KOMPAS.com – Anak yang mengalami campak kerap mengalami penurunan nafsu makan. Kondisi ini dapat terjadi karena infeksi virus memengaruhi berbagai bagian tubuh, termasuk saluran pencernaan.
Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Barat sekaligus Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp.IPT (K), menjelaskan bahwa saat campak, lapisan epitel di tubuh anak mengalami gangguan.
“Pada masa campak biasanya anak tidak ada nafsu makan, karena semua epitel sedang terganggu,” ujarnya dalam media briefing IDAI via Zoom Meeting, Sabtu (28/2/2026).
Baca juga: IDAI Tegaskan Vaksin Campak (MMR) Tidak Sebabkan Autisme, Ini Faktanya
Kondisi ini dapat memicu berbagai gejala, seperti diare, batuk, hingga muntah, yang dapat memperburuk asupan nutrisi dan cairan anak.
Pada beberapa anak, kondisi ini juga membuat tubuh menjadi lebih lemah sehingga membutuhkan perhatian lebih dari orangtua.
Dalam kondisi tersebut, pemenuhan cairan menjadi hal yang sangat penting untuk mencegah dehidrasi.
Dr. Anggraini menyarankan agar anak diberikan cairan yang tidak hanya menggantikan air, tetapi juga elektrolit seperti gula dan garam yang hilang akibat muntah dan diare.
Baca juga: Campak Menular Lewat Udara, Virus Bisa Bertahan Lebih dari 2 Jam
“Cairan terbaik adalah yang bisa menggantikan gula dan garam,” jelasnya.
Beberapa pilihan cairan yang dapat diberikan antara lain larutan gula-garam, air kelapa, dan air sup.
Jenis cairan ini dinilai lebih efektif dalam menjaga keseimbangan cairan tubuh dibandingkan air putih biasa, terutama saat anak mengalami kehilangan cairan dalam jumlah banyak.
Selain itu, pemberian cairan hangat juga dapat membantu memberikan rasa nyaman pada anak yang sedang sakit.
Baca juga: Tak Hanya Ruam, Campak Bisa Melemahkan Sistem Kekebalan Tubuh Anak dan Memicu Penyakit Lain
Pada anak yang mengalami muntah, pemberian cairan tetap perlu dilakukan dengan cara bertahap.
Jika anak muntah setelah minum, orangtua disarankan untuk menunggu sekitar 10 menit sebelum mencoba memberikan cairan kembali.
Cara ini dapat membantu tubuh anak menerima cairan secara perlahan tanpa memicu muntah berulang.
Pemberian cairan sedikit demi sedikit tetapi sering dinilai lebih efektif dibandingkan langsung dalam jumlah banyak.
Baca juga: 4 Pasien Meninggal Dunia dari 8.224 Suspek Campak Tercatat, Ini Gejala dan Risiko Komplikasinya
Selain memastikan asupan cairan, orangtua juga perlu memantau tanda-tanda dehidrasi pada anak.
Salah satu indikator yang dapat diperhatikan adalah frekuensi buang air kecil.
“Usahakan anak tetap buang air kecil setiap tiga sampai empat jam,” ujar dr. Anggraini.
Jika frekuensi buang air kecil berkurang, urine tampak lebih pekat, atau anak terlihat lemas, kondisi ini perlu diwaspadai sebagai tanda dehidrasi.
Dalam beberapa kondisi, campak dapat berkembang menjadi lebih serius dan memerlukan penanganan medis segera.
Baca juga: Mengapa Anak Harus Mendapatkan Vaksin Campak? Ini Penjelasan Kemenkes
Orangtua perlu mewaspadai sejumlah tanda bahaya, seperti muntah dan diare yang tidak berhenti, kejang, bibir atau tubuh tampak kebiruan, anak sulit dibangunkan, sesak napas, hingga tidak mampu minum.
Jika gejala tersebut muncul, anak sebaiknya segera dibawa ke fasilitas kesehatan atau rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Melihat kondisi tersebut, pemenuhan cairan dan pemantauan kondisi anak menjadi langkah penting selama masa sakit.
Dengan penanganan yang tepat, risiko komplikasi akibat campak dapat ditekan dan kondisi anak dapat pulih dengan lebih baik.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang