hartono dalam seminar media IDAI, Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak, Rabu (27/8/2025).

Meski sudah dibantah, kabar bohong ini terlanjur menyebar luas dan menimbulkan keraguan masyarakat terhadap imunisasi.

Baca juga: Campak di Sumenep Meluas, Pentingnya Orangtua Imunisasi Anak

Vaksin MR aman dan efektif

Prof Hartono menekankan, vaksin MR yang digunakan di Indonesia berisi virus campak dan rubella yang telah dilemahkan.

Karena itu, vaksin tidak bisa menimbulkan penyakit berat, melainkan merangsang sistem imun anak agar memiliki antibodi.

Prof Hartono juga menekankan bahwa efektivitas vaksin MR sangat tinggi:

  • Satu dosis pada usia 9 bulan memberi perlindungan sekitar 85 persen.
  • Dua dosis (usia 9 bulan dan 18 bulan) memberi perlindungan 95–97 persen.
  • Dosis ketiga di kelas 1 SD (usia sekitar 7 tahun) memperkuat imunitas jangka panjang.

Imunisasi campak jauh lebih efektif dalam mencegah penyakit daripada hanya mengandalkan daya tahan tubuh alami. Tanpa imunisasi, risiko anak terkena campak dan komplikasinya sangat besar,” jelasnya.

Baca juga: Tips dari Dokter Lindungi Anak di Tengah Wabah Campak

Bahaya campak bila tidak imunisasi

Campak bukan penyakit ringan. Prof. Dr. dr. Edi Hartoyo, SpA(K), Ketua UKK Infeksi Penyakit Tropik IDAI, menambahkan bahwa campak bisa menimbulkan komplikasi serius.

“Campak dapat menyebabkan pneumonia hingga radang otak. Komplikasi ini bisa berujung pada kematian, terutama bila anak mengalami gizi buruk atau daya tahan tubuhnya rendah,” kata Prof Edi.

Selain itu, campak juga menurunkan kekebalan tubuh sehingga anak lebih mudah terinfeksi penyakit lain.

Baca juga: Paru dan Otak, Organ Tubuh yang Paling Diserang Campak

Pentingnya melawan hoaks

IDAI mengingatkan, menolak imunisasi karena percaya hoaks justru meningkatkan risiko wabah campak.

Kasus campak masih ditemukan di sejumlah daerah di Indonesia, terutama bila cakupan imunisasi rendah.

“Oleh karena itu, orang tua perlu melengkapi imunisasi anak sesuai jadwal. Jangan ragu karena isu-isu yang tidak terbukti,” tegas Prof Hartono.

Prof Hartono menegaskan bahwa vaksin MR tidak menyebabkan autisme. Klaim tersebut berasal dari penelitian palsu yang sudah dibantah secara global.

Sebaliknya, imunisasi MR adalah langkah penting untuk melindungi anak dari campak dan rubella yang berbahaya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau